Aku Yang Terbagi
Munji Hardani/ 200615
“Aku begitu
sangat bahagia denganmu, tapi aku juga sangat nyaman bersamanya”... itulah
sebuah perasaan yang aku tuangkan dalam kalimat yang terus ada di fikiranku.
Saat ini aku duduk sendiri di sebuah bangku taman di pagi yang cerah. Mungkin
sudah dua jam lamanya aku memandangi sisi jalan di seberang taman yang terus
silih berganti dilewati, semua orang datang dan pergi melewati jalan itu. Hanya
sisa telapak alas kaki yang tertinggal saja, atau bahkan tak berbekas sama
sekali. Seandainya hatiku bisa seperti itu, tidak membekas walau kau menginjak
terlalu keras. Tapi hatiku bukanlah jalan di seberang taman itu. Hatiku tetap
bisa menyimpan kenangan walau tidak pada setiap wanita yang singgah padaku.
Semua mungkin
akan baik – baik saja jika hanya ada satu cinta yang membekas di hatiku. Tapi
ini benar – benar di luar kuasaku. Jika kamu merasa sakit karena aku dengannya,
lalu bagaimana dengan dia saat aku denganmu? Jika kalian menganggapku orang
yang paling jahat karena tidak menjalaninya bersama, justru aku akan menjadi
orang yang paling jahat jika memilih satu di antara kalian berdua. Jika kalian
bertanya siapa pihak yang paling tersakiti, akulah orangnya. Aku tidak bisa
membagi hatiku karena kalian memang benar
- benar menempati ruang sama besar di hatiku. Jika aku memilih satu
diantara kalian, aku akan sangat sakit saat harus melihat orang yang aku cintai
patah hati. Jika aku harus pergi untuk tidak memilih siapapun, tentu aku akan
merasa dua kali lebih sakit karena harus melupakan kalian berdua dalam satu
waktu.
Aku terus
terdiam di bangku ini, memandangi belalang yang terus melompat di atas rumput
hijau yang tenyata bisa menusuk seperti jarum jika diraba dengan pelan. Tapi
belalang itu tidak merasakan sakit, mungkin warna hijau itu terlihat lebih
indah dari pada runcingnya ujung rumput – rumput itu. Belalang itu terus
melesak melewati rumput yag rimbun kemudian dia terhadang pada sebuah got
kecil. Dia berhenti sejenak seperti berfikir akan melanjutkan perjalanannya
atau mundur saja. Aku ikut penasaran melihat tingkahnya, kira – kira langkah
apa yang akan dia pilih. Terlihat belalang itu mulai bergerak mundur ke
belakang tanpa membalikkan badan. Tanpa sadar bibirku berucap “Akh, payah
sekali dia....!”. Tapi sesaat kemudian mataku terbelalak ketika tiba – tiba
belalang itu melompat tinggi dan berhasil melewati got itu. Ternyata tadi dia
mengambil ancang – ancang. Aku kira dia sudah menyerah dan mundur. Belum surut
keherananku, dari arah yang berlawanan terlihat seekor katak yang tiba – tiba
saja melompat namun sayangnya dia masuk got. Tanpa sadar aku kembali berucap
“Akh, sial!”
(doc. google)
Kepalaku
mengernyit mengingat dua peristiwa tadi, belalang berhasil melewati got itu.
Dia terlihat penuh perhitungan, hati – hati dan penuh keyakinan. Sementara katak
yang melompat dengan tiba – tiba, ternyata tidak berhasil. Mungkin Tuhan
memberikan pelajaran dari peristiwa kecil tadi. Bukan masalah berhasil atau
gagal, tapi yang terpenting adalah sebuah keberanian untuk mengambil sebuah
keputusan. Usahakan dengan sungguh – sungguh, dengan ancang – ancang yang
bagus. Atau serta merta saja dan lakukan. Ya, mau jadi katak atau belalang yang
terpenting adalah “keputusan”. Katak dan belalang saja tidak hanya menunggu
sampai got merapat tanpa celah. Kenapa aku seolah hanya menunggu agar masalah
ini selesai dengan sendirinya?
Aku bergegas
meninggalkan taman itu, menuju pada dua hati yang sedang menunggu keputusanku.
Bel pintu sudah kupencet untuk kali yang ke-tiga. Keluarlah wanita bersahaja
dengan senyum tulus. Sebuah ketulusan yang sebenarnya, tanpa dibuat – buat.
Sebuah hati yang dengan sabar menanti keputusanku apapun jawabannya. Sebuah
hati yang banyak berkorban. “Aku.... tidak bisa menjalaninya denganmu. Maafkan
aku”. Wajah yang tertunduk dan mulai kulihat butiran air mata jatuh satu –
persatu. Kepahitan yang sangat terlihat, sebuah perasaan kecewa yang jelas
tergambar. Kami terpaku dalam jarum jam yang terus bergerak. Lama sekali kami
memahami dalam kosong. Tapi semua sudah terucap. Jarum pendek di jam dinding
itu sudah bergerak maju, dia mulai mengangkat wajahnya dan tersenyum. Tanpa
gemetar dia berkata “Selamat, kamu sudah mampu bergerak. Bergelut dengan ini,
tentu sangat sulit kan?”. Kami berdua tersenyum, semoga ini menjadi sejarah
pendewasaan yang kuat. Saat aku melangkah pergi dari rumah itu, aku tidak
berani lagi menengok ke belakang. Karena aku yakin, air matanya kembali
menggenang dengan kata pisah ini.
Belum usai,
ada satu hati lagi yang sedang menungguku di sana. Seorang wanita ceria yang
membuat hari – hariku sangat berwarna. Seseorang yang membuat suasana menjadi ramai
dan hangat. Sebuah kenyamanan yang selalu dia berikan. Kami bertemu di sebuah
tempat makan di mana untuk pertama kalinya kami terpaut pada perasaan cinta.
Dengan girang dia berkata “Hei..., kemana saja. Lama sekali. Kangen...”. Namun
sesaat kemudian raut mukanya mulai berubah perlahan. Seolah dia tahu kalau aku
akan mengatakan hal yang penting.. “Aku sangat nyaman denganmu. Tapi maaf
sekali, aku tidak bisa lagi denganmu”. Dai mematung untuk beberapa saat setelah
kata – kata itu keluar dari mulutku. Dia mulai memalingkan wajahnya dan jelas
sekali dia menangis sesenggukkan. Baru pertama ini, aku melihatnya menangis.
Seseorang yang lebih banyak tertawa ceria, aku membuatnya menangis di hadapanku.
Saat dia berbalik lagi, aku melihat wajahnya benar – benar sembab berurai
tangis. Dengan sesenggukkan aku mendengarnya jelas “kalau ini memang
keputusanmu, semoga kamu bahagia dengannya”
Mereka tidak
tahu kalau aku tidak memilih satu di antara keduanya. Aku tidak ingin menyakiti
salah satunya. Kalaupun aku memilih, tentu tidak bahagia karena aku akan
kehilangan salah satu. Mungkin lebih baik begini. Aku kembali terbersit...
apakah ini keputusan belalang atau katak? Biar waktu saja yang menguraikannya.
Karena waktu semuanya akan sembuh, karena waktu semua akan kembali, karena
waktu semua akan pergi. Aku percaya Tuhanlah yang memberikan perasaan cinta.
Tuhan pula yang akan mencabutnya kembali, jika Dia menginginkannya. Dan
Tuhanlah yang membolak – balikkan hati dan perasaan manusia. Aku akan pergi, menjalani
keputusan yang aku ambil. Aku akan pergi di suatu tempat baru dengan kehidupan
yang baru. Jika di sana adalah jodohku, mungkin aku adalah si belalang yang
mujur. Tapi jika ternyata aku jatuh ke got .... “Maka Tuhan..., pilihkanlah
salah satu di antara mereka menjadi jodohku dan menarikku kembali menyusuri
rumput hijau- meninggalkan got itu”.

