Mimpi
(Aku Yakin Rasa Itu Akan Pergi)
030715
“Melambung jauh,
terbang tinggi bersama mimpi..........
........ Setelah
aku sadar diri, kau telah jauh pergi. Tinggalkan mimpi yang tiada bertepi”
Mimpi. Aku
memang menyukai lagu ini. Sering aku mendengarkannya berulang kali. Tapi entah
kenapa hari ini aku memutarnya lebih banyak dari biasanya. Syair pada lagu ini
benar – benar mampu menggambarkan perasaanku saat ini. Aku merasa kamu akan
pergi jauh dari hatiku, saat aku tidak lagi ada di dekatmu.
Delapan bulan
yang lalu kamu tiba – tiba hadir, masuk ke dalam kehidupanku dimana saat itu
aku masih merasa bebas dan sangat bahagia dengan kesendirianku. Aku mengenalmu
dengan baik sejak kita kecil dulu, jadi belum ada rasa apapun ketika kamu mulai
hadir. Waktu membuat kita menjadi dekat. Kedekatan itulah yang membuat
perasaanku menjadi lain. Aku mulai menyukaimu. Bagaimana bisa aku menjadi
begitu memikirkanmu, bahkan aku tidak tahu kapan perasaan itu mulai muncul.
Sering aku bergelut dengan hatiku sendiri dengan pertanyaan yang sebenarnya aku
sudah tahu jawabannya tapi berusaha aku tepis; “Benarkah aku mulai
menyukainya?”. Dan dengan mati – matian aku menyangkalnya. Tapi saat ini kamu
begitu indah di mataku, terlalu naif jika rasa ini aku abaikan begitu saja.
Entah kenapa.... “Tuhan, kenapa rasa ini harus ada?”
Hari ini kita
berdua menikmati indahnya puncak Sikunir. Menikmati sejuknya angin pegunungan
yang masuk hingga ke ulu hati. Aku menunggu dinginnya angin ini menjalar ke
seluruh tubuhku, hingga sejuknya masuk ke otakku. Berharap perasaan sayangku
terbang bersama angin ini agar aku tak lagi memikirkanmu. Berharap rasa cinta
di hatiku beku agar aku tak lagi menginginkanmu. Dan saat mataku mulai terbuka,
ternyata rasa itu masih ada. “Indah sekali ya?”, dia mulai membuka percakapan. Aku
Cuma menjawab singkat, “Iya” dan menggangguk pelan. Aku tidak bisa berkata
lebih banyak lagi. Seandainya kamu tahu, keindahan alam ini seperti keindahanmu
di mataku.
Kesejukkan angin
gunung ini berangsur mulai berganti dengan sinar – sinar yang terang nan
hangat. Matahari mulai menghangatkan jiwa dan hatiku. Seolah dia tahu betapa
suasana hangat seperti ini bersamamu ingin aku hentikan sejenak. Agar aku bisa
memandang wajahmu lebih lama, melihat senyummu lebih lama dan menatap matamu
lebih lama. Semua terasa terlalu singkat jika kita bersama.
“Abis ini, kita
kemana lagi?”
“coba aku liat mapnya”.
Kemudian dia
menyodorkan brosur peta lokasi wisata yang petugas berikan di pintu masuk
kemarin. Kami memang sengaja datang dari hari kemarin siang, membuat kemah dan
bermalam di sini. Rencana yang sempurna, kami pergi berdua saja.
Setelah aku
perhatikan sejenak brosur itu, aku putuskan untuk menikmati telaga Warna.
Ternyata dia setuju. Begitulah dia, selalu mengiyakan apa yang aku inginkan.
Aku juga tidak tahu kenapa dia begitu baik kepadaku. Seandainya dia tahu isi
hatiku.
Kami menelusur
jalan halus yang berkelok dan sedikit naik turun. Akhirnya kami sampai juga di
telaga ini. Pancaran sinar matahari memantul dari telaga. Membuat air di telaga
ini seolah bersinar – sinar, menambahkan keindahan padaku yang sedang asyik
menikmatinya.
“Kenapa kamu
pilih tempat ini? Hmmm.... padahal banyak banget pilihan tempat di sini.
Misalnya kawah Cikidang yang menjadi andalan...”.
“Coba lihat ke
tengah telaga ini... sebelah sana (aku mulai menuntun tangannya). Ibarat sebuah
hati, itu adalah hati yang diingnkan oleh setiap manusia. Hati yang tenang.
Setiap manusia selalu menginginkan ketenangan. Saat manusia punya sahabat, dia
berharap agar bahagia. Saat mereka mencari pekerjaan yang baik, mereka berharap
akan bahagia dengan upah yang mereka dapatkan....”
“Terus, apa
hubungannya dengan ketenangan yang tadi kamu katakan itu?”
“Coba telisik
lebih dalam lagi, apa efek terbesar dari sebuah kebahagiaan? Itu adalah ketenangan.
Hati dan jiwa menjadi tenang. Aku ingin seperti air di telaga itu. Menjadi hati
yang tenang”.
“Oh... begitu.
Akh, kamu terlalu dibawa perasaan!”
“Hahahaha....”.
kami tertawa bersama.
Kami putuskan
sore itu untuk pulang, menyudahi perjalanan yang sudah kami rencanakan dengan
matang. Sepanjang perjalanan, aku putuskan untuk tidak melewatkan setiap detail
percakapan. Aku terus memperhatikannya di antara hutan – hutan yang kmai
terobos, di antara asap gunung yang berhembus dingin. Aku merasa ini adalah
perjalanan terakhirku dengannya sebelum aku pergi yang aku sendiri enggan untuk
ditanya “kapan kembali?”, aku bahkan belum memikirkan apakah aku akan kembali
atau tidak. Mungkin aku akan pulang jika semua keadaan di sini menjadi lebih baik
dalam tatanan pskologisku. Terlalu banyak hal yang aku lalui akhir – akhir ini.
Kalau ingat hal itu tentu aku sangat bersyukur bisa memilikimu di akhir
waktu sebelum kepergianku. Rasanya aku tidak akan mengungkapkan perasaanku
sekarang, aku belum sanggup kamu berubah jika aku mengungkapkannya.
“Laper, kita
makan dimana?”
“Di mana ya..,
kamu mau makan apa?”
“Apa ajalah,
yang anget – anget aja. Dingin banget soalnya”
Aku melihatmu
dengan senyum, berharap ini bukan perjalanan terakhir kami. Suap – demi suap,
kamu terlihat menikmati sup ini. Sementara aku, makanan ini terasa tertahan di
kerongkongan saat mengingat kalau aku akan meninggalkanmu, meninggalkan
kebersamaan kita yang baru sebentar. Dan aku sudah tidak peduli lagi apa status
hubungan ini. yang jelas, aku bahagia denganmu. Sangat bahagia saat di dekatmu
dan menjadi tenang. Seperti ketenangan telaga itu yang aku ungkapkan padamu
siang tadi.
Kamu tersenyum
padaku sebelum akhirnya kami berpisah ke rumah masing – masing. Aku melihat jam
dinding balaiku dan sudah menunjukan tepat jam delapan malam. Lelah
sekali rasanya, dan tentu aku juga lelah memikirkanmu. Karena aku sayang kamu.
Tapi percuma saja aku ungkapkan, itu hanya akan membuat kebersamaan ini menjadi
tidak nyaman. Aku tidak mau di akhir keberadaanku di sini, akan membuat
semuanya menjadi berantakan.
Aku melihat foto
– foto yang kamu kirimkan lewat inbox sosial media. Aku tersenyum
membayangkan polah lucu ita di foto itu, tapi setelahnya perasaanku menjadi
tidak menentu. Aku tidak tahu, perasan apa ini sebenarnya..
Aku tidak
menyalahkanmu yang tiba – tiba hadir. Tidak pula menyalahkan perasaanku.
Sudahlah, aku terlalu lelah hari ini. “Tuhan pejamkan mataku malam ini, dan
bangunkan kembali esok dengan perasaan yang lebih ringan. Aamiin”. Dan akupun
tertidur.
-Terkadang,
sesuatu menjadi lebih indah saat kita menutup mata. Meskipun kita menyadari itu
hanya mimpi. Tapi setidaknya itu membuat kita bahagia, walau hanya sementara-


