Kamis, 25 Juni 2015

Percakapan Aku Dan Emak
Munji Hardani/ 200615

..................................................................
“Aku ingin kuliah ma...”
“Tidak ada yang menyuruhmu bekerja se-dini ini. Kalau mau kuliah, pulang& kuliahlah dengan tekun sampai selesai, jangan putus di tengah jalan karena kamu yang menginginkan sendiri. Kalau mau bekerja, tetap di sana& bekerjalah”
“Aku ambil jurusan guru bahasa Inggris ma...”
“Kamu yang pilih, jalanilah sampai akhir”
“Aku diterima di RR* ma, siaran di sana”
“Kerjakanlah, itu pekerjaan yang baik dan halal. Dari situ kamu akan menemukan banyak pengalaman berharga”
“Aku mulai besok ngajar di bimbel ma...”
“Itu bagus, biar kamu terus ingat ilmu yang didapat selama kuliah. Itu bisa menjadi jembatan untuk mengajar di sekolah”
“Aku diminta mengajar di sekolah ma... Berarti beberapa hari dalam satu minggu, aku harus lintas kabupaten”
“Jika kamu yakin mampu, pasti bisa jalani dua – duanya. Yang penting jaga kesehatan dan selalu ingat Allah saat berkendara”
“Aku mau berhenti siaran ma..., mau mengajar saja”
“Ya, kamu yang memilih. Kamu yang menjalani, kamu tau yang terbaik untukmu. Kalau itu sudah keputusanmu, tekunilah”
“Aku besok mau tes untuk mengajar di luar Jawa ma... kalau pulang dalam satu hari, berarti belum lolos. Tapi kalau sampai dua hari berarti lolos”
“Ini baju untuk dua hari, InsyaAllah lolos”
“Aku tugas di Kupang ma..., satu tahun”
“Kerjakan dan jalanilah di manapun kamu hidup. Merendahlah – jangan sombong. Jangan lupakan sholat”
“Aku harus kuliah lagi ma...”
“Ya, fokuslah. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu. Belajarlah dulu, jangan fikirkan yang lain. Bersabarlah, kalau sudah waktunya... nanti kamu akan mendapatkan seperti yang lain dapatkan”
“Aku kerja di hotel ma....”
“Kerjakanlah dulu, yang penting halal. Setidaknya itu dapat meningkatkan kemampuanmu di bidang lain”
“Aku keluar kerja ma...”
“Tidak apa – apa, istirahatlah dulu... Kamu sudah terlalu keras berusaha. Rehat sejenak. Tenangkan pikiran. Sehatkan badan.”
“Aku ditawari mengajar ma, tapi sekolah kecil”
“Terimalah, jangan pikirkan materi. Niatkan ibadah”
“Aku mau ikut tes untuk mengajar luar Jawa lagi ma... tapi untuk waktu yang lama, bukan lagi setahun”
“Ya, aku berdo’a untuk cita – citamu. Apapun, selama itu baik... semoga tercapai”
“Aku diterima di Alor ma ...”
“Berbahagialah. Bekerjalah – mengajarlah dengan baik. Banyak sekali orang yang sedang berjuang tapi belum mendapatkan kesempatan sepertimu. Jangan lupakan siapa yang memberikanmu semua ini. Tetap beribadah, jangan lupa sholat”.
..............................................................
Dan ceritanya masih akan terus berlanjut selama mamaku masih diberi umur panjang. InsyaAllah, Aamiin.
Begitulah, orang tua selalu mendukung apa yang kita lakukan. Memberi semangat saat kita lemah, memberi arahan saat kita tidak tahu, berusaha meyakinkan saat kita ragu, mengingatkan saat kita lalai& memberi do’a tanpa putus. Tapi mereka tidak bisa berbuat lebih jauh dari itu, karena tetap kita yang memutuskan dan menjalani hidup kita sendiri. Jika hidup seperti lomba lari, maka mereka adalah suporter utama yang paling setia mendukung kita. Dan sebesar apapun motivasi yang diberikan, mereka hanya mampu melakukannya di luar garis. Tetap kita yang harus berlari, harus berjuang mencapai puncak untuk hidup kita sendiri. Saat kita jatuh, tengoklah sejenak wajah mereka di luar garis. Kemudian palingkan kembali wajahmu ke depan& kembalilah berlari, maka kamu akan mendapati mereka mengayunkan bendera kemenangan di garis finish.

Masih banyak -percakapan aku dan emak- yang belum aku tulis... Tapi yang pasti, orang tua tidak pernah menampakkan rasa sedihnya di hadapan kita. Seperti ketika aku berkata, “Malam ini aku ada jadwal siaran ma...”.
Dengan tersenyum dia menjawab “Ini mantelnya nak, berangkatlah. Itu adalah tugas dan amanah yang harus dikerjakan. InsyaAllah aman”. Walaupun akhirnya aku tahu, dia menangis dalam sholatnya dan tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan anaknya yang menempuh perjalanan malam 40 kilo meter dalam keadaan hujan lebat”.
Begitu juga ketika aku benar – benar terpuruk dan menangis di pangkuannya seraya berkata, “Dia besok menikah ma...”.
Dengan bijak mamaku menjawab, “Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Belum jodoh. Toh kalian sudah berusaha. Selama apapun menjalin hubungan, kalau bukan jodohnya.. mau bagaimana lagi. Tetaplah fokus pada cita – citamu. Kamu sendiri yang bilang untuk tidak memikirkan hal itu sebelum cita – citamu tercapai. Mungkin ini adalah cara Alloh memberikan kesempatan itu. Setiap manusia sudah ditakdirkan dengan jodohnya masing – masing”. Seolah perkataannya tidak tidak ada gurat kesedihan. Padahal aku tahu, dia mengucapkannya dengan suara gemetar. Sementara aku, masih di pangkuannya sambil menatap kosong. Dan rasa sakit masih membekas, sampai setahun berlalu.

Lalu bagaimana dengan bapakku? akh, itu jangan ditanya. Dia punya cara sendiri untuk mendukungku. Tidak terhitung sudah berapa kali bapa menunggu dan menjemputku sampai malam dari banyak tes yang aku ikuti. Tidak terhitung berapa banyak Bapak harus bangun pagi dan mengantarku kala itu, dengan sepeda onthel kesayangannya tentunya. Ditemani segelas kopi dan sebungkus rokok di kursi kesayangannya di sudut ruangan itu, aku tahu Bapak sedang memikirkan anak - anaknya lebih jauh dari yang aku fikirkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar