Sabtu, 23 Januari 2016

Kutulis cerita ini dari kisah nyata
230116
Teman, Kubawa Hatimu Sampai Hari Ini

Bel tanda masuk berbunyi, hari ini baru beberapa hari saja aku menjalani peranku sebagai siswa baru Sekolah Menengah Pertama. Menjadi siswa kelas satu SMP dengan segala hal baru yang harus aku pelajari, guru yang berbeda untuk setiap pelajaran, lebih banyak buku yang harus aku bawa setiap harinya... dan tentunya dengan segala kepolosan dan keadaan yang sedikit membingungkanku. Ya, membingungkan. Aku bingung karena hanya beberapa teman saja yang baru aku kenal. Tapi aku harus bisa memulai semuanya dengan baik, harus nyaman dengan lingkungan dan keadaan yang baru ini.
                             (Gambar ilustrasi- spoiled google)
Aku menuju meja deret dua, di sana aku duduk dengan teman sebangkuku. Namanya Wisnu. Kebetulan dia tetangga tanteku, aku pernah ketemu dia sebelumnya. Praktis jadilah dia anak pertama yang aku kenal di kelas ini. Saat hendak menuju meja itulah, tiba – tiba seorang anak lincah, kurus tinggi, berambut lurus sedikit gondrong dengan senyum lebar menyapa dan mengulurkan tangan. “Kamu Munji kan? Aku nanang. Kakak kita juga teman sekelas di SMA. Kakakmu yang kembar itu kan?” sepertinya masih banyak lagi kalimat yang dia ucapkan, bahkan terlalu banyak untuk pertemuan pertama dari seseorang yang ingin berteman, yang kemudian hari dia menjadi sahabatku bahkan seperti saudara.

Itulah sepenggal perkenalanku dengan seorang teman yang banyak mengalah kepadaku selama persahabatan kami. Dari situ kemudian Nanang menjadi teman sebangkuku sampai kami lulus. Rasanya baru kemarin peristiwa itu terjadi, bahkan aku masih mengingat dengan jelas bagaimana raut wajahnya, sikap ceria dan tingkah polahnya yang hampir tidak pernah diam. Semua kenangan itu terus ada di kepalaku, sampai aku tiba di rumahnya. Tepat jam tujuh pagi aku sampai di sana. Aku sengaja datang sepagi ini ke rumahnya. “Akh, sahabat macam apa aku ini. ternyata sudah banyak yang lebih dulu datang menemuimu kawan...” Padahal aku sengaja ijin hari ini, aku ijin untuk berangkat mengajar agak siang, biar aku bisa menemuinya pagi - pagi.

Aku mencari tempat yang lega untuk memarkir motorku. Kulepas jaket dan helmku. “kenapa air mataku mulai merembas kawan?. Padahal tadi sudah aku tahan saat di pertigaan rumahmu  mulai disambut kain putih yang dikibar dengan seutas bambu”. Aku coba tegar, tapi tetap saja seperti ada yang menahan langkah kakiku. Aku tatap dalam – dalam atap rumahnya, masih sama. Kenapa aku harus sedih?. Aku beranikan masuk ke palataran rumah temanku itu... kursi - kursi tersusun rapih. Satu per satu aku menyalami tangan – tangan dari orang – orang yang sebagian besar menggunakan pakaian serba hitam. Di kursi pojok aku lihat kakak ipar dan keponakan kecilmu itu terlihat murung. Dia langsung menyalami tanganku dan berkata “Mas, kami sekeluarga sudah berusaha. Tapi... mungkin Alloh berkehendak lain”. Bibirku masih belum bisa keluar sepatah kata-pun.

Aku duduk di kursi pelayat dengan tatapan kosong, sementara pelayat lain mulai berdatangan. “Aku sudah di depan rumahmu kawan... Kenapa kamu tetap juga tidak keluar menemuiku? Tidak menyuruhku masuk?”. Dengan pelan aku melangkah dengan kepala tertunduk lesu. Saat kuangkat kepalaku, mataku beradu. Beradu dengan mata basah kakaknya. Histeria terjadi, kakaknya memelukku sambil teriak keras... membuat perhatian sebagian besar pelayat tertuju pada kami. “Nanang nji... Nanang sudah tidak ada. Do’akan Nanang ya... biar dia tenang. Diampuni segala salah dosanya”. Saat itulah, aku sadar kalau teman baikku itu memang sudah benar- benar pergi. Selamanya, tak kembali. Aku tolehkan kepalaku ke sebelah kiri, aku melihat mayat terbujur kaku terbungkus kafan putih. Hanya beberapa kata yang keluar dari mulutku setelah melihat temanku itu tak bergerak sama sekali... “Nanang kenapa mba?”. “Dia sakit... sudah dioperasi dua kali. Kamu yang sehat – sehat... jaga kesehatan”. Aku begeser menemui ibunya yang diam dengan tatapan penuh kehilangan. Aku menyalaminya dan pamit pulang.
(Gambar ilustrasi- spoiled google)
Aku baru sadar ternyata persahabatan kami sudah lebih dari lima belas tahun. Ada penyesalan yang sangat aku rasakan. Aku runtut lagi kapan terakhir aku ketemu langsung dengannya. Ternyata sudah tiga tahun, saat menghadiri pernikahannya. Kami memang jarang bertemu selepas SMP karena aku harus pindah ke kota lain untuk melanjutkan sekolah, pindah ke Ibu kota untuk bekerja, pindah lagi untuk kuliah dan seterusnya . Hanya beberapa kali saja kami bertemu. Tapi dia selalu ke rumahku. Demikian juga aku, aku sering ke rumahnya walaupun jarang sekali berhasil menemuinya di rumah. Sesekali kami bertemu di jalan. Sempat terfikir “Begitu susahnyakah untuk bertemu? Apakah aku terlalu mengejar karir sehingga banyak hal lain yang tidak aku lakukan”. Mungkin benar, saat itu memang aku  memang sedang berjuang mengejar cita – citaku. “Tapi aku tidak pernah melupakanmu kawan. Aku selalu menanyakan kabarmu pada ibu dan kakakmu. Tapi jujur, aku sedikit mengabaikanmu saat kau sedang berjuang keras dengan sakitmu. Saat itu banyak sekali pekerjaan yang aku lakukan hingga aku menunda untuk menjengukmu...”

“Nanang sedang sakit... ayo kapan kita tengok?” demikian kata mamahku. “Minggu depan lah, masih banyak kerjaan. Pas dia sudah pulang di rumah saja nanti...”, aku menjawab seolah semua akan baik – baik saja. Hingga sore itu aku dengar namanya disebut lewat pengeras suara masjid. Saat itulah aku benar- benar menyesali semuanya. Semua sudah terjadi. Dia telah pulang lebih dulu...

“Besok aku pergi kawan... aku bertugas mengajar di tempat yang jauh. Jauh dari tempat kita bermain dulu. Jauh dari jalan yang sering kita lewati. Jauh dari kampung halaman kita ini. Jauh dari sekolah tempat kita belajar dulu...”. Aku diantar kakak iparnya ke makamnya. Diatas tanah yang masih basah itu. Aku pamit dengan mengusap batu nisannya. “Namamu terukir di batu ini kawan, tapi hatimu dan persahabatan kita, akan selalu aku bawa. Maafkan aku mengabaikanmu di saat – saat terakhirmu. Bismillah, Alloh menyayangimu”. 
                                                           
                                                           (Gambar ilustrasi- spoiled google)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar