oleh: Munji Hardani, S. Pd
Rambut putih ini
sudah penuh bagai topi menutupi kepalaku. Pundak ini sudah turun tidak setegar
dulu melindungimu. Tangan ini tidak sekuat saat aku memegangmu di keramaian.
Suaraku tidak selantang dulu yang bisa menghardik orang – orang yang
menyakitimu. Kaki ini juga tidak sesigap dulu, yang selalu menjemputmu hingga
aku pastikan kamu baik – baik saja. Tapi satu hal yang tidak yang tidak
berubah, mencintaimu tanpa ukuran waktu. Ya, didampingi olehmu adalah hal yang
paling indah yang aku rasakan. Betapa tidak sebanding dengan barter waktu yang
aku berikan untuk hidup denganmu; kau memberikan lebih dari yang aku inginkan.
Betapa aku merasa menjadi lelaki yang sangat beruntung.
Lebih dari enam
puluh tahun sudah aku dimanjakan dengan kebaikanmu, ketulusan menemani dan
senyum tanpa batas saat aku bahagia dan duka. Kala itu aku memilihmu tanpa
ragu. Aura sederhana dan santun telah meluluhkan kesendirianku. Benar saja, saat
aku sudah memutuskan untuk hidup bersamamu dalam ikatan pernikahan, kau tetap
dalam santunmu, merawatku dalam sakit dan tetap bahagia mengikuti kemanapun
usaha kebahagiaan itu kuarahkan. Kenangan saat kita berjalan bersama menyusuri
indahnya pantai kala itu, senada dengan indahnya perjuangan kita membesarkan
anak – anak dan melewati segalanya berdua. Kini, semua telah senja. Kau tetap
bersahaja mengurusku, berbagi segala hal yang aku rasa berat. Kau perempuan
yang benar – benar membuatku mengerti arti hidup yang sebenarnya. Kadang aku
merasa kau adalah sosok malaikat yang sengaja Tuhan kirim untuk melengkapi
kebahagiaan dalam menuntaskan perjalanan hidupku di dunia ini. “Menuntaskan”,
benar saja. Semua dibatasi oleh waktu. Jika pembatas waktu itu bisa aku
langkahi, aku ingin melewati sekali lagi semuanya bersamamu.
Aku lupa sudah
berapa ‘pagi hari’ yang aku nikmati dengan suguhan kopi yang kau buat. Masih
terasa manis, belum berubah. Hanya tubuhku yang semakin renta. Aku juga sudah
lupa berapa kali kau mengucapkan selamat tidur dan menarik selimut hangat
untukku. Aku sangat merindukan saat – saat dimana kau menugguku pulang kerja
dan membukakan pintu lengkap dengan senyumanmu menyambutku.
“Ya
Tuhan, aku berdilema dengan waktu. Kadang aku merasa ini waktu yang tepat saat Engkau
memanggilku untuk kembali ke pangkuanMu di usia senja ini. Aku akan merasa
sangat bahagia jika aku lebih dulu menghadapMu. Namun kadang aku merasa jiwaku
adalah satu dengannnya; istriku tercinta….”
Malam ini aku
merasa semua badanku sakit. Entah apa yang terjadi, “mungkin penyakit tua”,
pikirku. Tapi kali ini lain, aku seperti sudah tidak kuat menahan sakit. Tanpa
sadar tubuh renta ini menggigil dan terjatuh. Sontak sayup - sayup kudengar kepanikan
istriku memecah, namun aku sudah tidak bisa mendengar apa – apa lagi. Yang aku
tahu hanya suara istriku yang semakin melemah dan hilang.
Sinar pagi yang menghangatkan
kulit lemasku membuatku terbangun. Aku merasakan ada yang menempel di kepalaku,
seperti kain dingin yang mengompres keningku. Saat menoleh sebelah kiri, sudah
terlihat perempuan tercantikku
merapihkan selimut yang sedari semalam menempel di tubuhku. Dengan lembut dia
berkata “Selamat pagi pa…., syukur papa sudah siuman. Akhir – akhir ini papa
banyak diam. Jangan terlalu banyak mikir. Jaga kesehatan”, ucapnya. Aku hanya
tersenyum tulus merespon perhatiannya yang tidak pernah pupus sambil memegang
tangannya yang sudah mulai rapuh. Antara takut kehilangan dan karena perasaan
akan pergi jauh meninggalkannya. Tiba – tiba pintu terbuka, “gimana pa, sudah
sehat? Jangan lupa diminum obatnya. Kata dokter semalam, papa kebanyakan mikir”.
Ucap Alex. Alex adalah anak tertua dari ketiga anakku. Dia lebih sering
mengunjungi kami akhir – akhir ini, terutama sejak aku sakit – sakitan. Begitulah,
kebahagiaanku sangat lengkap; istri yang baik, anak – anak dan cucu – cucu yang
perhatian. Tapi sekali lagi, waktu selalu
memupuskan apapun. Karena memang tidak ada yang kekal di bumi ini. Malam
ini adalah malam kedua dimana aku sebenarnya sangat merasa sakit atas
penyakitku ini, namun aku lebih suka mendengarkan cerita – cerita lucu istriku
yang selalu berusaha menghiburku sembari menijit – mijit tubuh keringku ini setiap
kali aku jatuh sakit seperti ini. Besok hari minggu, anak – anak dan cucu -
cucuku akan singgah. “Ayo cepat sembuh biar bisa main bola lagi sama Yogi, cucu
kesayangan papa. Besok dia datang lho..”, ucapnya sambil tersenyum. “Iya..”,
jawabku singkat sambil membalas senyumnya.
Dengan sangat
tiba – tiba aku terbangun pada senja pagi yang sangat dingin dan sepi. Nafasku
satu – satu terasa menjadi sangat pelan dan terasa hanya sampai dadaku. Aku tak
tahu apa yang terjadi, nafasku semakin berat. Lama aku merasakannya. Lalu
dengan sangat pelan dan lirih aku mendengar suara istriku mengaji diantara
sesenggukan isak tangisnya. Aku sangat berusaha membuka mataku kuat – kuat,
tapi hanya gambar garis buram yang aku tangkap. Seperti orang – orang
berkerumun, aku yakin mereka adalah anak – anak dan cucu – cucuku. Hembusan
nafasku kali ini sangat keras, hanya tuntunan kalimat Syahadat yang aku dengar
dan aku mengikutinya…
Teriakan seorang
perempuan tua memecah ruangan itu. Setengah berteriak dia memanggil namaku. Perempuan
yang selalu tegar bersahaja mendampingiku, tiba – tiba menjadi merasa sangat
kehilangan. Kehilangan seorang pendamping, kehilangan sosok suami dan
kehilangan teman hidupnya. Itulah istriku, yang tidak meneteskan air mata saat
melahirkan anak pertamanya, tapi air mata bercucuran saat menyadari telah
kehilangan sosok lelaki yang sangat dicintainya itu. Seusai posesi pemakaman,
dia kembali pada sebuah kamar yang gelap dituntun oleh anak perempuannya. Banyak
bayangan suka dan duka yang kembali terkenang. Kemudian dia meminta anak
perempuannya untuk meninggalkannya sendiri. Kini perempuan rapuh itu benar –
benar sendiri. Sambil berurai air mata ditariknya dua kertas tulisan terakhir
yang ditulis almarhum suaminya. Dilembar pertama, tertulis begitu singkat dan
dalam.
Untuk
istriku tercinta,
kau
tahu? Sebenarnya aku sangat takut ketika semuanya menjadi tua. Bukan karena aku
takut kematian, tapi aku takut kau akan kesepian dan sendiri. Tapi aku juga
sangat takut ketika aku menjadi sangat tua dan lemah dan tidak bisa
melindungimu lagi. Aku sangat sakit dengan sakitku, tapi melihatmu adalah obat
untukku tetap ingin hidup untukmu.
Kemudian di
lembar kedua tertulis,
Jika
nanti aku benar meninggalkanmu, jangan pernah menangis karena aku tak ada lagi.
Jangan pernah melihat kursi yang setiap pagi aku duduk di sana menantikan
secangkir kopi hangat dan manis buatanmu. Aku masih ingat ketika pertama aku
memberikanmu cincin putih itu dan memintamu mendampingiku. Bahagiaku adalah
mendapatkan cinta sejati sepertimu yang tetap di sampingku hingga ajalku.
Terimakasih untuk terus menemaniku hingga aku tak tahu lagi arti membalas karena
terlalu banyak yang telah kau berikan. Percayalah, hidup ini tidak akan hampa
hanya karena tidak ada aku. Tetaplah tersenyum, untukku.
-Selesai-
Catatan:
Cerita ini
ditulis pasca kepergian kakekku di usianya yang sangat senja pada awal Maret
2013. Aku dedikasikan tulisan ini untukmu; kakekku tercinta. Tepat pada hari Minggu sore 24 Maret 2013, nenekku menyusul.
Selamat jalan, semoga kalian tenang di sisiNya dan digolongkan ke dalam kaum
yang beriman dan bertaqwa pada-Nya. Amien.
Dan juga aku
persembahkan puisi ini untuk kalian, yang aku tulis di tahun 2008 silam.
Ada Mati (Purwokerto, 6 Juli 2008)
Aku
merasa hampir
dan bahkan seperti siap pejamkan mata
Meninggalkan
ragaku
-Ternyata
yang ada hanya aku dan Tuhan
Kemudian
aku merasa melebur, benar! -
-Ternyata
aku tak ada, untuk rasa dan raga
Hanya
Tuhan selalu bertahan –
Aku
tersadar;
-
Aku tercipta bukan bagi Dia
-
Hidupku bukan sepenuhnya aku
dan…
Bukan
berhak untuk kumeminta kekal
Atau
dianggap ada setelah aku datar
Aku
tak tinggalkan apapun,
untuk
jiwa yang pergi
Untuk
raga yang hilang