Selasa, 20 April 2021

Pengabdi Pendidikan Di Perbatasan (Hatiku Tertambat di Alor)

Oleh: Munji Hardani

Cerpen ini dibuat dalam rangka mengikuti kegiatan Lomba Menulis Cerpen Pejuang Pendidikan yang adakan oleh Kreatory pada bulan Maret 2021 dan meraih posisi 19. Selamat Menikmati.


Pengabdi Pendidikan Di Perbatasan

(Hatiku Tertambat di Alor)

“Beda agama, beda pulau. Perbedaan yang cukup kuat jika dilihat dalam peta Indonesia. Alor hanya sebuah titik yang kecil, tetapi dengan kepercayaan diri, Pak Guru mau datang di tempat terpencil, jauh dari kota, sinyal susah dan udara panas…” Itulah penggalan awal dari sebuah surat yang ditulis oleh Sindi. Siswi kelas sebelas itu tidak bisa lagi untuk melanjutkan membaca surat yang dia tulis sendiri. Dia sesenggukkan, kedua pipinya basah oleh air mata. Beberapa siswa lain terlihat ikut menahan air mata. Seketika momen upacara bendera itu menjadi haru biru. Lebih dari separuh guru di barisan depan menundukkan kepala ikut larut dalam suasana. Aku berusaha tetap tegar, mengangkat dagu melawan sinar hangat pagi di hari senin ini. Isi suratnya memang bagus, sehingga menjadi juara satu Lomba Menulis Surat Untuk Guru dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional di sekolah kami. Selepas membaca surat itu, pihak sekolah tak lupa memberikan bingkisan kecil untuknya sebagai hadiah. Ini adalah sebuah ungkapan hati yang tulus, sebuah surat yang ditujukan kepadaku sebagai ucapan terimakasih karena telah mengabdikan diri di pulau ini. Sebuah pulau kecil dengan sejuta keindahan lengkap dengan segala keterbatasan, sebuah tempat yang sudah aku niatkan untuk mendidik anak-anak ini. Pulau perbatasan, ujung negeri dengan jarak bermil-mil dari ibukota Jakarta sana. Sebuah tempat tanpa listrik di siang hari satu paket dengan teriknya matahari yang terasa lebih menyengat di bulan November ini.


Pukul 13.30 WITA, besi tua itu dipukul berulang-ulang sebagai tanda mengakhiri kegiatan belajar mengajar hari ini.

“Pak guru, sebentar kita *pi di tanjung sebelah petik mangga?”, salah satu siswa mengagetkanku dari belakang.

Aku menoleh dan tersenyum kecil, “Pi *deng apa?”.

Dia menjawab dengan mantap, “Deng *sa pu ketinting bapak…”. Aku berfikir sejenak kemudian kami sepakat bertemu jam dua.

Ketinting sudah siap di bibir pantai, mereka memintaku naik lebih dulu. Anak seusia mereka memang sudah terbiasa mengoperasikan perahu kecil seperti ini. Terlihat Putra mulai menyalakan mesin dan pegang kemudi, sementara Airon dengan wadah kecil ditangan kanannya bertugas mengeluarkan air dari perahu akibat percikan air ombak yang masuk.

“Hati-hati anak, pa guru tidak bisa berenang”, kataku sambil terus menikmati air laut yang begitu bening hingga karang warna-warni terlihat jelas dari atas sini.

“Tenang saja bapak, aman…”, jawab Yuma sambil tertawa kecil.

Beginilah salah satu kegiatanku setelah pulang mengajar. Walau terkadang ada rasa rindu pada keluarga dan kampung halaman di pulau Jawa sana, namun melihat senyum tulus mereka, sedikit mengobati rasa rinduku pada kampung halaman.

Pagi ini lebih terik dari biasanya. Jarum pendek di arloji lewat sedikit dari angka tujuh sementera jarum panjang bertengger di angka enam. Memang belum terlalu siang, namun sudah banyak siswa di sekolah. Hari ini giliranku memberikan apel pagi. Ada beberapa hal yang harus aku sampaikan berkaitan dengan hasil rapat Guru dan Kepala Sekolah kemarin.

“Selamat pagi anak-anak”, sapaku.

“Selamat pagi pa guru…”, jawab para siswa serempak.

“Seperti yang kita lihat dan dengar di berita baik di televisi maupun media lain tentang merebaknya Covid-19 ini juga berdampak pada kita. Jadi, kita akan melaksanakan sistem Belajar Dari Rumah atau BDR”, sambungku.

Aku terus menjelaskan kepada siswa tentang pelaksanaan belajar di masa pandemi ini. Mengingat banyaknya siswa yang belum memiliki ponsel, listrik yang belum bisa beroperasi dua puluh empat jam dan juga sinyal yang kurang stabil sehingga diputuskan kepada para guru untuk berjunjung ke rumah-rumah siswa yang dibagi menjadi beberapa kelompok. Tidak lupa aku juga mengingatkan para siswa yang berasal dari desa-desa yang jauh untuk tidak pulang kampung agar mereka tetap tinggal di dekat sekolah seperti biasa.

Air di sungai ini masih kering, aku bisa dengan leluasa melewatinya. Lain halnya di musim penghujan nanti, pasti air bisa meluap sampai paha kaki orang dewasa. Hari ini hari pertama melaksanakan BDR. Aku sudah janji untuk bertemu di salah satu rumah siswa. Jalan menuju rumahnya memang sedikit ekstrim. Harus melewati bukit yang sebagian besar jalannya masih berupa tanah dan batu. Aku harus ekstra hati-hati mengendarai sepeda motor. Salah sedikit saja, bisa jatuh. Tepat di depanku, ada sebuah jalan yang melewati gunung batu yang dibelah. Ini adalah rintangan terakhir sebelum sampai di rumah siswa tersebut.

Dengan motor yang kotor dan kaki yang penuh debu, akhirnya aku sampai juga di sini. Sekitar lima siswa sudah berkumpul di bawah *gudang. Mereka membawa buku, kamus dan juga pena. Kami mulai belajar. Tak lupa aku mengatur tempat duduk mereka agar tidak berhimpitan. Setelah lelah belajar dan sedang beristirahat, salah satu orang tua siswa datang membawa enam kelapa muda ditangannya.

“Siang pak guru…”, sapanya. “Siang juga bapak..”, jawabku.

“Pak guru, bapak ada kelapa muda jadi pak guru minum dulu”, katanya dengan logat khasnya.

Kemudian salah satu dari siswaku mengupas kelapa muda dan kami minum bersama. Demikian hari ke hari aku bergantian ke beberapa kelompok siswa di rumah-rumah mereka.

Musim penghujan sudah mulai datang. Tampaknya musim hujan kali ini menjadi lebih indah dari sebelum-sebelumnya. Hal ini karena bapak Kepala Desa sudah mengumumkan bahwa desa Maritaing sudah bisa menikmati listrik penuh dua puluh empat jam sehari. Aku bahagia sekali karena tidak akan kesulitan lagi saat harus mengajar komputer ke siswa. Biasanya, kami harus membeli bensin kemudian menyalakan genset untuk bisa belajar di ruang komputer. Tentu sekarang akan menjadi lebih mudah karena tidak harus menunggu malam hari untuk mengerjakan tugas. Keadaan baik ini membuatku mengajukan strategi baru dalam pelaksanaan kegiatan BDR. Atas persetujuan Kepala Sekolah dan WakaSek Kurikulum, aku melaksanakan kegiatan BDR secara daring. Menurutku ini kesempatan yang bagus agar para siswa lebih dekat dengan penggunaan teknologi.

Hari ini aku mulai mendata nomor ponsel siswa untuk dimasukkan ke dalam grup belajar. Tidak semua siswa memiliki telepon genggam sehingga aku membagi mereka menjadi beberapa kelompok seperti sebelumnya. Pelan-pelan aku mulai melatih mereka menggunakan beberapa fitur yang nantinya akan digunakan dalam pembelajaran dari mulai membuka file materi, mengerjakan tugas secara online, mengirim hasil kerja, dan sebagainya. Hari berikutnya aku coba mengecek kesiapan mereka dengan menyapa di grup belajar. Satu persatu merespon dengan baik. Setelah itu, aku coba memberikan  materi dan kuisioner review. Ternyata lebih dari tujuh puluh persen siswa mengikuti dengan baik. Dengan adanya fasilitas yang membaik ini, aku mengharapkan pendidikan yang lebih baik untuk mereka. Walaupun di kampung jauh dari kota tapi aku ingin mereka memiliki pengalaman yang tidak kalah dengan para siswa di kota.

Hari ini hari Jum’at, aku bergegas meminta ijin dari Kepala Sekolah untuk melaksanakan salat Jumat di kota sekaligus menemui istriku. Perjalanan kurang lebih seratus kilometer aku tempuh dengan sepeda motor. Setelah melewati bukit ke tiga, aku harus berhenti sejenak karena ada batu besar di tengah jalan. Kemungkinan batu itu jatuh dari atas bukit. Setelah kurang lebih satu jam menunggu alat berat menyingkirkan batu itu, akhirnya aku dapat melewati jalan tersebut. Aku beristirahat di pondok kecil di tepi jalan. Ada beberapa orang yang juga singgah di sini. Meskipun pondok ini di hutan, namun tempat ini menjadi tempat favorit melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan. Aku sudah sampai di kota. Masih dengan pakaian seragamnya, istriku menyambutku dengan gembira. Nampaknya dia juga baru pulang dari sekolah. Untungnya tempat tugas istriku masih bisa dijangkau hingga tidak perlu menginap di dekat sekolah sepertiku.

Hari senin pagi. Aku bangun pukul empat. Meskipun BDR, hari ini aku akan berangkat ke sekolah karena ada beberapa hal yang harus disampaikan terkait dengan pembelajaran siswa. Istriku sibuk menyiapkan bekal untukku, aku sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam ranselku. Setelah mandi dan salat Subuh, aku berpamitan. Aku bergegas menaiki motor, tidak lupa istriku mencium tanganku dan mendo’akan keselamatan perjalananku. Tepat dua setengah jam akhirnya aku sampai di  tempat tugas. Singgah di tempat menginap untuk menukar pakaian dan tas, aku langsung menuju ke sekolah. Aku menggerak-gerakkan leherku tanda lelah karena menempuh perjalanan dari pagi tadi. Namun lelahku selalu menghilang saat melihat antusias siswa- siswiku saat mereka belajar disekolah.

“Selamat pagi pak guru…”, sapa Clara, siswi kelas dua belas. “Pagi…”, balasku.

“Pak guru baru dari Kalabahi ni?”, tanyanya lagi. “Iya, *su bel belum?”, tanyaku.


Kemudian Clara memukul lonceng besi di depan meja piket guru dengan keras. Dan aku mulai mengarahkan siswa dengan tetap mengatur jarak. Mereka semua juga rapih memakai masker abu2 berlogo Tutwuri.

Malam ini bulan terang, bulat sempurna. Dengan seorang kawan guru, aku menuju dermaga yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Beberapa orang terlihat asik menarik-narik kail pancing, seolah sedang bermain-main dengan ikan-ikan di bawah sana. Aku berjalan hingga ujung dermaga, terlihat jelas di seberang sana lampu- lampu Timor Leste menyala kerlap-kerlip. Aku menghirup udara malam, menutup mata dan meyakinkan diri, inilah tempat yang aku pilih untuk mengabdikan diri mendidik anak-anak negeri. Jika melihat dari suku, agama dan budaya, tentu aku bukan salah satu dari mereka. Tapi jika engkau melihat dari sisi keberadaanku sebagai pendidik, aku ada bersama mereka. Aku tersenyum ikhlas, untuk segala hal yang telah Tuhan berikan hingga saat ini.

- Sekian-




Keterangan:

*pi = pergi

*deng = dengan

*sa pu ketinting = saya punya perahu (kecil) = perahu milik saya

*gudang = bangunan segi empat beratap jerami tanpa dinding. Tempat bersantai dan di bagian atas digunakan untuk menyimpan hasil panen.

*su = sudah

Sabtu, 23 Januari 2016

Kutulis cerita ini dari kisah nyata
230116
Teman, Kubawa Hatimu Sampai Hari Ini

Bel tanda masuk berbunyi, hari ini baru beberapa hari saja aku menjalani peranku sebagai siswa baru Sekolah Menengah Pertama. Menjadi siswa kelas satu SMP dengan segala hal baru yang harus aku pelajari, guru yang berbeda untuk setiap pelajaran, lebih banyak buku yang harus aku bawa setiap harinya... dan tentunya dengan segala kepolosan dan keadaan yang sedikit membingungkanku. Ya, membingungkan. Aku bingung karena hanya beberapa teman saja yang baru aku kenal. Tapi aku harus bisa memulai semuanya dengan baik, harus nyaman dengan lingkungan dan keadaan yang baru ini.
                             (Gambar ilustrasi- spoiled google)
Aku menuju meja deret dua, di sana aku duduk dengan teman sebangkuku. Namanya Wisnu. Kebetulan dia tetangga tanteku, aku pernah ketemu dia sebelumnya. Praktis jadilah dia anak pertama yang aku kenal di kelas ini. Saat hendak menuju meja itulah, tiba – tiba seorang anak lincah, kurus tinggi, berambut lurus sedikit gondrong dengan senyum lebar menyapa dan mengulurkan tangan. “Kamu Munji kan? Aku nanang. Kakak kita juga teman sekelas di SMA. Kakakmu yang kembar itu kan?” sepertinya masih banyak lagi kalimat yang dia ucapkan, bahkan terlalu banyak untuk pertemuan pertama dari seseorang yang ingin berteman, yang kemudian hari dia menjadi sahabatku bahkan seperti saudara.

Itulah sepenggal perkenalanku dengan seorang teman yang banyak mengalah kepadaku selama persahabatan kami. Dari situ kemudian Nanang menjadi teman sebangkuku sampai kami lulus. Rasanya baru kemarin peristiwa itu terjadi, bahkan aku masih mengingat dengan jelas bagaimana raut wajahnya, sikap ceria dan tingkah polahnya yang hampir tidak pernah diam. Semua kenangan itu terus ada di kepalaku, sampai aku tiba di rumahnya. Tepat jam tujuh pagi aku sampai di sana. Aku sengaja datang sepagi ini ke rumahnya. “Akh, sahabat macam apa aku ini. ternyata sudah banyak yang lebih dulu datang menemuimu kawan...” Padahal aku sengaja ijin hari ini, aku ijin untuk berangkat mengajar agak siang, biar aku bisa menemuinya pagi - pagi.

Aku mencari tempat yang lega untuk memarkir motorku. Kulepas jaket dan helmku. “kenapa air mataku mulai merembas kawan?. Padahal tadi sudah aku tahan saat di pertigaan rumahmu  mulai disambut kain putih yang dikibar dengan seutas bambu”. Aku coba tegar, tapi tetap saja seperti ada yang menahan langkah kakiku. Aku tatap dalam – dalam atap rumahnya, masih sama. Kenapa aku harus sedih?. Aku beranikan masuk ke palataran rumah temanku itu... kursi - kursi tersusun rapih. Satu per satu aku menyalami tangan – tangan dari orang – orang yang sebagian besar menggunakan pakaian serba hitam. Di kursi pojok aku lihat kakak ipar dan keponakan kecilmu itu terlihat murung. Dia langsung menyalami tanganku dan berkata “Mas, kami sekeluarga sudah berusaha. Tapi... mungkin Alloh berkehendak lain”. Bibirku masih belum bisa keluar sepatah kata-pun.

Aku duduk di kursi pelayat dengan tatapan kosong, sementara pelayat lain mulai berdatangan. “Aku sudah di depan rumahmu kawan... Kenapa kamu tetap juga tidak keluar menemuiku? Tidak menyuruhku masuk?”. Dengan pelan aku melangkah dengan kepala tertunduk lesu. Saat kuangkat kepalaku, mataku beradu. Beradu dengan mata basah kakaknya. Histeria terjadi, kakaknya memelukku sambil teriak keras... membuat perhatian sebagian besar pelayat tertuju pada kami. “Nanang nji... Nanang sudah tidak ada. Do’akan Nanang ya... biar dia tenang. Diampuni segala salah dosanya”. Saat itulah, aku sadar kalau teman baikku itu memang sudah benar- benar pergi. Selamanya, tak kembali. Aku tolehkan kepalaku ke sebelah kiri, aku melihat mayat terbujur kaku terbungkus kafan putih. Hanya beberapa kata yang keluar dari mulutku setelah melihat temanku itu tak bergerak sama sekali... “Nanang kenapa mba?”. “Dia sakit... sudah dioperasi dua kali. Kamu yang sehat – sehat... jaga kesehatan”. Aku begeser menemui ibunya yang diam dengan tatapan penuh kehilangan. Aku menyalaminya dan pamit pulang.
(Gambar ilustrasi- spoiled google)
Aku baru sadar ternyata persahabatan kami sudah lebih dari lima belas tahun. Ada penyesalan yang sangat aku rasakan. Aku runtut lagi kapan terakhir aku ketemu langsung dengannya. Ternyata sudah tiga tahun, saat menghadiri pernikahannya. Kami memang jarang bertemu selepas SMP karena aku harus pindah ke kota lain untuk melanjutkan sekolah, pindah ke Ibu kota untuk bekerja, pindah lagi untuk kuliah dan seterusnya . Hanya beberapa kali saja kami bertemu. Tapi dia selalu ke rumahku. Demikian juga aku, aku sering ke rumahnya walaupun jarang sekali berhasil menemuinya di rumah. Sesekali kami bertemu di jalan. Sempat terfikir “Begitu susahnyakah untuk bertemu? Apakah aku terlalu mengejar karir sehingga banyak hal lain yang tidak aku lakukan”. Mungkin benar, saat itu memang aku  memang sedang berjuang mengejar cita – citaku. “Tapi aku tidak pernah melupakanmu kawan. Aku selalu menanyakan kabarmu pada ibu dan kakakmu. Tapi jujur, aku sedikit mengabaikanmu saat kau sedang berjuang keras dengan sakitmu. Saat itu banyak sekali pekerjaan yang aku lakukan hingga aku menunda untuk menjengukmu...”

“Nanang sedang sakit... ayo kapan kita tengok?” demikian kata mamahku. “Minggu depan lah, masih banyak kerjaan. Pas dia sudah pulang di rumah saja nanti...”, aku menjawab seolah semua akan baik – baik saja. Hingga sore itu aku dengar namanya disebut lewat pengeras suara masjid. Saat itulah aku benar- benar menyesali semuanya. Semua sudah terjadi. Dia telah pulang lebih dulu...

“Besok aku pergi kawan... aku bertugas mengajar di tempat yang jauh. Jauh dari tempat kita bermain dulu. Jauh dari jalan yang sering kita lewati. Jauh dari kampung halaman kita ini. Jauh dari sekolah tempat kita belajar dulu...”. Aku diantar kakak iparnya ke makamnya. Diatas tanah yang masih basah itu. Aku pamit dengan mengusap batu nisannya. “Namamu terukir di batu ini kawan, tapi hatimu dan persahabatan kita, akan selalu aku bawa. Maafkan aku mengabaikanmu di saat – saat terakhirmu. Bismillah, Alloh menyayangimu”. 
                                                           
                                                           (Gambar ilustrasi- spoiled google)

Minggu, 13 September 2015

Mimpi
(Aku Yakin Rasa Itu Akan Pergi)
030715

“Melambung jauh, terbang tinggi bersama mimpi..........
........ Setelah aku sadar diri, kau telah jauh pergi. Tinggalkan mimpi yang tiada bertepi”

Mimpi. Aku memang menyukai lagu ini. Sering aku mendengarkannya berulang kali. Tapi entah kenapa hari ini aku memutarnya lebih banyak dari biasanya. Syair pada lagu ini benar – benar mampu menggambarkan perasaanku saat ini. Aku merasa kamu akan pergi jauh dari hatiku, saat aku tidak lagi ada di dekatmu.

Delapan bulan yang lalu kamu tiba – tiba hadir, masuk ke dalam kehidupanku dimana saat itu aku masih merasa bebas dan sangat bahagia dengan kesendirianku. Aku mengenalmu dengan baik sejak kita kecil dulu, jadi belum ada rasa apapun ketika kamu mulai hadir. Waktu membuat kita menjadi dekat. Kedekatan itulah yang membuat perasaanku menjadi lain. Aku mulai menyukaimu. Bagaimana bisa aku menjadi begitu memikirkanmu, bahkan aku tidak tahu kapan perasaan itu mulai muncul. Sering aku bergelut dengan hatiku sendiri dengan pertanyaan yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya tapi berusaha aku tepis; “Benarkah aku mulai menyukainya?”. Dan dengan mati – matian aku menyangkalnya. Tapi saat ini kamu begitu indah di mataku, terlalu naif jika rasa ini aku abaikan begitu saja. Entah kenapa.... “Tuhan, kenapa rasa ini harus ada?”
Hari ini kita berdua menikmati indahnya puncak Sikunir. Menikmati sejuknya angin pegunungan yang masuk hingga ke ulu hati. Aku menunggu dinginnya angin ini menjalar ke seluruh tubuhku, hingga sejuknya masuk ke otakku. Berharap perasaan sayangku terbang bersama angin ini agar aku tak lagi memikirkanmu. Berharap rasa cinta di hatiku beku agar aku tak lagi menginginkanmu. Dan saat mataku mulai terbuka, ternyata rasa itu masih ada. “Indah sekali ya?”, dia mulai membuka percakapan. Aku Cuma menjawab singkat, “Iya” dan menggangguk pelan. Aku tidak bisa berkata lebih banyak lagi. Seandainya kamu tahu, keindahan alam ini seperti keindahanmu di mataku.

Kesejukkan angin gunung ini berangsur mulai berganti dengan sinar – sinar yang terang nan hangat. Matahari mulai menghangatkan jiwa dan hatiku. Seolah dia tahu betapa suasana hangat seperti ini bersamamu ingin aku hentikan sejenak. Agar aku bisa memandang wajahmu lebih lama, melihat senyummu lebih lama dan menatap matamu lebih lama. Semua terasa terlalu singkat jika kita bersama.
“Abis ini, kita kemana lagi?”
“coba aku liat mapnya”.
Kemudian dia menyodorkan brosur peta lokasi wisata yang petugas berikan di pintu masuk kemarin. Kami memang sengaja datang dari hari kemarin siang, membuat kemah dan bermalam di sini. Rencana yang sempurna, kami pergi berdua saja.
Setelah aku perhatikan sejenak brosur itu, aku putuskan untuk menikmati telaga Warna. Ternyata dia setuju. Begitulah dia, selalu mengiyakan apa yang aku inginkan. Aku juga tidak tahu kenapa dia begitu baik kepadaku. Seandainya dia tahu isi hatiku.
Kami menelusur jalan halus yang berkelok dan sedikit naik turun. Akhirnya kami sampai juga di telaga ini. Pancaran sinar matahari memantul dari telaga. Membuat air di telaga ini seolah bersinar – sinar, menambahkan keindahan padaku yang sedang asyik menikmatinya.
“Kenapa kamu pilih tempat ini? Hmmm.... padahal banyak banget pilihan tempat di sini. Misalnya kawah Cikidang yang menjadi andalan...”.
“Coba lihat ke tengah telaga ini... sebelah sana (aku mulai menuntun tangannya). Ibarat sebuah hati, itu adalah hati yang diingnkan oleh setiap manusia. Hati yang tenang. Setiap manusia selalu menginginkan ketenangan. Saat manusia punya sahabat, dia berharap agar bahagia. Saat mereka mencari pekerjaan yang baik, mereka berharap akan bahagia dengan upah yang mereka dapatkan....”
“Terus, apa hubungannya dengan ketenangan yang tadi kamu katakan itu?”
“Coba telisik lebih dalam lagi, apa efek terbesar dari sebuah kebahagiaan? Itu adalah ketenangan. Hati dan jiwa menjadi tenang. Aku ingin seperti air di telaga itu. Menjadi hati yang tenang”.
“Oh... begitu. Akh, kamu terlalu dibawa perasaan!”
“Hahahaha....”. kami tertawa bersama.

Kami putuskan sore itu untuk pulang, menyudahi perjalanan yang sudah kami rencanakan dengan matang. Sepanjang perjalanan, aku putuskan untuk tidak melewatkan setiap detail percakapan. Aku terus memperhatikannya di antara hutan – hutan yang kmai terobos, di antara asap gunung yang berhembus dingin. Aku merasa ini adalah perjalanan terakhirku dengannya sebelum aku pergi yang aku sendiri enggan untuk ditanya “kapan kembali?”, aku bahkan belum memikirkan apakah aku akan kembali atau tidak. Mungkin aku akan pulang jika semua keadaan di sini menjadi lebih baik dalam tatanan pskologisku. Terlalu banyak hal yang aku lalui akhir – akhir ini. Kalau ingat hal itu tentu aku sangat bersyukur bisa memilikimu di akhir waktu sebelum kepergianku. Rasanya aku tidak akan mengungkapkan perasaanku sekarang, aku belum sanggup kamu berubah jika aku mengungkapkannya.
“Laper, kita makan dimana?”
“Di mana ya.., kamu mau makan apa?”
“Apa ajalah, yang anget – anget aja. Dingin banget soalnya”
Aku melihatmu dengan senyum, berharap ini bukan perjalanan terakhir kami. Suap – demi suap, kamu terlihat menikmati sup ini. Sementara aku, makanan ini terasa tertahan di kerongkongan saat mengingat kalau aku akan meninggalkanmu, meninggalkan kebersamaan kita yang baru sebentar. Dan aku sudah tidak peduli lagi apa status hubungan ini. yang jelas, aku bahagia denganmu. Sangat bahagia saat di dekatmu dan menjadi tenang. Seperti ketenangan telaga itu yang aku ungkapkan padamu siang tadi.
Kamu tersenyum padaku sebelum akhirnya kami berpisah ke rumah masing – masing. Aku melihat jam dinding balaiku dan sudah menunjukan tepat jam delapan malam. Lelah sekali rasanya, dan tentu aku juga lelah memikirkanmu. Karena aku sayang kamu. Tapi percuma saja aku ungkapkan, itu hanya akan membuat kebersamaan ini menjadi tidak nyaman. Aku tidak mau di akhir keberadaanku di sini, akan membuat semuanya menjadi berantakan.
Aku melihat foto – foto yang kamu kirimkan lewat inbox sosial media. Aku tersenyum membayangkan polah lucu ita di foto itu, tapi setelahnya perasaanku menjadi tidak menentu. Aku tidak tahu, perasan apa ini sebenarnya..
Aku tidak menyalahkanmu yang tiba – tiba hadir. Tidak pula menyalahkan perasaanku. Sudahlah, aku terlalu lelah hari ini. “Tuhan pejamkan mataku malam ini, dan bangunkan kembali esok dengan perasaan yang lebih ringan. Aamiin”. Dan akupun tertidur.

-Terkadang, sesuatu menjadi lebih indah saat kita menutup mata. Meskipun kita menyadari itu hanya mimpi. Tapi setidaknya itu membuat kita bahagia, walau hanya sementara-


Kamis, 25 Juni 2015

Aku Yang Terbagi
Munji Hardani/ 200615
“Aku begitu sangat bahagia denganmu, tapi aku juga sangat nyaman bersamanya”... itulah sebuah perasaan yang aku tuangkan dalam kalimat yang terus ada di fikiranku. Saat ini aku duduk sendiri di sebuah bangku taman di pagi yang cerah. Mungkin sudah dua jam lamanya aku memandangi sisi jalan di seberang taman yang terus silih berganti dilewati, semua orang datang dan pergi melewati jalan itu. Hanya sisa telapak alas kaki yang tertinggal saja, atau bahkan tak berbekas sama sekali. Seandainya hatiku bisa seperti itu, tidak membekas walau kau menginjak terlalu keras. Tapi hatiku bukanlah jalan di seberang taman itu. Hatiku tetap bisa menyimpan kenangan walau tidak pada setiap wanita yang singgah padaku.
Semua mungkin akan baik – baik saja jika hanya ada satu cinta yang membekas di hatiku. Tapi ini benar – benar di luar kuasaku. Jika kamu merasa sakit karena aku dengannya, lalu bagaimana dengan dia saat aku denganmu? Jika kalian menganggapku orang yang paling jahat karena tidak menjalaninya bersama, justru aku akan menjadi orang yang paling jahat jika memilih satu di antara kalian berdua. Jika kalian bertanya siapa pihak yang paling tersakiti, akulah orangnya. Aku tidak bisa membagi hatiku karena kalian memang benar  - benar menempati ruang sama besar di hatiku. Jika aku memilih satu diantara kalian, aku akan sangat sakit saat harus melihat orang yang aku cintai patah hati. Jika aku harus pergi untuk tidak memilih siapapun, tentu aku akan merasa dua kali lebih sakit karena harus melupakan kalian berdua dalam satu waktu.
Aku terus terdiam di bangku ini, memandangi belalang yang terus melompat di atas rumput hijau yang tenyata bisa menusuk seperti jarum jika diraba dengan pelan. Tapi belalang itu tidak merasakan sakit, mungkin warna hijau itu terlihat lebih indah dari pada runcingnya ujung rumput – rumput itu. Belalang itu terus melesak melewati rumput yag rimbun kemudian dia terhadang pada sebuah got kecil. Dia berhenti sejenak seperti berfikir akan melanjutkan perjalanannya atau mundur saja. Aku ikut penasaran melihat tingkahnya, kira – kira langkah apa yang akan dia pilih. Terlihat belalang itu mulai bergerak mundur ke belakang tanpa membalikkan badan. Tanpa sadar bibirku berucap “Akh, payah sekali dia....!”. Tapi sesaat kemudian mataku terbelalak ketika tiba – tiba belalang itu melompat tinggi dan berhasil melewati got itu. Ternyata tadi dia mengambil ancang – ancang. Aku kira dia sudah menyerah dan mundur. Belum surut keherananku, dari arah yang berlawanan terlihat seekor katak yang tiba – tiba saja melompat namun sayangnya dia masuk got. Tanpa sadar aku kembali berucap “Akh, sial!”
(doc. google)
Kepalaku mengernyit mengingat dua peristiwa tadi, belalang berhasil melewati got itu. Dia terlihat penuh perhitungan, hati – hati dan penuh keyakinan. Sementara katak yang melompat dengan tiba – tiba, ternyata tidak berhasil. Mungkin Tuhan memberikan pelajaran dari peristiwa kecil tadi. Bukan masalah berhasil atau gagal, tapi yang terpenting adalah sebuah keberanian untuk mengambil sebuah keputusan. Usahakan dengan sungguh – sungguh, dengan ancang – ancang yang bagus. Atau serta merta saja dan lakukan. Ya, mau jadi katak atau belalang yang terpenting adalah “keputusan”. Katak dan belalang saja tidak hanya menunggu sampai got merapat tanpa celah. Kenapa aku seolah hanya menunggu agar masalah ini selesai dengan sendirinya?
Aku bergegas meninggalkan taman itu, menuju pada dua hati yang sedang menunggu keputusanku. Bel pintu sudah kupencet untuk kali yang ke-tiga. Keluarlah wanita bersahaja dengan senyum tulus. Sebuah ketulusan yang sebenarnya, tanpa dibuat – buat. Sebuah hati yang dengan sabar menanti keputusanku apapun jawabannya. Sebuah hati yang banyak berkorban. “Aku.... tidak bisa menjalaninya denganmu. Maafkan aku”. Wajah yang tertunduk dan mulai kulihat butiran air mata jatuh satu – persatu. Kepahitan yang sangat terlihat, sebuah perasaan kecewa yang jelas tergambar. Kami terpaku dalam jarum jam yang terus bergerak. Lama sekali kami memahami dalam kosong. Tapi semua sudah terucap. Jarum pendek di jam dinding itu sudah bergerak maju, dia mulai mengangkat wajahnya dan tersenyum. Tanpa gemetar dia berkata “Selamat, kamu sudah mampu bergerak. Bergelut dengan ini, tentu sangat sulit kan?”. Kami berdua tersenyum, semoga ini menjadi sejarah pendewasaan yang kuat. Saat aku melangkah pergi dari rumah itu, aku tidak berani lagi menengok ke belakang. Karena aku yakin, air matanya kembali menggenang dengan kata pisah ini.
Belum usai, ada satu hati lagi yang sedang menungguku di sana. Seorang wanita ceria yang membuat hari – hariku sangat berwarna. Seseorang yang membuat suasana menjadi ramai dan hangat. Sebuah kenyamanan yang selalu dia berikan. Kami bertemu di sebuah tempat makan di mana untuk pertama kalinya kami terpaut pada perasaan cinta. Dengan girang dia berkata “Hei..., kemana saja. Lama sekali. Kangen...”. Namun sesaat kemudian raut mukanya mulai berubah perlahan. Seolah dia tahu kalau aku akan mengatakan hal yang penting.. “Aku sangat nyaman denganmu. Tapi maaf sekali, aku tidak bisa lagi denganmu”. Dai mematung untuk beberapa saat setelah kata – kata itu keluar dari mulutku. Dia mulai memalingkan wajahnya dan jelas sekali dia menangis sesenggukkan. Baru pertama ini, aku melihatnya menangis. Seseorang yang lebih banyak tertawa ceria, aku membuatnya menangis di hadapanku. Saat dia berbalik lagi, aku melihat wajahnya benar – benar sembab berurai tangis. Dengan sesenggukkan aku mendengarnya jelas “kalau ini memang keputusanmu, semoga kamu bahagia dengannya”

Mereka tidak tahu kalau aku tidak memilih satu di antara keduanya. Aku tidak ingin menyakiti salah satunya. Kalaupun aku memilih, tentu tidak bahagia karena aku akan kehilangan salah satu. Mungkin lebih baik begini. Aku kembali terbersit... apakah ini keputusan belalang atau katak? Biar waktu saja yang menguraikannya. Karena waktu semuanya akan sembuh, karena waktu semua akan kembali, karena waktu semua akan pergi. Aku percaya Tuhanlah yang memberikan perasaan cinta. Tuhan pula yang akan mencabutnya kembali, jika Dia menginginkannya. Dan Tuhanlah yang membolak – balikkan hati dan perasaan manusia. Aku akan pergi, menjalani keputusan yang aku ambil. Aku akan pergi di suatu tempat baru dengan kehidupan yang baru. Jika di sana adalah jodohku, mungkin aku adalah si belalang yang mujur. Tapi jika ternyata aku jatuh ke got .... “Maka Tuhan..., pilihkanlah salah satu di antara mereka menjadi jodohku dan menarikku kembali menyusuri rumput hijau- meninggalkan got itu”.
Percakapan Aku Dan Emak
Munji Hardani/ 200615

..................................................................
“Aku ingin kuliah ma...”
“Tidak ada yang menyuruhmu bekerja se-dini ini. Kalau mau kuliah, pulang& kuliahlah dengan tekun sampai selesai, jangan putus di tengah jalan karena kamu yang menginginkan sendiri. Kalau mau bekerja, tetap di sana& bekerjalah”
“Aku ambil jurusan guru bahasa Inggris ma...”
“Kamu yang pilih, jalanilah sampai akhir”
“Aku diterima di RR* ma, siaran di sana”
“Kerjakanlah, itu pekerjaan yang baik dan halal. Dari situ kamu akan menemukan banyak pengalaman berharga”
“Aku mulai besok ngajar di bimbel ma...”
“Itu bagus, biar kamu terus ingat ilmu yang didapat selama kuliah. Itu bisa menjadi jembatan untuk mengajar di sekolah”
“Aku diminta mengajar di sekolah ma... Berarti beberapa hari dalam satu minggu, aku harus lintas kabupaten”
“Jika kamu yakin mampu, pasti bisa jalani dua – duanya. Yang penting jaga kesehatan dan selalu ingat Allah saat berkendara”
“Aku mau berhenti siaran ma..., mau mengajar saja”
“Ya, kamu yang memilih. Kamu yang menjalani, kamu tau yang terbaik untukmu. Kalau itu sudah keputusanmu, tekunilah”
“Aku besok mau tes untuk mengajar di luar Jawa ma... kalau pulang dalam satu hari, berarti belum lolos. Tapi kalau sampai dua hari berarti lolos”
“Ini baju untuk dua hari, InsyaAllah lolos”
“Aku tugas di Kupang ma..., satu tahun”
“Kerjakan dan jalanilah di manapun kamu hidup. Merendahlah – jangan sombong. Jangan lupakan sholat”
“Aku harus kuliah lagi ma...”
“Ya, fokuslah. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu. Belajarlah dulu, jangan fikirkan yang lain. Bersabarlah, kalau sudah waktunya... nanti kamu akan mendapatkan seperti yang lain dapatkan”
“Aku kerja di hotel ma....”
“Kerjakanlah dulu, yang penting halal. Setidaknya itu dapat meningkatkan kemampuanmu di bidang lain”
“Aku keluar kerja ma...”
“Tidak apa – apa, istirahatlah dulu... Kamu sudah terlalu keras berusaha. Rehat sejenak. Tenangkan pikiran. Sehatkan badan.”
“Aku ditawari mengajar ma, tapi sekolah kecil”
“Terimalah, jangan pikirkan materi. Niatkan ibadah”
“Aku mau ikut tes untuk mengajar luar Jawa lagi ma... tapi untuk waktu yang lama, bukan lagi setahun”
“Ya, aku berdo’a untuk cita – citamu. Apapun, selama itu baik... semoga tercapai”
“Aku diterima di Alor ma ...”
“Berbahagialah. Bekerjalah – mengajarlah dengan baik. Banyak sekali orang yang sedang berjuang tapi belum mendapatkan kesempatan sepertimu. Jangan lupakan siapa yang memberikanmu semua ini. Tetap beribadah, jangan lupa sholat”.
..............................................................
Dan ceritanya masih akan terus berlanjut selama mamaku masih diberi umur panjang. InsyaAllah, Aamiin.
Begitulah, orang tua selalu mendukung apa yang kita lakukan. Memberi semangat saat kita lemah, memberi arahan saat kita tidak tahu, berusaha meyakinkan saat kita ragu, mengingatkan saat kita lalai& memberi do’a tanpa putus. Tapi mereka tidak bisa berbuat lebih jauh dari itu, karena tetap kita yang memutuskan dan menjalani hidup kita sendiri. Jika hidup seperti lomba lari, maka mereka adalah suporter utama yang paling setia mendukung kita. Dan sebesar apapun motivasi yang diberikan, mereka hanya mampu melakukannya di luar garis. Tetap kita yang harus berlari, harus berjuang mencapai puncak untuk hidup kita sendiri. Saat kita jatuh, tengoklah sejenak wajah mereka di luar garis. Kemudian palingkan kembali wajahmu ke depan& kembalilah berlari, maka kamu akan mendapati mereka mengayunkan bendera kemenangan di garis finish.

Masih banyak -percakapan aku dan emak- yang belum aku tulis... Tapi yang pasti, orang tua tidak pernah menampakkan rasa sedihnya di hadapan kita. Seperti ketika aku berkata, “Malam ini aku ada jadwal siaran ma...”.
Dengan tersenyum dia menjawab “Ini mantelnya nak, berangkatlah. Itu adalah tugas dan amanah yang harus dikerjakan. InsyaAllah aman”. Walaupun akhirnya aku tahu, dia menangis dalam sholatnya dan tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan anaknya yang menempuh perjalanan malam 40 kilo meter dalam keadaan hujan lebat”.
Begitu juga ketika aku benar – benar terpuruk dan menangis di pangkuannya seraya berkata, “Dia besok menikah ma...”.
Dengan bijak mamaku menjawab, “Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Belum jodoh. Toh kalian sudah berusaha. Selama apapun menjalin hubungan, kalau bukan jodohnya.. mau bagaimana lagi. Tetaplah fokus pada cita – citamu. Kamu sendiri yang bilang untuk tidak memikirkan hal itu sebelum cita – citamu tercapai. Mungkin ini adalah cara Alloh memberikan kesempatan itu. Setiap manusia sudah ditakdirkan dengan jodohnya masing – masing”. Seolah perkataannya tidak tidak ada gurat kesedihan. Padahal aku tahu, dia mengucapkannya dengan suara gemetar. Sementara aku, masih di pangkuannya sambil menatap kosong. Dan rasa sakit masih membekas, sampai setahun berlalu.

Lalu bagaimana dengan bapakku? akh, itu jangan ditanya. Dia punya cara sendiri untuk mendukungku. Tidak terhitung sudah berapa kali bapa menunggu dan menjemputku sampai malam dari banyak tes yang aku ikuti. Tidak terhitung berapa banyak Bapak harus bangun pagi dan mengantarku kala itu, dengan sepeda onthel kesayangannya tentunya. Ditemani segelas kopi dan sebungkus rokok di kursi kesayangannya di sudut ruangan itu, aku tahu Bapak sedang memikirkan anak - anaknya lebih jauh dari yang aku fikirkan.


Jumat, 14 Maret 2014

Kosong


KOSONG (Rantai Cinta 3)

150314

Banyak hal yang terjadi dalam empat tahun. Aku kembali setelah berliku pengalaman dan sejuta cerita lain yang sebenarnya bisa saja mengubur ceritaku tentang rantai cinta. Memang benar, perasaanku kini sudah sangat berubah. Aku tidak lagi mengagumi Cherryl seperti dulu. Aku sama sekali tidak lagi mengaharapkan pertemuanku dengannya, apalagi memimmpikannya berada di sampingku. Sekarang aku benar – benar merasa lega, perasaanku lebih ringan dan fikiranku lebih tenang.

Tadi malam aku membuka akunnya di dunia maya. Akun miliknya bernuansa barat, maklum setelah pindah ke kota kelahirannya dia memilih untuk melanjutkan kuliahnya di Luar Negeri. Aku lihat semua tentang dia, benar sekali banyak hal yang bisa terjadi dalam empat tahun. Dan perasaanku, benar – benar berubah. Aku melihatnya hanya sebagai cerita masa lalu yang sama sekali tidak berpengaruh pada kehidupanku sekarang. Aku merasa, itulah hidupnya dan inilah hidupku yang tidak bisa dibandingkan atau dipaksakan untuk ‘berjodoh’. Mungkin memang kami hanya ditakdirkan hanya sebatas itu, tapi untuk perasaan sakit hati… masih adakah? Untuk pertanyaan itu, aku akan menjawab dengan diplomatis dan jujur; aku pilihkan pepatah lama gelas yang sudah retak tidak akan kembali seperti semula, aku tidak menggambarkan hatiku seretak itu saat ini. Tapi aku merasa ini terasa sangat pulih, walaupun ada sedikit sakit jika mengingatnya. Tapi hanya sedikit.

Biarlah, hatiku yang pernah dipermainkan ini… hanya aku dan Tuhan yang tahu tentang kepedihan itu. Namun ketenanganku sekarang jauh lebih sangat berarti dari pada keadaanku dulu yang sangat sakit saat berfikir semua tentang dia. Biarlah dia menjalani kehidupannya sendiri dan aku dengan ringan melangkah menjalani jalan hidup yang telah Tuhan gariskan, yang aku yakin itu sangat indah.

Pun demikian dengan perasaanku kepada Novi, saat itu aku pulang dari luar kota yang sengaja aku mampir ke tempatnya sebelum pulang ke rumah. Banyak hal yang kami bicarakan. Bukan canggung, tapi pembicaraan kami lebih terlihat seperti teman biasa. Mungkin karena sudah lama aku tidak mengobrol dengan dia. Dalam perbincangan itu, tiba – tiba dia bertanya “sekarang kamu pacarnya siapa?”. Aku Cuma tersenyum setengah tertawa, lalu sekenanya aku jawab “hmmm,aku pacaran dengan karir. Ga penting juga pacar – pacaran. Iya kan?”, aku sedikit tertawa lagi. Kemudian perbincangan kamipun lebih akrab lagi tapi tetap seperti orang yang tidak pernah berada dalam cerita masa lalu yang sama. Mungkin kami sama – sama berusaha melupakan cerita pahit itu. Cerita cinta yang mengorbankan persahabatan dan tidak akan pernah berujung.

Dari dua tahun yang lalu, kami memang tidak ada kata putus. Namun mungkin kami sama – sama tahu bahwa peristiwa itu sangat menguras pikiran kami dan membuat jiwa kami sangat tidak stabil. Dan saat jarak memisahkan kami, hubungan kami lambat laun berubah kembali menjadi seorang sahabat dan semakin jauh hanya seperti sebatas teman saja. Tentang cerita cintanya, aku tahu sekarang dia sedang dekat dengan seseorang. Dan aku sama sekali tidak merasa cemburu, bahkan senang karena dia mulai bisa mencintai orang lain selain aku, tidak mengharapkanku lagi. Layaknya seorang teman yang bahagia saat mendengar temannya mendapat kekasih baru, aku bahagia. Lalu, merasa kehilangankah aku? “Tidak”, itulah jawabanku tegas. Hanya sempat terfikir “kok bisa, orang yang dulu sangat mencintai dan rela melakukan apapun, sekarang menjadi biasa saja bahkan punya tambatan hati lain”, itu semua karena waktu dan keadaan hingga perasaan seseorang bisa benar – benar berubah.

Tentang jawabanku tadi yang tidak terlalu berfikir lagi tentang cinta dan menganggap itu tidak terlalu penting…, seriuskah? Mungkin. Karena aku merasa lebih ringan menjalani hidup tanpa dibebani masalah cinta. Empat tahun ini aku lebih banyak berteman dan sibuk dengan hal – hal positif lainnya. Tapi mungkin saja sebenarnya aku trauma dengan peristiwa itu. Teralu pahit menurutku. Hingga aku seperti mati rasa, tidak bisa lagi mencintai. Atau mungkin aku memang benar – benar sudah lupa bagaimana perasaan cinta itu dan bagaimana cara mencintai. 

Satu – satunya orang yang sudah bisa lepas dari kisah ini adalah Azza. Dia beruntung, membanting cerita pahit ini dengan keputusan besar. Dia menikah satu tahun setelah masalah ini mencuat. Mungkin sekarang dia sudah benar – benar bahagia dengan kehidupan dan keluarga kecilnya. Lalu bagaimana dengan aku? Serpihan ini masih terasa sakit untuk aku pungut dan aku satukan lagi. Biarlah serpihan – serpihan itu berserakan dan tetap seperti itu. Bukan aku tidak mengenal kata move on dalam kamus hidupku. Tapi aku orang yang terlalu sakit dari cerita ini. Dikenalkan, dicintai, mencintai, dipermainkan dan ditinggalkan. Ya, mereka bergerak meninggalkan semua saat aku masih terduduk menangisi kepahitan ini. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Toh perasaanku sekarang sudah lebih baik.

Bagaimana dengan hatiku yang kosong? Apakah aku masih mencintai Cherryl? Aku sudah tegas tidak mengaharapkannya, jadi sungguh tidak ada jawaban tentang kata cinta, karena aku saja tidak tahu lagi bagaimana perasaan mencintai. Aku sekarang menjalani garis hidupku dengan senyum dan benar – benar bahagia. Lalu bagaimana jika Tuhan menggariskan ‘pertemuan’ku dengan Cherryl dalam cerita hidupku selanjutnya? Aku tidak menampik, mungkin perasaanku akan lebih bahagia jika ada seseorang yang mengisi hatiku yang kosong.

Sabtu, 27 Juli 2013

Sinar Hati



Sinar Hati
 “Bukan usia yang terlalu cepat menyentuh angka
  Bukan orang di sekitar kita yang terlalu cepat beranjak
  Tapi waktu yang terlalu cepat berjalan

Hembusan angin masih seperti dulu, semilir…
Semilir menggoyangkan daun hijau
Panas mataharipun masih sama, menyengat…
Menyengat seperti saat aku kecil dulu

Namun raga kita tak pernah sama di setiap detik
Berubah pada titik yang tak pernah berhenti

Siapa yang mampu menghentikan waktu?
Siapa yang mampu menghentikan kebahagaiaan tetap di tempatnya…?
Tidak ada.
Karena waktu merajai hidup
Dan akan tetap seperti itu
Bahkan setelah kita tidak merasakan hidup lagi”

…………………………………
Di pagi yang belum terlalu panas ini aku berjalan, sengaja untuk melemaskan urat kaki. Kemudian mataku tertuju pada bangku semen berjajar di bawah pohon – pohon rindang. “Pasti sangat sejuk”, pikirku. Akhirnya aku duduk dengan disapu semilirnya angin, menambah nikmatnya suasana pagi ini. Jarum jam mulai beranjak detik demi detik, sinar pagipun mulai hangat menembus pori – pori kulitku. Kehangatan sinar yang selalu kurindukan. Saat jarum jam menunjuk hampir pukul sebelas, disekitarku mulai ramai beberapa orang beraktifitas. Mereka terlihat dengan wajah yang sangat sumringah, mungkin karena ini suasana libur. Salah satu yang menarik perhatianku adalah seorang bapak yang berlari – lari kecil. Perutnya terlihat lebih besar dari ukuran normal, aku jadi membayangkan, mungkin beberapa tahun lagi perutku akan seperti itu. “Lucu kali ya…”, kataku dalam hati.

Kemudian mataku menengok ke arah kiri, di sana terlihat keakraban seorang bapak dengan anak perempuannya yang mulai beranjak remaja. Dengan sabar dan telaten, bapak itu mengajari anak gadisnya mengendarai sepeda motor. Aku berkata dalam hati sambil tersenyum, “Mungkin beberapa tahun lagi aku juga akan seperti itu, mempunyai anak dan mengajarinya banyak hal”. Disaat aku mengemati mereka itulah, tiba – tiba bapak yang sedang berolah raga tadi bertanya, “Maaf, sekarang sudah jam berapa ya Pak?”. Aku menengok kanan – kiri, setelah yakin dia bertanya padaku, aku menjawab, “Jam sebelas kurang sepuluh menit Pak..”. Kemudian dengan sedikit gugup dia berkata “Wah, sudah kelewat nih. Mari Pak…., saya pualng duluan”. Kemudian aku menjawab lirih seraya mengangguk.

Dari kejadian tadi, aku merasa aku mulai tidak mengenali diriku sendiri. Aku merasa ada perubahan yang belum atau bahkan tidak aku sadari. Panggilan “Pak” tadi, membuatku melihat diriku lagi; badan, tangan, kakiku… kemudian aku berkaca melihat wajahku dari layar ponselku. Kemudian aku melirik lagi ke tempat dimana ayah - anak itu bersenda gurau tertawa sambil serius belajar berkendara. “Akh, rasanya baru kemarin aku dipanggil ade, mas, om … dan ternyata sekarang … orang sudah tidak segan lagi memanggilku dengan sebutan – Pak- “.

Aku mulai menerawang ke langit dimana warna putih itu memetakan panasnya langit di siang ini. Aku masih ingat saat aku masih berseragam putih biru. Pulang sekolah bersama teman, aku masih ingat panasnya sinar matahari kala itu. Panasnya masih sama di kulit. Bahkan saat aku belum kenal bangku sekolah ketika aku bermain dengan teman sebaya di siang yang panas…, panasnya masih sama. “Huft…., ternyata aku sudah melewati banyak hal”, gumamku. Pikiranku mulai mengingat banyak hal yang sudah terjadi dalam hidupku. Mengingat kembali masa berseragam putih – abu-abu, “Dimana ya mereka sekarang?”, tanyaku dalam hati. Kemudian aku teringat dengan teman – teman kuliahku yang sekarang sudah menyebar, aku terasa merindukan mereka saat ini.

…………………………..
Mengingat masa – masa kuliah itu, mengingatkanku pada seseorang yang hampir tidak pernah aku lupakan dari setiap hal yang aku pikirkan. Dua tahun sudah aku mendapatkan gelar sarjana, dua tahun pula aku seperti tidak mengenal seseorangpun di hatiku selain kamu. Aku sangat menyesal kenapa aku tidak menyatakan isi hatiku padamu saat itu. Sekarang kamu sudah jauh, belajar di negeri seberang sana. “Apa kamu baik – baik saja?”, tanyaku dalam hati. Aku mengecek phonebook di ponselku. Ada namamu… “Akh, inikan nomor HPmu saat kamu masih di Indonesia…”, kataku menyadarkan diri sendiri. Kejadian siang tadi benar - benar mengingatkanku padamu, membuatku berpikir tentangmu lagi. Kurasa sekarang tidak ada lagi hal yang bisa aku lakukan. Aku pun tak bisa lagi mengetahui keadaanmu sekarang. Aku buka akun dunia mayamupun sudah tidak aktif.

Kenapa sekarang aku sangat menyesal? Aku tidak menyia – nyiakanmu kala itu. Aku hanya belum punya keberanian menyatakan rasa sayangku padamu. Yang aku tahu hanya… -aku mencintaimu- tanpa aku tahu bagaimana cara mengungkapkannya. “Akh, bodohnya aku..”, kataku dalam  hati. Tapi waktu tidak bisa kembali. Aku hanya bisa berharap, saat kau kembali dari belajarmu di USA nanti, aku masih punya kesempatan mengungkapkan isi hatiku padamu. Hingga kau mampu merasakan hangatnya sinar ketulusan hatiku, yang lebih hangat dari sinar matahari pagi yang selalu kita rasakan. Semoga.