Minggu, 24 Maret 2013

-Menemani Hingga Ajalku-



                                                                                      oleh: Munji Hardani, S. Pd

Rambut putih ini sudah penuh bagai topi menutupi kepalaku. Pundak ini sudah turun tidak setegar dulu melindungimu. Tangan ini tidak sekuat saat aku memegangmu di keramaian. Suaraku tidak selantang dulu yang bisa menghardik orang – orang yang menyakitimu. Kaki ini juga tidak sesigap dulu, yang selalu menjemputmu hingga aku pastikan kamu baik – baik saja. Tapi satu hal yang tidak yang tidak berubah, mencintaimu tanpa ukuran waktu. Ya, didampingi olehmu adalah hal yang paling indah yang aku rasakan. Betapa tidak sebanding dengan barter waktu yang aku berikan untuk hidup denganmu; kau memberikan lebih dari yang aku inginkan. Betapa aku merasa menjadi lelaki yang sangat beruntung.

Lebih dari enam puluh tahun sudah aku dimanjakan dengan kebaikanmu, ketulusan menemani dan senyum tanpa batas saat aku bahagia dan duka. Kala itu aku memilihmu tanpa ragu. Aura sederhana dan santun telah meluluhkan kesendirianku. Benar saja, saat aku sudah memutuskan untuk hidup bersamamu dalam ikatan pernikahan, kau tetap dalam santunmu, merawatku dalam sakit dan tetap bahagia mengikuti kemanapun usaha kebahagiaan itu kuarahkan. Kenangan saat kita berjalan bersama menyusuri indahnya pantai kala itu, senada dengan indahnya perjuangan kita membesarkan anak – anak dan melewati segalanya berdua. Kini, semua telah senja. Kau tetap bersahaja mengurusku, berbagi segala hal yang aku rasa berat. Kau perempuan yang benar – benar membuatku mengerti arti hidup yang sebenarnya. Kadang aku merasa kau adalah sosok malaikat yang sengaja Tuhan kirim untuk melengkapi kebahagiaan dalam menuntaskan perjalanan hidupku di dunia ini. “Menuntaskan”, benar saja. Semua dibatasi oleh waktu. Jika pembatas waktu itu bisa aku langkahi, aku ingin melewati sekali lagi semuanya bersamamu.

Aku lupa sudah berapa ‘pagi hari’ yang aku nikmati dengan suguhan kopi yang kau buat. Masih terasa manis, belum berubah. Hanya tubuhku yang semakin renta. Aku juga sudah lupa berapa kali kau mengucapkan selamat tidur dan menarik selimut hangat untukku. Aku sangat merindukan saat – saat dimana kau menugguku pulang kerja dan membukakan pintu lengkap dengan senyumanmu menyambutku.
“Ya Tuhan, aku berdilema dengan waktu. Kadang aku merasa ini waktu yang tepat saat Engkau memanggilku untuk kembali ke pangkuanMu di usia senja ini. Aku akan merasa sangat bahagia jika aku lebih dulu menghadapMu. Namun kadang aku merasa jiwaku adalah satu dengannnya; istriku tercinta….”    
Malam ini aku merasa semua badanku sakit. Entah apa yang terjadi, “mungkin penyakit tua”, pikirku. Tapi kali ini lain, aku seperti sudah tidak kuat menahan sakit. Tanpa sadar tubuh renta ini menggigil dan terjatuh. Sontak sayup - sayup kudengar kepanikan istriku memecah, namun aku sudah tidak bisa mendengar apa – apa lagi. Yang aku tahu hanya suara istriku yang semakin melemah dan hilang.

Sinar pagi yang menghangatkan kulit lemasku membuatku terbangun. Aku merasakan ada yang menempel di kepalaku, seperti kain dingin yang mengompres keningku. Saat menoleh sebelah kiri, sudah terlihat perempuan tercantikku merapihkan selimut yang sedari semalam menempel di tubuhku. Dengan lembut dia berkata “Selamat pagi pa…., syukur papa sudah siuman. Akhir – akhir ini papa banyak diam. Jangan terlalu banyak mikir. Jaga kesehatan”, ucapnya. Aku hanya tersenyum tulus merespon perhatiannya yang tidak pernah pupus sambil memegang tangannya yang sudah mulai rapuh. Antara takut kehilangan dan karena perasaan akan pergi jauh meninggalkannya. Tiba – tiba pintu terbuka, “gimana pa, sudah sehat? Jangan lupa diminum obatnya. Kata dokter semalam, papa kebanyakan mikir”. Ucap Alex. Alex adalah anak tertua dari ketiga anakku. Dia lebih sering mengunjungi kami akhir – akhir ini, terutama sejak aku sakit – sakitan. Begitulah, kebahagiaanku sangat lengkap; istri yang baik, anak – anak dan cucu – cucu yang perhatian. Tapi sekali lagi, waktu selalu  memupuskan apapun. Karena memang tidak ada yang kekal di bumi ini. Malam ini adalah malam kedua dimana aku sebenarnya sangat merasa sakit atas penyakitku ini, namun aku lebih suka mendengarkan cerita – cerita lucu istriku yang selalu berusaha menghiburku sembari menijit – mijit tubuh keringku ini setiap kali aku jatuh sakit seperti ini. Besok hari minggu, anak – anak dan cucu - cucuku akan singgah. “Ayo cepat sembuh biar bisa main bola lagi sama Yogi, cucu kesayangan papa. Besok dia datang lho..”, ucapnya sambil tersenyum. “Iya..”, jawabku singkat sambil membalas senyumnya.

Dengan sangat tiba – tiba aku terbangun pada senja pagi yang sangat dingin dan sepi. Nafasku satu – satu terasa menjadi sangat pelan dan terasa hanya sampai dadaku. Aku tak tahu apa yang terjadi, nafasku semakin berat. Lama aku merasakannya. Lalu dengan sangat pelan dan lirih aku mendengar suara istriku mengaji diantara sesenggukan isak tangisnya. Aku sangat berusaha membuka mataku kuat – kuat, tapi hanya gambar garis buram yang aku tangkap. Seperti orang – orang berkerumun, aku yakin mereka adalah anak – anak dan cucu – cucuku. Hembusan nafasku kali ini sangat keras, hanya tuntunan kalimat Syahadat yang aku dengar dan aku mengikutinya…

Teriakan seorang perempuan tua memecah ruangan itu. Setengah berteriak dia memanggil namaku. Perempuan yang selalu tegar bersahaja mendampingiku, tiba – tiba menjadi merasa sangat kehilangan. Kehilangan seorang pendamping, kehilangan sosok suami dan kehilangan teman hidupnya. Itulah istriku, yang tidak meneteskan air mata saat melahirkan anak pertamanya, tapi air mata bercucuran saat menyadari telah kehilangan sosok lelaki yang sangat dicintainya itu. Seusai posesi pemakaman, dia kembali pada sebuah kamar yang gelap dituntun oleh anak perempuannya. Banyak bayangan suka dan duka yang kembali terkenang. Kemudian dia meminta anak perempuannya untuk meninggalkannya sendiri. Kini perempuan rapuh itu benar – benar sendiri. Sambil berurai air mata ditariknya dua kertas tulisan terakhir yang ditulis almarhum suaminya. Dilembar pertama, tertulis begitu singkat dan dalam.
Untuk istriku tercinta,
kau tahu? Sebenarnya aku sangat takut ketika semuanya menjadi tua. Bukan karena aku takut kematian, tapi aku takut kau akan kesepian dan sendiri. Tapi aku juga sangat takut ketika aku menjadi sangat tua dan lemah dan tidak bisa melindungimu lagi. Aku sangat sakit dengan sakitku, tapi melihatmu adalah obat untukku tetap ingin hidup untukmu.

Kemudian di lembar kedua tertulis,
Jika nanti aku benar meninggalkanmu, jangan pernah menangis karena aku tak ada lagi. Jangan pernah melihat kursi yang setiap pagi aku duduk di sana menantikan secangkir kopi hangat dan manis buatanmu. Aku masih ingat ketika pertama aku memberikanmu cincin putih itu dan memintamu mendampingiku. Bahagiaku adalah mendapatkan cinta sejati sepertimu yang tetap di sampingku hingga ajalku. Terimakasih untuk terus menemaniku hingga aku tak tahu lagi arti membalas karena terlalu banyak yang telah kau berikan. Percayalah, hidup ini tidak akan hampa hanya karena tidak ada aku. Tetaplah tersenyum, untukku.
-Selesai-

Catatan:
Cerita ini ditulis pasca kepergian kakekku di usianya yang sangat senja pada awal Maret 2013. Aku dedikasikan tulisan ini untukmu; kakekku tercinta. Tepat pada hari Minggu sore 24 Maret 2013, nenekku menyusul. Selamat jalan, semoga kalian tenang di sisiNya dan digolongkan ke dalam kaum yang beriman dan bertaqwa pada-Nya. Amien.
Dan juga aku persembahkan puisi ini untuk kalian, yang aku tulis di tahun 2008 silam.

Ada Mati         (Purwokerto, 6 Juli 2008)
Aku merasa hampir dan bahkan seperti siap pejamkan mata
Meninggalkan ragaku
-Ternyata yang ada hanya aku dan Tuhan
Kemudian aku merasa melebur, benar! -
-Ternyata aku tak ada, untuk rasa dan raga
Hanya Tuhan selalu bertahan –
Aku tersadar;
- Aku tercipta bukan bagi Dia
- Hidupku bukan sepenuhnya aku
dan…
Bukan berhak untuk kumeminta kekal
Atau dianggap ada setelah aku datar
Aku tak tinggalkan apapun,
untuk jiwa yang pergi
Untuk raga yang hilang

Rabu, 20 Maret 2013

-Lepas Masa Lalu-



Created on January 11th 2013
Cerpen
Cerita Fiktif, terinspirasi dari kisah cinta seorang teman

-Lepas Masa Lalu-
Oleh: Munji Hardani, S. Pd
Aku sekarang di sini, entah apa yang membawaku hingga aku terduduk di kursi yang banyak orang idam – idamkan. Tak terasa sudah dua tahun sejak kelulusanku di bangku kuliah, aku berkutat dengan kesibukan ini. Hanya sesekali aku bisa menikmati hangatnya sinar pagi, terutama di akhir pekan. Menerawang jauh pada banyak hal yang telah aku lalui, membuatku bersih kukuh untuk melanjutkan hidupku di sini. Enggan untuk kembali, mengingatmu, dia dan semua. Kulonggarkan dasi yang  melilit di leher kerah bajuku. Menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya bersama banyangan – bayangan yang kuharap segera menghilang tanpa satu titik yang tersisa. Sengaja jam istirahat siang ini aku habiskan di kursi kerjaku, menyelam dunia maya sejenak hanya untuk mengobati kerinduanku atas goresan wajahmu, goresan luka yang aku buat untukmu. Baju itu menjadi saksi betapa aku pernah memujamu saat pertama aku meyakinkanmu untuk bisa menjalani bersamaku. Kalau sejuta kata maaf bisa membuatmu memaafkanku, aku akan ucapkan berjuta - juta kali lebih banyak dari yang mampu bisa aku ucapkan. Sungguh aku tak tenang dengan hatiku yang terus bergelut pada kesalahan itu. Semakin jauh aku menerawang pada empat tahun lalu. Statusku sebagai mahasiswa kala itu, membuatku menjadi sosok yang sangat mudah bergaul. Hingga aku menemukanmu. Keluguanmu terus membuatku memburu hingga aku bisa mendapatkanmu. Walau saat itu aku telah melewatkan satu hati yang telah menemaniku lebih dulu. Karena kamu aku menginggalkannya, karena kamu aku melupakannya; itu karena kamu adalah hati yang aku cari. Setelah aku mampu membuatmu bertekuk lutut di hadapanku, ternyata itu tak mampu mengubah kelakuanku yang terus memburu banyak cinta. Dari satu hati ke hati yang lain. Dengan tanpa alasan juga meninggalkanmu kala itu. Aku pergi meninggalkan kamu dan dia.

Tahun pertama aku di tempat baru, sulit rasanya menjalani kehidupan baru. Walaupun aku mendapatkan pekerjaan yang bagus dan karirku mulai merangkak naik, aku merasa ada sesuatu yang kurang. Hatiku terasa kosong. Aku tak tahu apa yang aku cari, kenapa jiwaku bisa merasa sepi dan kenapa gairahku yang selalu berpetualang cinta sekarang terasa mati? Aku mulai sadar, ternyata kamu adalah sosok yang aku cari, wajar jika aku meninggalkannya kemudian memilihmu. Walaupun mungkin itu menyakitkan untuk dia. Kebaikanmu, pengorbanan dan ketulusan yang selalu kamu berikan; itu yang tidak lagi aku rasakan. Di mana lagi aku bisa mencari hati sepertimu, hati yang tulus tanpa pamrih, selalu memberi tanpa menuntut, menemani dalam tangis dan tawa. Kerinduan akan sosokmu itulah yang kemudian memacu otakku berfikir lebih keras untuk melupakanmu dan memaksa hatiku untuk mencari tambatan hati yang baru. Ragaku di sini, tapi jiwaku masih di hatimu; itulah yang aku rasakan saat itu. Hingga walaupun beberapa kali aku berusaha dekat dengan orang lain, tapi tetap guratan wajah lugu mengalahkan setiap mahluk yang sengaja aku sodorkan di hadapanku untuk menggantikanmu di hatiku.

Lamunanku dibuyarkan oleh suara ketukan pintu ruanganku, saat kulirik arloji di tangan kiriku ternyata sudah selesai jam istirahat. Setumpuk berkas yang harus aku tanda tangani diantarkan pegawaiku yang sudah kupersilahkan masuk. Dan hari ini aku berniat pulang lebih awal. Ada banyak hal yang harus aku persiapkan untuk kepulanganku besok. Sesampai di rumah dinasku, ada lelah yang harus aku singgahkan di sofa di sudut ruang santaiku. Lepas lelah, aku mulai berkemas dan mengecek kembali barang – barang yang akan aku bawa esok pagi. “Pesawat terbang pagi, packing harus selesai sekarang juga”, pikirku. Dan Setelah semua beres, aku putuskan untuk tidur dengan segala permasalahan yang masih menjejali otakku. Di ruang lobi menunggu jam penerbangan, kembali menyeruak tentang kamu. Ya, kamu dan segala kenangan kita. Entah mengapa sikap mengalah dan “nrima” itu yang justru membuat aku merasa bersalah. Tapi apa iya aku akan menemuimu atas kepulanganku sekarang? Sementara kepulanganku kali ini justru untuk mengabari orang tuaku kalau pacarku sekarang memintaku untuk segera dilamar. Aku berniat membawa serta orang tuaku nanti untuk segera mengurus pertunanganku. Akhirnya memang bukan dia atau kamu yang aku pilih, tapi justru ‘orang baru’ yang tiba – tiba datang dan tersenyum dengan tulus di depanku. Yang menggambarkan perasaanya bahwa dia mencintaiku bukan karena alasan. Tapi karena dia memang mencintaiku, dengan semua apa yang ada di diriku.  Aku hanya bisa berharap, satu saat nanti aku juga memiliki perasaan yang sama: semoga, sesegera mungkin.

Kepulanganku disambut senyum ramah keluargaku. Wajah ceria selalu aku guratkan di wajahku, tapi itu bukan simbol pergolakan batin yang aku rasakan sekarang. Sempat aku berfikir; apakah ini hanya pelarian? Dan apakah ada orang menikah dengan orang yang baru diniatkan untuk dicintai? Dan ….. apakah ada orang menikah saat batinnya sedang kacau?. Sebenarnya aku tidak tahu pasti apa yang aku inginkan hingga aku seperti melaju tanpa arah. “Mungkin ini karma karena aku dulu selalu mempermainkan hati, hingga aku sekarang justru dipermainkan oleh perasaanku sendiri. Akh, tapi aku tidak percaya karma”; demikian pertanyaan dan pertentangan terus berkecamuk di kepalaku, terasa membuatnya akan pecah berai. Ini yang terakhir, aku ingin menghubungi dia. Sebelum aku hidup dengan orang lain. Aku tidak ingin masa laluku  menghambat kebahagiaanku. Karena aku sangat ingin menjadi yang terbaik untuk orang yang tulus mendampingiku sekarang, seburuk apapun aku dulu. Perasaan bisa dikorbankan; tersakiti demi kebahagian orang lain itu lebih indah. Dari pada aku bahagia karena ada orang lain yang tersakiti.

“Untuk seseorang yang paling tulus yang pernah hadir untukku.
Aku sangat menyesal karena meninggalkanmu saat itu. Tapi aku lebih menyesal karena ternyata jiwaku tidak ikut pergi. Hanya ragaku yang menjauh meninggalkanmu. Kamu tersakiti karena pernah mencintaiku, tapi perasaanku lebih sulit saat aku tahu perasaan cintamu itu tak menyisakan ruang sama sekali untuk aku menerima orang lain. Aku sadar kamu sangat berarti justru saat aku tahu aku tak bisa kembali.
Aku minta, kamu bisa melepaskan perasaanmu dengan memberikan sedikit ruang di hatiku agar orang lain bisa mengisi ruang itu dan berbagi denganmu, agar aku bisa mencoba mencintainya walau tak bisa sebesar perasaanmu padaku. Berikan aku kesempatan menebus kesalahanku padamu dengan menjadi yang terbaik untuknya. Aku ingin tulus sepertimu saat mencintai orang lain.
Terimakasih mengajariku banyak hal.
Karena ikhlasmu, semoga kami bahagia”

Aku akhiri goresan penaku dengan harapan aku lebih lega melenggang tanpa terbebani perasaan bersalah masa lalu. Kemudian aku tersenyum lega saat aku tahu, ternyata sepucuk surat itu membuatmu tersenyum. Terbukti dari surat balasanmu yang menggambarkan ketulusan hatimu yang berjiwa besar. Aku bangga pernah  mengenalmu.