Kamis, 25 Juni 2015

Aku Yang Terbagi
Munji Hardani/ 200615
“Aku begitu sangat bahagia denganmu, tapi aku juga sangat nyaman bersamanya”... itulah sebuah perasaan yang aku tuangkan dalam kalimat yang terus ada di fikiranku. Saat ini aku duduk sendiri di sebuah bangku taman di pagi yang cerah. Mungkin sudah dua jam lamanya aku memandangi sisi jalan di seberang taman yang terus silih berganti dilewati, semua orang datang dan pergi melewati jalan itu. Hanya sisa telapak alas kaki yang tertinggal saja, atau bahkan tak berbekas sama sekali. Seandainya hatiku bisa seperti itu, tidak membekas walau kau menginjak terlalu keras. Tapi hatiku bukanlah jalan di seberang taman itu. Hatiku tetap bisa menyimpan kenangan walau tidak pada setiap wanita yang singgah padaku.
Semua mungkin akan baik – baik saja jika hanya ada satu cinta yang membekas di hatiku. Tapi ini benar – benar di luar kuasaku. Jika kamu merasa sakit karena aku dengannya, lalu bagaimana dengan dia saat aku denganmu? Jika kalian menganggapku orang yang paling jahat karena tidak menjalaninya bersama, justru aku akan menjadi orang yang paling jahat jika memilih satu di antara kalian berdua. Jika kalian bertanya siapa pihak yang paling tersakiti, akulah orangnya. Aku tidak bisa membagi hatiku karena kalian memang benar  - benar menempati ruang sama besar di hatiku. Jika aku memilih satu diantara kalian, aku akan sangat sakit saat harus melihat orang yang aku cintai patah hati. Jika aku harus pergi untuk tidak memilih siapapun, tentu aku akan merasa dua kali lebih sakit karena harus melupakan kalian berdua dalam satu waktu.
Aku terus terdiam di bangku ini, memandangi belalang yang terus melompat di atas rumput hijau yang tenyata bisa menusuk seperti jarum jika diraba dengan pelan. Tapi belalang itu tidak merasakan sakit, mungkin warna hijau itu terlihat lebih indah dari pada runcingnya ujung rumput – rumput itu. Belalang itu terus melesak melewati rumput yag rimbun kemudian dia terhadang pada sebuah got kecil. Dia berhenti sejenak seperti berfikir akan melanjutkan perjalanannya atau mundur saja. Aku ikut penasaran melihat tingkahnya, kira – kira langkah apa yang akan dia pilih. Terlihat belalang itu mulai bergerak mundur ke belakang tanpa membalikkan badan. Tanpa sadar bibirku berucap “Akh, payah sekali dia....!”. Tapi sesaat kemudian mataku terbelalak ketika tiba – tiba belalang itu melompat tinggi dan berhasil melewati got itu. Ternyata tadi dia mengambil ancang – ancang. Aku kira dia sudah menyerah dan mundur. Belum surut keherananku, dari arah yang berlawanan terlihat seekor katak yang tiba – tiba saja melompat namun sayangnya dia masuk got. Tanpa sadar aku kembali berucap “Akh, sial!”
(doc. google)
Kepalaku mengernyit mengingat dua peristiwa tadi, belalang berhasil melewati got itu. Dia terlihat penuh perhitungan, hati – hati dan penuh keyakinan. Sementara katak yang melompat dengan tiba – tiba, ternyata tidak berhasil. Mungkin Tuhan memberikan pelajaran dari peristiwa kecil tadi. Bukan masalah berhasil atau gagal, tapi yang terpenting adalah sebuah keberanian untuk mengambil sebuah keputusan. Usahakan dengan sungguh – sungguh, dengan ancang – ancang yang bagus. Atau serta merta saja dan lakukan. Ya, mau jadi katak atau belalang yang terpenting adalah “keputusan”. Katak dan belalang saja tidak hanya menunggu sampai got merapat tanpa celah. Kenapa aku seolah hanya menunggu agar masalah ini selesai dengan sendirinya?
Aku bergegas meninggalkan taman itu, menuju pada dua hati yang sedang menunggu keputusanku. Bel pintu sudah kupencet untuk kali yang ke-tiga. Keluarlah wanita bersahaja dengan senyum tulus. Sebuah ketulusan yang sebenarnya, tanpa dibuat – buat. Sebuah hati yang dengan sabar menanti keputusanku apapun jawabannya. Sebuah hati yang banyak berkorban. “Aku.... tidak bisa menjalaninya denganmu. Maafkan aku”. Wajah yang tertunduk dan mulai kulihat butiran air mata jatuh satu – persatu. Kepahitan yang sangat terlihat, sebuah perasaan kecewa yang jelas tergambar. Kami terpaku dalam jarum jam yang terus bergerak. Lama sekali kami memahami dalam kosong. Tapi semua sudah terucap. Jarum pendek di jam dinding itu sudah bergerak maju, dia mulai mengangkat wajahnya dan tersenyum. Tanpa gemetar dia berkata “Selamat, kamu sudah mampu bergerak. Bergelut dengan ini, tentu sangat sulit kan?”. Kami berdua tersenyum, semoga ini menjadi sejarah pendewasaan yang kuat. Saat aku melangkah pergi dari rumah itu, aku tidak berani lagi menengok ke belakang. Karena aku yakin, air matanya kembali menggenang dengan kata pisah ini.
Belum usai, ada satu hati lagi yang sedang menungguku di sana. Seorang wanita ceria yang membuat hari – hariku sangat berwarna. Seseorang yang membuat suasana menjadi ramai dan hangat. Sebuah kenyamanan yang selalu dia berikan. Kami bertemu di sebuah tempat makan di mana untuk pertama kalinya kami terpaut pada perasaan cinta. Dengan girang dia berkata “Hei..., kemana saja. Lama sekali. Kangen...”. Namun sesaat kemudian raut mukanya mulai berubah perlahan. Seolah dia tahu kalau aku akan mengatakan hal yang penting.. “Aku sangat nyaman denganmu. Tapi maaf sekali, aku tidak bisa lagi denganmu”. Dai mematung untuk beberapa saat setelah kata – kata itu keluar dari mulutku. Dia mulai memalingkan wajahnya dan jelas sekali dia menangis sesenggukkan. Baru pertama ini, aku melihatnya menangis. Seseorang yang lebih banyak tertawa ceria, aku membuatnya menangis di hadapanku. Saat dia berbalik lagi, aku melihat wajahnya benar – benar sembab berurai tangis. Dengan sesenggukkan aku mendengarnya jelas “kalau ini memang keputusanmu, semoga kamu bahagia dengannya”

Mereka tidak tahu kalau aku tidak memilih satu di antara keduanya. Aku tidak ingin menyakiti salah satunya. Kalaupun aku memilih, tentu tidak bahagia karena aku akan kehilangan salah satu. Mungkin lebih baik begini. Aku kembali terbersit... apakah ini keputusan belalang atau katak? Biar waktu saja yang menguraikannya. Karena waktu semuanya akan sembuh, karena waktu semua akan kembali, karena waktu semua akan pergi. Aku percaya Tuhanlah yang memberikan perasaan cinta. Tuhan pula yang akan mencabutnya kembali, jika Dia menginginkannya. Dan Tuhanlah yang membolak – balikkan hati dan perasaan manusia. Aku akan pergi, menjalani keputusan yang aku ambil. Aku akan pergi di suatu tempat baru dengan kehidupan yang baru. Jika di sana adalah jodohku, mungkin aku adalah si belalang yang mujur. Tapi jika ternyata aku jatuh ke got .... “Maka Tuhan..., pilihkanlah salah satu di antara mereka menjadi jodohku dan menarikku kembali menyusuri rumput hijau- meninggalkan got itu”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar