KOSONG (Rantai Cinta 3)
150314
Banyak
hal yang terjadi dalam empat tahun. Aku kembali setelah berliku pengalaman dan
sejuta cerita lain yang sebenarnya bisa saja mengubur ceritaku tentang rantai
cinta. Memang benar, perasaanku kini sudah sangat berubah. Aku tidak lagi
mengagumi Cherryl seperti dulu. Aku sama sekali tidak lagi mengaharapkan
pertemuanku dengannya, apalagi memimmpikannya berada di sampingku. Sekarang aku
benar – benar merasa lega, perasaanku lebih ringan dan fikiranku lebih tenang.
Tadi
malam aku membuka akunnya di dunia maya. Akun miliknya bernuansa barat, maklum
setelah pindah ke kota kelahirannya dia memilih untuk melanjutkan kuliahnya di
Luar Negeri. Aku lihat semua tentang dia, benar sekali banyak hal yang bisa
terjadi dalam empat tahun. Dan perasaanku, benar – benar berubah. Aku melihatnya
hanya sebagai cerita masa lalu yang sama sekali tidak berpengaruh pada
kehidupanku sekarang. Aku merasa, itulah hidupnya dan inilah hidupku yang tidak
bisa dibandingkan atau dipaksakan untuk ‘berjodoh’. Mungkin memang kami hanya
ditakdirkan hanya sebatas itu, tapi untuk perasaan sakit hati… masih adakah?
Untuk pertanyaan itu, aku akan menjawab dengan diplomatis dan jujur; aku pilihkan
pepatah lama gelas yang sudah retak tidak
akan kembali seperti semula, aku tidak menggambarkan hatiku seretak itu
saat ini. Tapi aku merasa ini terasa sangat pulih, walaupun ada sedikit sakit
jika mengingatnya. Tapi hanya sedikit.
Biarlah,
hatiku yang pernah dipermainkan ini… hanya aku dan Tuhan yang tahu tentang
kepedihan itu. Namun ketenanganku sekarang jauh lebih sangat berarti dari pada
keadaanku dulu yang sangat sakit saat berfikir semua tentang dia. Biarlah dia
menjalani kehidupannya sendiri dan aku dengan ringan melangkah menjalani jalan
hidup yang telah Tuhan gariskan, yang aku yakin itu sangat indah.
Pun
demikian dengan perasaanku kepada Novi, saat itu aku pulang dari luar kota yang
sengaja aku mampir ke tempatnya sebelum pulang ke rumah. Banyak hal yang kami
bicarakan. Bukan canggung, tapi pembicaraan kami lebih terlihat seperti teman
biasa. Mungkin karena sudah lama aku tidak mengobrol dengan dia. Dalam perbincangan
itu, tiba – tiba dia bertanya “sekarang kamu pacarnya siapa?”. Aku Cuma tersenyum
setengah tertawa, lalu sekenanya aku jawab “hmmm,aku pacaran dengan karir. Ga
penting juga pacar – pacaran. Iya kan?”, aku sedikit tertawa lagi. Kemudian
perbincangan kamipun lebih akrab lagi tapi tetap seperti orang yang tidak
pernah berada dalam cerita masa lalu yang sama. Mungkin kami sama – sama
berusaha melupakan cerita pahit itu. Cerita cinta yang mengorbankan
persahabatan dan tidak akan pernah berujung.
Dari
dua tahun yang lalu, kami memang tidak ada kata putus. Namun mungkin kami sama
– sama tahu bahwa peristiwa itu sangat menguras pikiran kami dan membuat jiwa
kami sangat tidak stabil. Dan saat jarak memisahkan kami, hubungan kami lambat
laun berubah kembali menjadi seorang sahabat dan semakin jauh hanya seperti
sebatas teman saja. Tentang cerita cintanya, aku tahu sekarang dia sedang dekat
dengan seseorang. Dan aku sama sekali tidak merasa cemburu, bahkan senang
karena dia mulai bisa mencintai orang lain selain aku, tidak mengharapkanku
lagi. Layaknya seorang teman yang bahagia saat mendengar temannya mendapat
kekasih baru, aku bahagia. Lalu, merasa kehilangankah aku? “Tidak”, itulah
jawabanku tegas. Hanya sempat terfikir “kok bisa, orang yang dulu sangat
mencintai dan rela melakukan apapun, sekarang menjadi biasa saja bahkan punya
tambatan hati lain”, itu semua karena waktu dan keadaan hingga perasaan
seseorang bisa benar – benar berubah.
Tentang
jawabanku tadi yang tidak terlalu berfikir lagi tentang cinta dan menganggap
itu tidak terlalu penting…, seriuskah? Mungkin. Karena aku merasa lebih ringan
menjalani hidup tanpa dibebani masalah cinta. Empat tahun ini aku lebih banyak
berteman dan sibuk dengan hal – hal positif lainnya. Tapi mungkin saja
sebenarnya aku trauma dengan peristiwa itu. Teralu pahit menurutku. Hingga aku
seperti mati rasa, tidak bisa lagi mencintai. Atau mungkin aku memang benar –
benar sudah lupa bagaimana perasaan cinta itu dan bagaimana cara mencintai.
Satu
– satunya orang yang sudah bisa lepas dari kisah ini adalah Azza. Dia
beruntung, membanting cerita pahit ini dengan keputusan besar. Dia menikah satu
tahun setelah masalah ini mencuat. Mungkin sekarang dia sudah benar – benar
bahagia dengan kehidupan dan keluarga kecilnya. Lalu bagaimana dengan aku?
Serpihan ini masih terasa sakit untuk aku pungut dan aku satukan lagi. Biarlah
serpihan – serpihan itu berserakan dan tetap seperti itu. Bukan aku tidak
mengenal kata move on dalam kamus
hidupku. Tapi aku orang yang terlalu sakit dari cerita ini. Dikenalkan,
dicintai, mencintai, dipermainkan dan ditinggalkan. Ya, mereka bergerak
meninggalkan semua saat aku masih terduduk menangisi kepahitan ini. Tapi
sudahlah, semua sudah berlalu. Toh perasaanku sekarang sudah lebih baik.
Bagaimana
dengan hatiku yang kosong? Apakah aku masih mencintai Cherryl? Aku sudah tegas
tidak mengaharapkannya, jadi sungguh tidak ada jawaban tentang kata cinta,
karena aku saja tidak tahu lagi bagaimana perasaan mencintai. Aku sekarang menjalani
garis hidupku dengan senyum dan benar – benar bahagia. Lalu bagaimana jika
Tuhan menggariskan ‘pertemuan’ku dengan Cherryl dalam cerita hidupku selanjutnya?
Aku tidak menampik, mungkin perasaanku akan lebih bahagia jika ada seseorang
yang mengisi hatiku yang kosong.