Sinar
Hati
“Bukan usia yang
terlalu cepat menyentuh angka
Bukan orang di sekitar kita yang terlalu
cepat beranjak
Tapi waktu yang terlalu cepat berjalan
Hembusan
angin masih seperti dulu, semilir…
Semilir
menggoyangkan daun hijau
Panas
mataharipun masih sama, menyengat…
Menyengat
seperti saat aku kecil dulu
Namun
raga kita tak pernah sama di setiap detik
Berubah
pada titik yang tak pernah berhenti
Siapa
yang mampu menghentikan waktu?
Siapa
yang mampu menghentikan kebahagaiaan tetap di tempatnya…?
Tidak
ada.
Karena
waktu merajai hidup
Dan
akan tetap seperti itu
Bahkan
setelah kita tidak merasakan hidup lagi”
…………………………………
Di pagi yang
belum terlalu panas ini aku berjalan, sengaja untuk melemaskan urat kaki. Kemudian
mataku tertuju pada bangku semen berjajar di bawah pohon – pohon rindang.
“Pasti sangat sejuk”, pikirku. Akhirnya aku duduk dengan disapu semilirnya
angin, menambah nikmatnya suasana pagi ini. Jarum jam mulai beranjak detik demi
detik, sinar pagipun mulai hangat menembus pori – pori kulitku. Kehangatan
sinar yang selalu kurindukan. Saat jarum jam menunjuk hampir pukul sebelas,
disekitarku mulai ramai beberapa orang beraktifitas. Mereka terlihat dengan
wajah yang sangat sumringah, mungkin
karena ini suasana libur. Salah satu yang menarik perhatianku adalah seorang
bapak yang berlari – lari kecil. Perutnya terlihat lebih besar dari ukuran
normal, aku jadi membayangkan, mungkin beberapa tahun lagi perutku akan seperti
itu. “Lucu kali ya…”, kataku dalam hati.
Kemudian mataku
menengok ke arah kiri, di sana terlihat keakraban seorang bapak dengan anak
perempuannya yang mulai beranjak remaja. Dengan sabar dan telaten, bapak itu mengajari anak gadisnya mengendarai sepeda
motor. Aku berkata dalam hati sambil tersenyum, “Mungkin beberapa tahun lagi
aku juga akan seperti itu, mempunyai anak dan mengajarinya banyak hal”. Disaat
aku mengemati mereka itulah, tiba – tiba bapak yang sedang berolah raga tadi
bertanya, “Maaf, sekarang sudah jam berapa ya Pak?”. Aku menengok kanan – kiri,
setelah yakin dia bertanya padaku, aku menjawab, “Jam sebelas kurang sepuluh
menit Pak..”. Kemudian dengan sedikit gugup dia berkata “Wah, sudah kelewat
nih. Mari Pak…., saya pualng duluan”. Kemudian aku menjawab lirih seraya
mengangguk.
Dari kejadian
tadi, aku merasa aku mulai tidak mengenali diriku sendiri. Aku merasa ada
perubahan yang belum atau bahkan tidak aku sadari. Panggilan “Pak” tadi,
membuatku melihat diriku lagi; badan, tangan, kakiku… kemudian aku berkaca melihat
wajahku dari layar ponselku. Kemudian aku melirik lagi ke tempat dimana ayah -
anak itu bersenda gurau tertawa sambil serius belajar berkendara. “Akh, rasanya
baru kemarin aku dipanggil ade, mas, om … dan ternyata sekarang … orang sudah
tidak segan lagi memanggilku dengan sebutan – Pak- “.
Aku mulai
menerawang ke langit dimana warna putih itu memetakan panasnya langit di siang
ini. Aku masih ingat saat aku masih berseragam putih biru. Pulang sekolah
bersama teman, aku masih ingat panasnya sinar matahari kala itu. Panasnya masih
sama di kulit. Bahkan saat aku belum kenal bangku sekolah ketika aku bermain
dengan teman sebaya di siang yang panas…, panasnya masih sama. “Huft….,
ternyata aku sudah melewati banyak hal”, gumamku. Pikiranku mulai mengingat
banyak hal yang sudah terjadi dalam hidupku. Mengingat kembali masa berseragam
putih – abu-abu, “Dimana ya mereka sekarang?”, tanyaku dalam hati. Kemudian aku
teringat dengan teman – teman kuliahku yang sekarang sudah menyebar, aku terasa
merindukan mereka saat ini.
…………………………..
Mengingat masa –
masa kuliah itu, mengingatkanku pada seseorang yang hampir tidak pernah aku
lupakan dari setiap hal yang aku pikirkan. Dua tahun sudah aku mendapatkan
gelar sarjana, dua tahun pula aku seperti tidak mengenal seseorangpun di hatiku
selain kamu. Aku sangat menyesal kenapa aku tidak menyatakan isi hatiku padamu
saat itu. Sekarang kamu sudah jauh, belajar di negeri seberang sana. “Apa kamu
baik – baik saja?”, tanyaku dalam hati. Aku mengecek phonebook di ponselku. Ada namamu… “Akh, inikan nomor HPmu saat
kamu masih di Indonesia…”, kataku menyadarkan diri sendiri. Kejadian siang tadi
benar - benar mengingatkanku padamu, membuatku berpikir tentangmu lagi. Kurasa
sekarang tidak ada lagi hal yang bisa aku lakukan. Aku pun tak bisa lagi
mengetahui keadaanmu sekarang. Aku buka akun
dunia mayamupun sudah tidak aktif.
Kenapa sekarang
aku sangat menyesal? Aku tidak menyia – nyiakanmu kala itu. Aku hanya belum
punya keberanian menyatakan rasa sayangku padamu. Yang aku tahu hanya… -aku
mencintaimu- tanpa aku tahu bagaimana cara mengungkapkannya. “Akh, bodohnya
aku..”, kataku dalam hati. Tapi waktu
tidak bisa kembali. Aku hanya bisa berharap, saat kau kembali dari belajarmu di USA nanti, aku masih punya kesempatan mengungkapkan isi hatiku padamu. Hingga
kau mampu merasakan hangatnya sinar ketulusan hatiku, yang lebih hangat dari
sinar matahari pagi yang selalu kita rasakan. Semoga.

