Selasa, 21 Mei 2013

“PINJAMI AKU CINTAMU SEKALI LAGI”


Menelusuri jalan yang pernah kita lewati berdua semua masih tampak sama, basah dan menenangkan hati. Kulihat pohon – pohon dihutan itu masih hijau, embun jatuh hingga ke sungai yang dingin dan jernih. Sejuk. Kau pernah di sini, membasuh wajahmu mencerahkanku. Tanpa sadar aku tersenyum mengenang semuanya. Kau di mana sekarang? Sudahlah. Seharusnya aku fokus pada diri dan masa depanku saja, tanpa harus memikirkan ini. Aku kembali melangkah pelan, kembali melihat sawah – sawah hijau lengkap dengan senyum para petani yang giat merawatnya. Pagi yang sangat sejuk, sesejuk hatiku saat bersamamu dulu. Kulanjutkan ayunan kakiku, kembali terngiang gurauanmu saat berjalan di antara sawah – sawah ini. Kenapa semua masih tentangmu? Padahal kau telah pergi, tak di sini lagi. Kuurungkan melanjutkan jalan pagi kali ini, dari pada aku terus mengingatmu sepanjang jalan. Kurebahkan semua kepenatan tentangmu di pagi yang dingin ini. Berharap bayangmu menghilang setelah ku membuka mata. Dinginnya dataran tinggi desaku, membuatku kembali membenamkan sejuta masalah ini dalam mimpi.

Kembali kubuka tulisan dan gambar foto kenangan kita, tempat di mana kita pernah menikmatinya berdua. Telalu banyak hal yang harus kulupakan, terlalu banyak memori yang harus kuhapus. Semakin aku mencoba menghilangkan semua dari ingatanku, semakin semuanya kembali tergambar jelas. Kau pernah di sini, entah sebagai apa. Tapi yang aku rasa, kau adalah kekasihku. Aku tak tahu apa di hatimu masih mengingat tempat ini, rumah ini;  tempat di mana kau sering mengunjungiku, gunung – gunung yang tinggi, air yang dingin, angin yang sejuk... dan apakah kau masih mengingatku? Beribu pertanyaan kembali membuatku gelisah. Terlalu sulit untuk melupakan tiga tahun kebersamaanku denganmu. Harusnya aku sadar dari awal dengan risiko hubungan ini. Menjadi yang kedua itu, pahit!

Dalam setengah kekecewaanku, harusnya aku bersyukur pernah bersamamu dan memilikimu. Melewati semuanya berdua, tertawa bersama dan menemanimu saat tangis. Sebenarnya mungkin aku yang bersalah, memintamu: sebuah hati yang sudah dimiliki oleh orang lain. Walaupun saat itu dia sedang jauh darimu. Kau menyanggupinya dengan syarat; meninggalkanku saat dia kembali. Saat itu aku tidak berfikir akan sesakit ini saat kau benar – benar pergi. Yang aku rasa saat itu hanya kebahagiaan karena bisa memilikimu. Kini semua sudah berkahir, tiga tahun terasa berjalan sangat cepat. Lebih cepat dari detak jantungku tiap kali mengingatmu.

Ba’da Magrib petang ini terasa lebih sepi dari biasanya walapun tak terhitung suara belalang yang asyik bernyanyi di belakang rumahku. Aku melihat garis wajah ibuku yang semakin menua sedang menyiapkan makan malam. Di seberang sana, bapakku masih sibuk dengan sebatang rokok di bibirnya. Sementara aku mati – matian mengumpulkan konsentrasiku yang terpecah agar aku bisa menyelesaikan tugas akhirku. Memang sekarang aku lebih banyak di rumah dari pada stay di kos-kosan agar lebih bisa berkonsentrasi dengan tugasku. Aku bertekad memakai toga di kepalaku tahun ini. Menyelesaikan semuanya dan ingin bekerja di tempat yang jauh: jauh meninggalkanmu, jauh dari semua kenangan kita meskipun sebenarnya enggan untuk meninggalkan rumah dan kampung halamanku.

Aku akui, semua sangat berat bagiku! Keharusan melupakanmu karena batas waktu, lebih seperti halnya kontrak cinta yang telah habis masa kebersamaannya dan mau tidak mau harus meninggalkannya. Payah benar aku ini, harusnya sudah aku antisipasi semuanya. Salahku, aku seperti tak ingat bahwa aku hanya meminjam ragamu dari sebuah hati yang sangat setia. Haruskah aku membenci dan menyalahkan semuanya? Aku terus bergelut dengan pikiranku sendiri. Ya Tuhan, pecah sudah konsentrasiku. Kenapa cinta itu harus membuat sesak dan pikiran kacau seperti ini. Aku tak akan bisa melupakan saat kita tertawa di meja sudut rumah makan itu, aku juga belum mampu melupakan tangismu saat kau dalam masalah. Kenapa aku begitu mencintaimu.

Aku termenung di sudut ruangan perpustakaan. Di kampus ini, aku pernah bersamamu. Aku beranjak berdiri berharap membuyarkan ingatanku tentangmu, menuju buku – buku tebal berhimpitan. Satu – satu buku di rak besar ini kusisir untuk kusesuaikan dengan judul Skripsiku. Rasanya berjuta bukupun tidak ada yang sesuai, bukan karena bukunya tapi karena fikiranku yang terlalu bodoh tidak bisa membagi space dengan benar. Hingga di otakku hanya penuh terisi tentangmu. Dua jam aku berenang dalam jurnal karya penulis – penulis handal. Akhirnya, sedikit ada peningkatan, nanti akan kusalin dan besok menghadap dosen. Mudah – mudahan dosen bermurah hati dan melancarkan Skripsiku ini.

Hitungan bulan sedah kulewati berjuang mengerjakan tugas akhirku dan berjuang menghapus satu persatu guratan wajahmu di hatiku. Setengahnya terbayar; aku bisa menyelesaikan Skripsiku tapi sayangnya aku gagal melupakanmu. Bulan depan aku meniggalkan kampus ini, meninggalkan kenangan kita, meninggalkan kesakitan ini – aku harap. Besok akhir pekan, aku akan pulang merefresh kepenatan otakku setelah dua pekan stay di kos demi menyelesaikan tulisan tebal ini. Barang – barang mulai aku rapihkan, agar saat wisuda nanti aku tidak kerepotan membawanya. Ku buka ponselku, membaca kembali pesan dari kakak iparku di Jakarta. Sudah kuputuskan, aku akan bekerja di sana. Itu akan sangat lebih baik karena aku bisa memulai semuanya dengan semangat baru.

Kembali aku menatap gunung tinggi yang sejuk lengkap dengan hamparan padi hijau dibawahnya. Kusandarkan tubuhku di batu, sesekali terasa aliran sungai dingin ini melewati dua kakiku yang kujuntaikan di sana. Menatap lebih dalam dan kupejamkan kedua bola mataku. Saat kubuka, tidak terasa air mata mengalir di kedua pipiku. Beban hati yang aku pendam sendiri seolah tertumpah sudah sekarang. Aku lihat diriku di air sungai yang bening, tampak kurus dengan guratan masalah berat tergambar jelas di wajahku. Senyumku yang dulu, sekarang telah pudar. Besok aku akan ke Jakarta, kakak iparku sudah menyiapkan tiketnya. Aku akan meninggalkan kampungku tercinta dan meninggalkanmu yang pernah tinggal di hatiku!

*Sebelum insan yang terluka hatinya itu duduk menepi di batu sungai, dia menulis puisi di secarik kertas untuk orang yang paling dia cintai – yang telah pergi meninggalkannya. Diremas dan dilemparkan kertas itu, berharap sampai kepada orang yang dia sayangi melalui aliran sungai dan terbaca olehnya.
Jika aku tahu dingin akan membuatku sakit, aku tak akan ikut masuk
Jika aku tahu malam akan membuatku sepi, aku tak kan berani keluar
Jika aku tahu melihatmu akan membuatku sakit, aku tak kan menangkap bayang ragamu
Jika aku tahu itu semuanya, tak akan pernah aku mencoba menyentuh hidupmu

Karena kamu. Aku mencintaimu.
Lalu,
Apa salahku jika aku mencintaimu?
Di hilir sungai, sampailah kertas itu pada seseorang yang mempunyai senyuman, mata dan hati yang sangat indah, dan tersenyum saat membacanya.