Sabtu, 27 Juli 2013

Sinar Hati



Sinar Hati
 “Bukan usia yang terlalu cepat menyentuh angka
  Bukan orang di sekitar kita yang terlalu cepat beranjak
  Tapi waktu yang terlalu cepat berjalan

Hembusan angin masih seperti dulu, semilir…
Semilir menggoyangkan daun hijau
Panas mataharipun masih sama, menyengat…
Menyengat seperti saat aku kecil dulu

Namun raga kita tak pernah sama di setiap detik
Berubah pada titik yang tak pernah berhenti

Siapa yang mampu menghentikan waktu?
Siapa yang mampu menghentikan kebahagaiaan tetap di tempatnya…?
Tidak ada.
Karena waktu merajai hidup
Dan akan tetap seperti itu
Bahkan setelah kita tidak merasakan hidup lagi”

…………………………………
Di pagi yang belum terlalu panas ini aku berjalan, sengaja untuk melemaskan urat kaki. Kemudian mataku tertuju pada bangku semen berjajar di bawah pohon – pohon rindang. “Pasti sangat sejuk”, pikirku. Akhirnya aku duduk dengan disapu semilirnya angin, menambah nikmatnya suasana pagi ini. Jarum jam mulai beranjak detik demi detik, sinar pagipun mulai hangat menembus pori – pori kulitku. Kehangatan sinar yang selalu kurindukan. Saat jarum jam menunjuk hampir pukul sebelas, disekitarku mulai ramai beberapa orang beraktifitas. Mereka terlihat dengan wajah yang sangat sumringah, mungkin karena ini suasana libur. Salah satu yang menarik perhatianku adalah seorang bapak yang berlari – lari kecil. Perutnya terlihat lebih besar dari ukuran normal, aku jadi membayangkan, mungkin beberapa tahun lagi perutku akan seperti itu. “Lucu kali ya…”, kataku dalam hati.

Kemudian mataku menengok ke arah kiri, di sana terlihat keakraban seorang bapak dengan anak perempuannya yang mulai beranjak remaja. Dengan sabar dan telaten, bapak itu mengajari anak gadisnya mengendarai sepeda motor. Aku berkata dalam hati sambil tersenyum, “Mungkin beberapa tahun lagi aku juga akan seperti itu, mempunyai anak dan mengajarinya banyak hal”. Disaat aku mengemati mereka itulah, tiba – tiba bapak yang sedang berolah raga tadi bertanya, “Maaf, sekarang sudah jam berapa ya Pak?”. Aku menengok kanan – kiri, setelah yakin dia bertanya padaku, aku menjawab, “Jam sebelas kurang sepuluh menit Pak..”. Kemudian dengan sedikit gugup dia berkata “Wah, sudah kelewat nih. Mari Pak…., saya pualng duluan”. Kemudian aku menjawab lirih seraya mengangguk.

Dari kejadian tadi, aku merasa aku mulai tidak mengenali diriku sendiri. Aku merasa ada perubahan yang belum atau bahkan tidak aku sadari. Panggilan “Pak” tadi, membuatku melihat diriku lagi; badan, tangan, kakiku… kemudian aku berkaca melihat wajahku dari layar ponselku. Kemudian aku melirik lagi ke tempat dimana ayah - anak itu bersenda gurau tertawa sambil serius belajar berkendara. “Akh, rasanya baru kemarin aku dipanggil ade, mas, om … dan ternyata sekarang … orang sudah tidak segan lagi memanggilku dengan sebutan – Pak- “.

Aku mulai menerawang ke langit dimana warna putih itu memetakan panasnya langit di siang ini. Aku masih ingat saat aku masih berseragam putih biru. Pulang sekolah bersama teman, aku masih ingat panasnya sinar matahari kala itu. Panasnya masih sama di kulit. Bahkan saat aku belum kenal bangku sekolah ketika aku bermain dengan teman sebaya di siang yang panas…, panasnya masih sama. “Huft…., ternyata aku sudah melewati banyak hal”, gumamku. Pikiranku mulai mengingat banyak hal yang sudah terjadi dalam hidupku. Mengingat kembali masa berseragam putih – abu-abu, “Dimana ya mereka sekarang?”, tanyaku dalam hati. Kemudian aku teringat dengan teman – teman kuliahku yang sekarang sudah menyebar, aku terasa merindukan mereka saat ini.

…………………………..
Mengingat masa – masa kuliah itu, mengingatkanku pada seseorang yang hampir tidak pernah aku lupakan dari setiap hal yang aku pikirkan. Dua tahun sudah aku mendapatkan gelar sarjana, dua tahun pula aku seperti tidak mengenal seseorangpun di hatiku selain kamu. Aku sangat menyesal kenapa aku tidak menyatakan isi hatiku padamu saat itu. Sekarang kamu sudah jauh, belajar di negeri seberang sana. “Apa kamu baik – baik saja?”, tanyaku dalam hati. Aku mengecek phonebook di ponselku. Ada namamu… “Akh, inikan nomor HPmu saat kamu masih di Indonesia…”, kataku menyadarkan diri sendiri. Kejadian siang tadi benar - benar mengingatkanku padamu, membuatku berpikir tentangmu lagi. Kurasa sekarang tidak ada lagi hal yang bisa aku lakukan. Aku pun tak bisa lagi mengetahui keadaanmu sekarang. Aku buka akun dunia mayamupun sudah tidak aktif.

Kenapa sekarang aku sangat menyesal? Aku tidak menyia – nyiakanmu kala itu. Aku hanya belum punya keberanian menyatakan rasa sayangku padamu. Yang aku tahu hanya… -aku mencintaimu- tanpa aku tahu bagaimana cara mengungkapkannya. “Akh, bodohnya aku..”, kataku dalam  hati. Tapi waktu tidak bisa kembali. Aku hanya bisa berharap, saat kau kembali dari belajarmu di USA nanti, aku masih punya kesempatan mengungkapkan isi hatiku padamu. Hingga kau mampu merasakan hangatnya sinar ketulusan hatiku, yang lebih hangat dari sinar matahari pagi yang selalu kita rasakan. Semoga.