Oleh: Munji Hardani, S. Pd
Siang itu mentari masih terasa terik, lebih tepatnya sangat
panas, untuk ukuran orang yang pertama kali menyentuhkan kakinya di
tanah Timor seperti saya. Tatapan tak pernah lepas dari setiap guratan
pemandangan sisi jalan yang belum terlalu biasa di tangkap mata ini.
Mulai dari rumah beratap *daun giwang lengkap dengan dinding *bebak-nya,
tapak – tapak kaki bocah cilik tanpa alas, hingga tegasnya ragawi nona
Timor yang tak berpeluh dengan ember – ember pengangkut air. Di
penghujung tahun 2011 itulah, sebuah keberkahan yang sangat luar biasa
telah Tuhan singgahkan kepada guru muda seperti saya, untuk ikut melihat
secara real wacana pendidikan dan kehidupan masyarakat di sana. Di
dusun Noehaen desa Pakubaun kecamatan Amarasi Timur itulah, saya
mengemban tugas yang bagi saya cukup berat: mendidik. Ya, bukan sekedar
mengajari mereka mengenal huruf, melihaikan berhitung atau mengenalkan
apa itu teknologi. Tapi lebih dari itu, mendidik bagaimana bertutur,
beradab sekaligus memberikan ilmu – ilmu pendidikan.
Pagi itu sedikit dingin berkabut, desa tanpa asap bemo itu masih
segar. Ternyata masih pagi benar saya bangun, alasannya adalah itu hari
pertama saya mengajar di kota yang dijuluki kota Cendana. Walaupun
disisi kanan kiri dari jalan yang saya lalui, belum pernah saya melihat
kayu yang keharuman namanya telah mewangi hingga ke manca negara itu.
Semalaman saya memang sudah tidak sabar untuk melihat wajah - wajah lugu
bocah – bocah berseragam biru – putih berbaris lengkap dengan senyum
manisnya, hingga pagi benar saya sudah terjaga dari tidur. Tapi ada satu
kegiatan baru yang harus mulai saya biasakan untuk dilakukan sebelum
saya berangkat ke sekolah, yaitu mengangkut air. Itulah hal wajib yang
harus saya lakukan sebelum mengguyur badan hingga bersih. Mulai saya
raih dua ember lengkap dengan kayu pikulnya, hal itu saya tiru dari
orang – orang yang dengan ringan membawa berember – ember air. Ternyata
menarik air disumur tidak segampang yang saya bayangkan. Apalagi tambang
plastik itu tanpa dilengkapi dengan katrol, hingga tangan saya mulai
memerah dan terasa perih. Dua ember penuh berisi air telah siap untuk
saya pikul. Ini adalah tantangan kedua sebelum mandi, benar saja,
ternyata badan saya tidak cukup kuat menopang dua ember itu hingga
pundak saya ikut bergoyang kedepan dan belakang untuk menghindari
tumpahan air yang semakin banyak. Kejadian yang dilihat oleh warga itu
memunculkan senyum ramah dan tawa kecil dari mereka. Dengan logat khas
Timornya mereka mulai mengajari saya memikul air tanpa harus bergoyang
dan menumpahkan percik – percik air yang telah dengan susah payah
ditimba.
Tubuh – tubuh mungil penuh semangat sudah berdiri tegap membentuk
barisan rapih. Seorang guru muda berdiri memberi pengarahan dan
bimbingan. Ya, pagi itu memang saya memiliki tugas piket. Sebelum
lonceng dibunyikan, saya memberikan himbauan, motivasi dan petuah bijak
untuk anak – anak pemegang tongkat estafet pendidikan di kabupaten
Kupang itu. Siswa yang baru terdiri dari dua rombel itu tampak antusias
dengan arahan yang saya berikan. Beberapa menit setelah besi tua itu
dipukul sebagai tanda masuk kelas, mulailah saya mengecek kehadiran
murid saya satu persatu. Dari binaran matanya, saya melihat keantusiasan
yang sangat kuat dalam mengikuti pelajaran yang saya berikan. Walaupun *setengah mati saya harus berusaha menyisipkan pemahaman materi demi materi yang harus saya ajarkan. Dengan sedikit membuka kelas dengan *mother tongue
mereka - bahasa Dawan, mulailah saya mengajarkan mata pelajaran bahasa
Inggris. Tantangan yang sangat luar biasa ketika saya harus mengajarkan
bahasa baru lagi bagi mereka; bahasa Inggris. Padahal bahasa Nasionalpun
masih terasa kaku mereka ucapkan. Tapi pepatah “sekeras – kerasnya batu bisa berbekas kalau dipahat terus - menerus”
memberikan motivasi kuat bahwa tidak akan sia – sia ilmu yang saya
tularkan, saya yakin akan ada ilmu – ilmu yang tertanggal pada anak –
anak didik saya nanti, walaupun mungkin tidak seluruhnya terserap.
Dari sudut jendela, seorang *bai tampak tergesa – gesa menuju “rumah dinas” saya. Ketika saya membuka pintu dan mempersilahkann ya
untuk duduk, mulailah dia mengungkapkan maksud kedatangannya itu.
Ternyata akan ada acara pernikahan di dekat Gereja, mereka menginginkan
saya dan teman – teman guru SM3T untuk menghadiri acara tersebut. Maka
diundanglah kami dengan undangan spesial, yaitu datang di sore harinya
untuk menyembelih ayamnya dan datang kembali di malam harinya untuk
menghadiri pestanya. Sungguh penghormatan yang sangat luar biasa untuk
kami kaum muslim. Mereka masih sempat memikirkan kaum minoritas seperti
kami, karena mereka tahu kami tidak bisa memakan daging ternak jika
bukan kami sendiri yang menyembelihnya.
Bahkan dalam hal pelayananpun mereka tahu bahwa makanan – makanan kami
tidak boleh tersentuh oleh daging babi. Hingga mereka benar – benar
memisahkannya sampai saat penyajiannya. Setelah dilakukan acara adat
dengan bahasa Dawan dan acara makan minum selesai, tiba saatnya bagi
mereka untuk menggenggap - gempitakan rasa suka cita mereka dengan
melenggangkan tubuh dengan sangat lentur. Dari mulai anak – anak yang
menari disko, hingga remaja dan orang – orang dewasa yang berdansa ria
dengan pengantinnya. Memang terlihat seperti budaya barat, mungkin hanya
sedikit terpengaruh mengingat tanah itu pernah terjajah oleh Portugis.
Berjalan di atas batu – batu kecil, saya mulai melangkah menuju
rumah di dekat sudut lapangan sekolah. Setelah memanggil si empunya
rumah, kami bersama – sama menuju kebun kecil di seberang rumahnya. Sawi
hijau (mereka menyebutnya sayur putih), kangkung dan tomat serta
beberapa tanaman cabai (mereka mennyebutnya dengan kurus/ kunus) tumbuh
subur walau didaerah yang sangat panas. Memang para petani di sana harus
bekerja dua kali lipat lebih keras mengingat tidak setiap rumah
mempunyai sumber air. Sehingga petani harus rela mengangkut air untuk
menyiram sayur mayur mereka. Hanya mengeluarkan beberapa rupiah saja,
mereka sudah memberikan sayur cukup banyak. Memang bertugas di sana
terasa lebih beruntung jika dibandingkan dengan daerah lain. Karena
selain sayur – sayuran bisa tumbuh, letak geografis yang dekat pantai
membuat sesekali ada pelaut yang menjajakan ikan hasil melautnya,
meskipun tidak setiap hari.
Malam jum’at itu saya membuka pintu depan. Menjulurkan kaki keluar
dan mulai menatap langit tanpa berani mencoba menghitung bintang –
bintang yang terlalu banyak bertabur memenuhi langit yang gelap itu,
hingga hanya sinar – sinar terang yang tak terhalang awan menembus
hingga ke bunga – bunga tulip di sisi balkon kiri rumah itu. Saya mulai
membuka kalender yang tahunnya sudah berganti ke angka 2012. Tidak
terasa sudah lebih dari setengah perjalanan saya mengabdikan diri
mengemban tugas mendidik di daerah terpencil itu. Sudah saya lewati pula
puluhan hari jum’at dengan pengalaman – pengalaman berbeda. Sempat saat
itu terlintas dengan seutas pertanyaan kira – kira seperti apa hari
esok, tantangan seru apa lagi yang akan saya hadapi untuk memenuhi
panggilan ibadah wajib sekali dalam seminggu itu. Malampun semakin
dingin dan mulai mengharuskan saya untuk menutupkan senyum kecil yang
sedari tadi tersungging di bibir saya. Kunci pintu saya hentakkan dan
mulailah saya menghempaskan rasa lelah dihari itu dan membawanya ke alam
mimpi.
Seperti biasa, hari jum’at mengharuskan saya untuk membuka mata
lebih pagi dari biasanya. Selepas shalat Subuh dan berkemas. Saya dan
seorang teman saya sudah siap menunggu *oto untuk menuju
masjid. Telalu pagi memang, rasa dinginnyapun masih sangat terasa hingga
menembus kulit meski sudah terbalut jaket tebal lengkap dengan kedua
telapak tangan yang terbungkus ketat. Memang musim seperti itu harus
benar – benar bisa menjaga kesehatan, mengingat pergantian cuaca dari
malam dan pagi yang sangat dingin berganti dengan udara yang sangat
panas pada siang harinya. Saya melihat arloji yang menggantung di
tangan, jarum jam panjang diangka enam menumpuk diatas jarum pendeknya.
Kaki mulai saya ayunkan menaiki oto yang didalamnya sudah berjejal
dengan berbutir – butir buah kelapa, pisang dan hasil sumber daya lain.
Perjalanan terasa sangat lama dengan jalan batu terjal dan udara pengap
dengan debu mesipun masih pagi. Dua jam perjalanan telah membawa kami ke
masjid untuk menunaikan ibadah sholat jum’at. Beruntung musim hujan
telah mereda hingga tidak perlu menuntut kami menyeberangi kali (sungai)
besar sebelum naik oto, karena tidak mungkin mobil pick up itu
menyeberangi sungai sebesar itu. Beberapa saat selepas sholat jum’at,
kami kembali menunggu oto untuk pulang. Menit berganti jam, tidak tampak
oto muncul. Teman saya terlihat sudah sedikit kesal dan meminta untuk
menaiki kendaraan apa saja yang lewat, yang penting bisa sampai. Setelah
saya menyetujui usulnya, dari kejauhan tampak kendaraan besar berwarna
kuning gading. Ternyata sebuah truk pengangkut pasir melewati jalan itu.
Saya lambaikan tangan dan berhentilah truk itu. Setelah meminta ijin
untuk menumpang, dengan sigap kami menaiki truk itu dan angin kencang
menerpa wajah kami. Pengalaman perjuangan yang sangat luar biasa dan
sangat berharga demi untuk menunaikan kewajiban shalat jum’at.
Tidak terasa, dua belas purnama telah saya lalui dengan
sambutan hangat masyarakat Timor, mempelajari semangat mereka berkebun
dan bertani serta ikut merasakan sama – sama duduk dengan tawa tanpa
sekat. Hari – hari terakhir sebelum saat penarikan tiba, saya rasakan
ikatan semakin kuat. Saya hirup udara sangat dalam dan perlahan. Saya
membuka mata, tampak gunung menjulang dan hamparan luas padang rumput
sekolah warna cokelat yang sudah mengering. Saya tatap satu persatu
wajah murid – murid berseragam lengkap itu. Tanpa terucap kata pisah,
air mata mulai menetes. Kaki yang telah saya sentuhkan di tanah itu,
yang pernah saya ayunkan meyusuri jalan batu berdebu, yang telah
kuabdikan dengan melangkahkannya
ke gedung sekolah itu, kini harus saya angkat kembali. Tapi saya akan
tetap mengabdikan diri untuk mencerdaskan anak – anak penentu nasib
bangsa itu, meski bukan di tempat ini. Tanah Timor, bangkitlah!. Karena
saya yakin kamu mampu, mampu melahirkan anak – anak bangsa yang intelek
dan berjiwa luhur!