Minggu, 13 September 2015

Mimpi
(Aku Yakin Rasa Itu Akan Pergi)
030715

“Melambung jauh, terbang tinggi bersama mimpi..........
........ Setelah aku sadar diri, kau telah jauh pergi. Tinggalkan mimpi yang tiada bertepi”

Mimpi. Aku memang menyukai lagu ini. Sering aku mendengarkannya berulang kali. Tapi entah kenapa hari ini aku memutarnya lebih banyak dari biasanya. Syair pada lagu ini benar – benar mampu menggambarkan perasaanku saat ini. Aku merasa kamu akan pergi jauh dari hatiku, saat aku tidak lagi ada di dekatmu.

Delapan bulan yang lalu kamu tiba – tiba hadir, masuk ke dalam kehidupanku dimana saat itu aku masih merasa bebas dan sangat bahagia dengan kesendirianku. Aku mengenalmu dengan baik sejak kita kecil dulu, jadi belum ada rasa apapun ketika kamu mulai hadir. Waktu membuat kita menjadi dekat. Kedekatan itulah yang membuat perasaanku menjadi lain. Aku mulai menyukaimu. Bagaimana bisa aku menjadi begitu memikirkanmu, bahkan aku tidak tahu kapan perasaan itu mulai muncul. Sering aku bergelut dengan hatiku sendiri dengan pertanyaan yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya tapi berusaha aku tepis; “Benarkah aku mulai menyukainya?”. Dan dengan mati – matian aku menyangkalnya. Tapi saat ini kamu begitu indah di mataku, terlalu naif jika rasa ini aku abaikan begitu saja. Entah kenapa.... “Tuhan, kenapa rasa ini harus ada?”
Hari ini kita berdua menikmati indahnya puncak Sikunir. Menikmati sejuknya angin pegunungan yang masuk hingga ke ulu hati. Aku menunggu dinginnya angin ini menjalar ke seluruh tubuhku, hingga sejuknya masuk ke otakku. Berharap perasaan sayangku terbang bersama angin ini agar aku tak lagi memikirkanmu. Berharap rasa cinta di hatiku beku agar aku tak lagi menginginkanmu. Dan saat mataku mulai terbuka, ternyata rasa itu masih ada. “Indah sekali ya?”, dia mulai membuka percakapan. Aku Cuma menjawab singkat, “Iya” dan menggangguk pelan. Aku tidak bisa berkata lebih banyak lagi. Seandainya kamu tahu, keindahan alam ini seperti keindahanmu di mataku.

Kesejukkan angin gunung ini berangsur mulai berganti dengan sinar – sinar yang terang nan hangat. Matahari mulai menghangatkan jiwa dan hatiku. Seolah dia tahu betapa suasana hangat seperti ini bersamamu ingin aku hentikan sejenak. Agar aku bisa memandang wajahmu lebih lama, melihat senyummu lebih lama dan menatap matamu lebih lama. Semua terasa terlalu singkat jika kita bersama.
“Abis ini, kita kemana lagi?”
“coba aku liat mapnya”.
Kemudian dia menyodorkan brosur peta lokasi wisata yang petugas berikan di pintu masuk kemarin. Kami memang sengaja datang dari hari kemarin siang, membuat kemah dan bermalam di sini. Rencana yang sempurna, kami pergi berdua saja.
Setelah aku perhatikan sejenak brosur itu, aku putuskan untuk menikmati telaga Warna. Ternyata dia setuju. Begitulah dia, selalu mengiyakan apa yang aku inginkan. Aku juga tidak tahu kenapa dia begitu baik kepadaku. Seandainya dia tahu isi hatiku.
Kami menelusur jalan halus yang berkelok dan sedikit naik turun. Akhirnya kami sampai juga di telaga ini. Pancaran sinar matahari memantul dari telaga. Membuat air di telaga ini seolah bersinar – sinar, menambahkan keindahan padaku yang sedang asyik menikmatinya.
“Kenapa kamu pilih tempat ini? Hmmm.... padahal banyak banget pilihan tempat di sini. Misalnya kawah Cikidang yang menjadi andalan...”.
“Coba lihat ke tengah telaga ini... sebelah sana (aku mulai menuntun tangannya). Ibarat sebuah hati, itu adalah hati yang diingnkan oleh setiap manusia. Hati yang tenang. Setiap manusia selalu menginginkan ketenangan. Saat manusia punya sahabat, dia berharap agar bahagia. Saat mereka mencari pekerjaan yang baik, mereka berharap akan bahagia dengan upah yang mereka dapatkan....”
“Terus, apa hubungannya dengan ketenangan yang tadi kamu katakan itu?”
“Coba telisik lebih dalam lagi, apa efek terbesar dari sebuah kebahagiaan? Itu adalah ketenangan. Hati dan jiwa menjadi tenang. Aku ingin seperti air di telaga itu. Menjadi hati yang tenang”.
“Oh... begitu. Akh, kamu terlalu dibawa perasaan!”
“Hahahaha....”. kami tertawa bersama.

Kami putuskan sore itu untuk pulang, menyudahi perjalanan yang sudah kami rencanakan dengan matang. Sepanjang perjalanan, aku putuskan untuk tidak melewatkan setiap detail percakapan. Aku terus memperhatikannya di antara hutan – hutan yang kmai terobos, di antara asap gunung yang berhembus dingin. Aku merasa ini adalah perjalanan terakhirku dengannya sebelum aku pergi yang aku sendiri enggan untuk ditanya “kapan kembali?”, aku bahkan belum memikirkan apakah aku akan kembali atau tidak. Mungkin aku akan pulang jika semua keadaan di sini menjadi lebih baik dalam tatanan pskologisku. Terlalu banyak hal yang aku lalui akhir – akhir ini. Kalau ingat hal itu tentu aku sangat bersyukur bisa memilikimu di akhir waktu sebelum kepergianku. Rasanya aku tidak akan mengungkapkan perasaanku sekarang, aku belum sanggup kamu berubah jika aku mengungkapkannya.
“Laper, kita makan dimana?”
“Di mana ya.., kamu mau makan apa?”
“Apa ajalah, yang anget – anget aja. Dingin banget soalnya”
Aku melihatmu dengan senyum, berharap ini bukan perjalanan terakhir kami. Suap – demi suap, kamu terlihat menikmati sup ini. Sementara aku, makanan ini terasa tertahan di kerongkongan saat mengingat kalau aku akan meninggalkanmu, meninggalkan kebersamaan kita yang baru sebentar. Dan aku sudah tidak peduli lagi apa status hubungan ini. yang jelas, aku bahagia denganmu. Sangat bahagia saat di dekatmu dan menjadi tenang. Seperti ketenangan telaga itu yang aku ungkapkan padamu siang tadi.
Kamu tersenyum padaku sebelum akhirnya kami berpisah ke rumah masing – masing. Aku melihat jam dinding balaiku dan sudah menunjukan tepat jam delapan malam. Lelah sekali rasanya, dan tentu aku juga lelah memikirkanmu. Karena aku sayang kamu. Tapi percuma saja aku ungkapkan, itu hanya akan membuat kebersamaan ini menjadi tidak nyaman. Aku tidak mau di akhir keberadaanku di sini, akan membuat semuanya menjadi berantakan.
Aku melihat foto – foto yang kamu kirimkan lewat inbox sosial media. Aku tersenyum membayangkan polah lucu ita di foto itu, tapi setelahnya perasaanku menjadi tidak menentu. Aku tidak tahu, perasan apa ini sebenarnya..
Aku tidak menyalahkanmu yang tiba – tiba hadir. Tidak pula menyalahkan perasaanku. Sudahlah, aku terlalu lelah hari ini. “Tuhan pejamkan mataku malam ini, dan bangunkan kembali esok dengan perasaan yang lebih ringan. Aamiin”. Dan akupun tertidur.

-Terkadang, sesuatu menjadi lebih indah saat kita menutup mata. Meskipun kita menyadari itu hanya mimpi. Tapi setidaknya itu membuat kita bahagia, walau hanya sementara-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar