Kutulis
cerita ini dari kisah nyata
230116
Teman,
Kubawa Hatimu Sampai Hari Ini
Bel
tanda masuk berbunyi, hari ini baru beberapa hari saja aku menjalani peranku
sebagai siswa baru Sekolah Menengah Pertama. Menjadi siswa kelas satu SMP
dengan segala hal baru yang harus aku pelajari, guru yang berbeda untuk setiap
pelajaran, lebih banyak buku yang harus aku bawa setiap harinya... dan tentunya
dengan segala kepolosan dan keadaan yang sedikit membingungkanku. Ya,
membingungkan. Aku bingung karena hanya beberapa teman saja yang baru aku
kenal. Tapi aku harus bisa memulai semuanya dengan baik, harus nyaman dengan
lingkungan dan keadaan yang baru ini.
Aku
menuju meja deret dua, di sana aku duduk dengan teman sebangkuku. Namanya
Wisnu. Kebetulan dia tetangga tanteku, aku pernah ketemu dia sebelumnya.
Praktis jadilah dia anak pertama yang aku kenal di kelas ini. Saat hendak
menuju meja itulah, tiba – tiba seorang anak lincah, kurus tinggi, berambut
lurus sedikit gondrong dengan senyum lebar menyapa dan mengulurkan tangan.
“Kamu Munji kan? Aku nanang. Kakak kita juga teman sekelas di SMA. Kakakmu yang
kembar itu kan?” sepertinya masih banyak lagi kalimat yang dia ucapkan, bahkan
terlalu banyak untuk pertemuan pertama dari seseorang yang ingin berteman, yang
kemudian hari dia menjadi sahabatku bahkan seperti saudara.
Itulah
sepenggal perkenalanku dengan seorang teman yang banyak mengalah kepadaku
selama persahabatan kami. Dari situ kemudian Nanang menjadi teman sebangkuku
sampai kami lulus. Rasanya baru kemarin peristiwa itu terjadi, bahkan aku masih
mengingat dengan jelas bagaimana raut wajahnya, sikap ceria dan tingkah
polahnya yang hampir tidak pernah diam. Semua kenangan itu terus ada di
kepalaku, sampai aku tiba di rumahnya. Tepat jam tujuh pagi aku sampai di sana.
Aku sengaja datang sepagi ini ke rumahnya. “Akh, sahabat macam apa aku ini.
ternyata sudah banyak yang lebih dulu datang menemuimu kawan...” Padahal aku
sengaja ijin hari ini, aku ijin untuk berangkat mengajar agak siang, biar aku
bisa menemuinya pagi - pagi.
Aku
mencari tempat yang lega untuk memarkir motorku. Kulepas jaket dan helmku.
“kenapa air mataku mulai merembas kawan?. Padahal tadi sudah aku tahan saat di pertigaan
rumahmu mulai disambut kain putih yang
dikibar dengan seutas bambu”. Aku coba tegar, tapi tetap saja seperti ada yang
menahan langkah kakiku. Aku tatap dalam – dalam atap rumahnya, masih sama.
Kenapa aku harus sedih?. Aku beranikan masuk ke palataran rumah temanku itu... kursi
- kursi tersusun rapih. Satu per satu aku menyalami tangan – tangan dari orang
– orang yang sebagian besar menggunakan pakaian serba hitam. Di kursi pojok aku
lihat kakak ipar dan keponakan kecilmu itu terlihat murung. Dia langsung menyalami
tanganku dan berkata “Mas, kami sekeluarga sudah berusaha. Tapi... mungkin
Alloh berkehendak lain”. Bibirku masih belum bisa keluar sepatah kata-pun.
Aku
duduk di kursi pelayat dengan tatapan kosong, sementara pelayat lain mulai
berdatangan. “Aku sudah di depan rumahmu kawan... Kenapa kamu tetap juga tidak
keluar menemuiku? Tidak menyuruhku masuk?”. Dengan pelan aku melangkah dengan
kepala tertunduk lesu. Saat kuangkat kepalaku, mataku beradu. Beradu dengan
mata basah kakaknya. Histeria terjadi, kakaknya memelukku sambil teriak
keras... membuat perhatian sebagian besar pelayat tertuju pada kami. “Nanang
nji... Nanang sudah tidak ada. Do’akan Nanang ya... biar dia tenang. Diampuni
segala salah dosanya”. Saat itulah, aku sadar kalau teman baikku itu memang
sudah benar- benar pergi. Selamanya, tak kembali. Aku tolehkan kepalaku ke
sebelah kiri, aku melihat mayat terbujur kaku terbungkus kafan putih. Hanya
beberapa kata yang keluar dari mulutku setelah melihat temanku itu tak bergerak
sama sekali... “Nanang kenapa mba?”. “Dia sakit... sudah dioperasi dua kali.
Kamu yang sehat – sehat... jaga kesehatan”. Aku begeser menemui ibunya yang
diam dengan tatapan penuh kehilangan. Aku menyalaminya dan pamit pulang.
(Gambar ilustrasi- spoiled google)
Aku
baru sadar ternyata persahabatan kami sudah lebih dari lima belas tahun. Ada
penyesalan yang sangat aku rasakan. Aku runtut lagi kapan terakhir aku ketemu
langsung dengannya. Ternyata sudah tiga tahun, saat menghadiri pernikahannya.
Kami memang jarang bertemu selepas SMP karena aku harus pindah ke kota lain
untuk melanjutkan sekolah, pindah ke Ibu kota untuk bekerja, pindah lagi untuk
kuliah dan seterusnya . Hanya beberapa kali saja kami bertemu. Tapi dia selalu
ke rumahku. Demikian juga aku, aku sering ke rumahnya walaupun jarang sekali berhasil
menemuinya di rumah. Sesekali kami bertemu di jalan. Sempat terfikir “Begitu
susahnyakah untuk bertemu? Apakah aku terlalu mengejar karir sehingga banyak
hal lain yang tidak aku lakukan”. Mungkin benar, saat itu memang aku memang sedang berjuang mengejar cita –
citaku. “Tapi aku tidak pernah melupakanmu kawan. Aku selalu menanyakan kabarmu
pada ibu dan kakakmu. Tapi jujur, aku sedikit mengabaikanmu saat kau sedang
berjuang keras dengan sakitmu. Saat itu banyak sekali pekerjaan yang aku
lakukan hingga aku menunda untuk menjengukmu...”
“Nanang
sedang sakit... ayo kapan kita tengok?” demikian kata mamahku. “Minggu depan
lah, masih banyak kerjaan. Pas dia sudah pulang di rumah saja nanti...”, aku
menjawab seolah semua akan baik – baik saja. Hingga sore itu aku dengar namanya
disebut lewat pengeras suara masjid. Saat itulah aku benar- benar menyesali
semuanya. Semua sudah terjadi. Dia telah pulang lebih dulu...
“Besok
aku pergi kawan... aku bertugas mengajar di tempat yang jauh. Jauh dari tempat
kita bermain dulu. Jauh dari jalan yang sering kita lewati. Jauh dari kampung
halaman kita ini. Jauh dari sekolah tempat kita belajar dulu...”. Aku diantar
kakak iparnya ke makamnya. Diatas tanah yang masih basah itu. Aku pamit dengan
mengusap batu nisannya. “Namamu terukir di batu ini kawan, tapi hatimu dan
persahabatan kita, akan selalu aku bawa. Maafkan aku mengabaikanmu di saat –
saat terakhirmu. Bismillah, Alloh menyayangimu”.
(Gambar ilustrasi- spoiled google)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar