Oleh: Munji Hardani
Cerpen ini dibuat dalam rangka mengikuti kegiatan Lomba Menulis Cerpen Pejuang Pendidikan yang adakan oleh Kreatory pada bulan Maret 2021 dan meraih posisi 19. Selamat Menikmati.
Pengabdi Pendidikan Di Perbatasan
(Hatiku Tertambat di Alor)
“Beda agama, beda pulau. Perbedaan yang cukup kuat jika dilihat dalam peta Indonesia. Alor hanya sebuah titik yang kecil, tetapi dengan kepercayaan diri, Pak Guru mau datang di tempat terpencil, jauh dari kota, sinyal susah dan udara panas…” Itulah penggalan awal dari sebuah surat yang ditulis oleh Sindi. Siswi kelas sebelas itu tidak bisa lagi untuk melanjutkan membaca surat yang dia tulis sendiri. Dia sesenggukkan, kedua pipinya basah oleh air mata. Beberapa siswa lain terlihat ikut menahan air mata. Seketika momen upacara bendera itu menjadi haru biru. Lebih dari separuh guru di barisan depan menundukkan kepala ikut larut dalam suasana. Aku berusaha tetap tegar, mengangkat dagu melawan sinar hangat pagi di hari senin ini. Isi suratnya memang bagus, sehingga menjadi juara satu Lomba Menulis Surat Untuk Guru dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional di sekolah kami. Selepas membaca surat itu, pihak sekolah tak lupa memberikan bingkisan kecil untuknya sebagai hadiah. Ini adalah sebuah ungkapan hati yang tulus, sebuah surat yang ditujukan kepadaku sebagai ucapan terimakasih karena telah mengabdikan diri di pulau ini. Sebuah pulau kecil dengan sejuta keindahan lengkap dengan segala keterbatasan, sebuah tempat yang sudah aku niatkan untuk mendidik anak-anak ini. Pulau perbatasan, ujung negeri dengan jarak bermil-mil dari ibukota Jakarta sana. Sebuah tempat tanpa listrik di siang hari satu paket dengan teriknya matahari yang terasa lebih menyengat di bulan November ini.
Pukul 13.30 WITA, besi tua itu dipukul berulang-ulang sebagai tanda mengakhiri kegiatan belajar mengajar hari ini.
“Pak guru, sebentar kita *pi di tanjung sebelah petik mangga?”, salah satu siswa mengagetkanku dari belakang.
Aku menoleh dan tersenyum kecil, “Pi *deng apa?”.
Dia menjawab dengan mantap, “Deng *sa pu ketinting bapak…”. Aku berfikir sejenak kemudian kami sepakat bertemu jam dua.
Ketinting sudah siap di bibir pantai, mereka memintaku naik lebih dulu. Anak seusia mereka memang sudah terbiasa mengoperasikan perahu kecil seperti ini. Terlihat Putra mulai menyalakan mesin dan pegang kemudi, sementara Airon dengan wadah kecil ditangan kanannya bertugas mengeluarkan air dari perahu akibat percikan air ombak yang masuk.
“Hati-hati anak, pa guru tidak bisa berenang”, kataku sambil terus menikmati air laut yang begitu bening hingga karang warna-warni terlihat jelas dari atas sini.
“Tenang saja bapak, aman…”, jawab Yuma sambil tertawa kecil.
Beginilah salah satu kegiatanku setelah pulang mengajar. Walau terkadang ada rasa rindu pada keluarga dan kampung halaman di pulau Jawa sana, namun melihat senyum tulus mereka, sedikit mengobati rasa rinduku pada kampung halaman.
Pagi ini lebih terik dari biasanya. Jarum pendek di arloji lewat sedikit dari angka tujuh sementera jarum panjang bertengger di angka enam. Memang belum terlalu siang, namun sudah banyak siswa di sekolah. Hari ini giliranku memberikan apel pagi. Ada beberapa hal yang harus aku sampaikan berkaitan dengan hasil rapat Guru dan Kepala Sekolah kemarin.
“Selamat pagi anak-anak”, sapaku.
“Selamat pagi pa guru…”, jawab para siswa serempak.
“Seperti yang kita lihat dan dengar di berita baik di televisi maupun media lain tentang merebaknya Covid-19 ini juga berdampak pada kita. Jadi, kita akan melaksanakan sistem Belajar Dari Rumah atau BDR”, sambungku.
Aku terus menjelaskan kepada siswa tentang pelaksanaan belajar di masa pandemi ini. Mengingat banyaknya siswa yang belum memiliki ponsel, listrik yang belum bisa beroperasi dua puluh empat jam dan juga sinyal yang kurang stabil sehingga diputuskan kepada para guru untuk berjunjung ke rumah-rumah siswa yang dibagi menjadi beberapa kelompok. Tidak lupa aku juga mengingatkan para siswa yang berasal dari desa-desa yang jauh untuk tidak pulang kampung agar mereka tetap tinggal di dekat sekolah seperti biasa.
Air di sungai ini masih kering, aku bisa dengan leluasa melewatinya. Lain halnya di musim penghujan nanti, pasti air bisa meluap sampai paha kaki orang dewasa. Hari ini hari pertama melaksanakan BDR. Aku sudah janji untuk bertemu di salah satu rumah siswa. Jalan menuju rumahnya memang sedikit ekstrim. Harus melewati bukit yang sebagian besar jalannya masih berupa tanah dan batu. Aku harus ekstra hati-hati mengendarai sepeda motor. Salah sedikit saja, bisa jatuh. Tepat di depanku, ada sebuah jalan yang melewati gunung batu yang dibelah. Ini adalah rintangan terakhir sebelum sampai di rumah siswa tersebut.
Dengan motor yang kotor dan kaki yang penuh debu, akhirnya aku sampai juga di sini. Sekitar lima siswa sudah berkumpul di bawah *gudang. Mereka membawa buku, kamus dan juga pena. Kami mulai belajar. Tak lupa aku mengatur tempat duduk mereka agar tidak berhimpitan. Setelah lelah belajar dan sedang beristirahat, salah satu orang tua siswa datang membawa enam kelapa muda ditangannya.
“Siang pak guru…”, sapanya. “Siang juga bapak..”, jawabku.
“Pak guru, bapak ada kelapa muda jadi pak guru minum dulu”, katanya dengan logat khasnya.
Kemudian salah satu dari siswaku mengupas kelapa muda dan kami minum bersama. Demikian hari ke hari aku bergantian ke beberapa kelompok siswa di rumah-rumah mereka.
Musim penghujan sudah mulai datang. Tampaknya musim hujan kali ini menjadi lebih indah dari sebelum-sebelumnya. Hal ini karena bapak Kepala Desa sudah mengumumkan bahwa desa Maritaing sudah bisa menikmati listrik penuh dua puluh empat jam sehari. Aku bahagia sekali karena tidak akan kesulitan lagi saat harus mengajar komputer ke siswa. Biasanya, kami harus membeli bensin kemudian menyalakan genset untuk bisa belajar di ruang komputer. Tentu sekarang akan menjadi lebih mudah karena tidak harus menunggu malam hari untuk mengerjakan tugas. Keadaan baik ini membuatku mengajukan strategi baru dalam pelaksanaan kegiatan BDR. Atas persetujuan Kepala Sekolah dan WakaSek Kurikulum, aku melaksanakan kegiatan BDR secara daring. Menurutku ini kesempatan yang bagus agar para siswa lebih dekat dengan penggunaan teknologi.
Hari ini aku mulai mendata nomor ponsel siswa untuk dimasukkan ke dalam grup belajar. Tidak semua siswa memiliki telepon genggam sehingga aku membagi mereka menjadi beberapa kelompok seperti sebelumnya. Pelan-pelan aku mulai melatih mereka menggunakan beberapa fitur yang nantinya akan digunakan dalam pembelajaran dari mulai membuka file materi, mengerjakan tugas secara online, mengirim hasil kerja, dan sebagainya. Hari berikutnya aku coba mengecek kesiapan mereka dengan menyapa di grup belajar. Satu persatu merespon dengan baik. Setelah itu, aku coba memberikan materi dan kuisioner review. Ternyata lebih dari tujuh puluh persen siswa mengikuti dengan baik. Dengan adanya fasilitas yang membaik ini, aku mengharapkan pendidikan yang lebih baik untuk mereka. Walaupun di kampung jauh dari kota tapi aku ingin mereka memiliki pengalaman yang tidak kalah dengan para siswa di kota.
Hari ini hari Jum’at, aku bergegas meminta ijin dari Kepala Sekolah untuk melaksanakan salat Jumat di kota sekaligus menemui istriku. Perjalanan kurang lebih seratus kilometer aku tempuh dengan sepeda motor. Setelah melewati bukit ke tiga, aku harus berhenti sejenak karena ada batu besar di tengah jalan. Kemungkinan batu itu jatuh dari atas bukit. Setelah kurang lebih satu jam menunggu alat berat menyingkirkan batu itu, akhirnya aku dapat melewati jalan tersebut. Aku beristirahat di pondok kecil di tepi jalan. Ada beberapa orang yang juga singgah di sini. Meskipun pondok ini di hutan, namun tempat ini menjadi tempat favorit melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan. Aku sudah sampai di kota. Masih dengan pakaian seragamnya, istriku menyambutku dengan gembira. Nampaknya dia juga baru pulang dari sekolah. Untungnya tempat tugas istriku masih bisa dijangkau hingga tidak perlu menginap di dekat sekolah sepertiku.
Hari senin pagi. Aku bangun pukul empat. Meskipun BDR, hari ini aku akan berangkat ke sekolah karena ada beberapa hal yang harus disampaikan terkait dengan pembelajaran siswa. Istriku sibuk menyiapkan bekal untukku, aku sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam ranselku. Setelah mandi dan salat Subuh, aku berpamitan. Aku bergegas menaiki motor, tidak lupa istriku mencium tanganku dan mendo’akan keselamatan perjalananku. Tepat dua setengah jam akhirnya aku sampai di tempat tugas. Singgah di tempat menginap untuk menukar pakaian dan tas, aku langsung menuju ke sekolah. Aku menggerak-gerakkan leherku tanda lelah karena menempuh perjalanan dari pagi tadi. Namun lelahku selalu menghilang saat melihat antusias siswa- siswiku saat mereka belajar disekolah.
“Selamat pagi pak guru…”, sapa Clara, siswi kelas dua belas. “Pagi…”, balasku.
“Pak guru baru dari Kalabahi ni?”, tanyanya lagi. “Iya, *su bel belum?”, tanyaku.
Kemudian Clara memukul lonceng besi di depan meja piket guru dengan keras. Dan aku mulai mengarahkan siswa dengan tetap mengatur jarak. Mereka semua juga rapih memakai masker abu2 berlogo Tutwuri.
Malam ini bulan terang, bulat sempurna. Dengan seorang kawan guru, aku menuju dermaga yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Beberapa orang terlihat asik menarik-narik kail pancing, seolah sedang bermain-main dengan ikan-ikan di bawah sana. Aku berjalan hingga ujung dermaga, terlihat jelas di seberang sana lampu- lampu Timor Leste menyala kerlap-kerlip. Aku menghirup udara malam, menutup mata dan meyakinkan diri, inilah tempat yang aku pilih untuk mengabdikan diri mendidik anak-anak negeri. Jika melihat dari suku, agama dan budaya, tentu aku bukan salah satu dari mereka. Tapi jika engkau melihat dari sisi keberadaanku sebagai pendidik, aku ada bersama mereka. Aku tersenyum ikhlas, untuk segala hal yang telah Tuhan berikan hingga saat ini.
- Sekian-
Keterangan:
*pi = pergi
*deng = dengan
*sa pu ketinting = saya punya perahu (kecil) = perahu milik saya
*gudang = bangunan segi empat beratap jerami tanpa dinding. Tempat bersantai dan di bagian atas digunakan untuk menyimpan hasil panen.
*su = sudah







