Sabtu, 27 Juli 2013

Sinar Hati



Sinar Hati
 “Bukan usia yang terlalu cepat menyentuh angka
  Bukan orang di sekitar kita yang terlalu cepat beranjak
  Tapi waktu yang terlalu cepat berjalan

Hembusan angin masih seperti dulu, semilir…
Semilir menggoyangkan daun hijau
Panas mataharipun masih sama, menyengat…
Menyengat seperti saat aku kecil dulu

Namun raga kita tak pernah sama di setiap detik
Berubah pada titik yang tak pernah berhenti

Siapa yang mampu menghentikan waktu?
Siapa yang mampu menghentikan kebahagaiaan tetap di tempatnya…?
Tidak ada.
Karena waktu merajai hidup
Dan akan tetap seperti itu
Bahkan setelah kita tidak merasakan hidup lagi”

…………………………………
Di pagi yang belum terlalu panas ini aku berjalan, sengaja untuk melemaskan urat kaki. Kemudian mataku tertuju pada bangku semen berjajar di bawah pohon – pohon rindang. “Pasti sangat sejuk”, pikirku. Akhirnya aku duduk dengan disapu semilirnya angin, menambah nikmatnya suasana pagi ini. Jarum jam mulai beranjak detik demi detik, sinar pagipun mulai hangat menembus pori – pori kulitku. Kehangatan sinar yang selalu kurindukan. Saat jarum jam menunjuk hampir pukul sebelas, disekitarku mulai ramai beberapa orang beraktifitas. Mereka terlihat dengan wajah yang sangat sumringah, mungkin karena ini suasana libur. Salah satu yang menarik perhatianku adalah seorang bapak yang berlari – lari kecil. Perutnya terlihat lebih besar dari ukuran normal, aku jadi membayangkan, mungkin beberapa tahun lagi perutku akan seperti itu. “Lucu kali ya…”, kataku dalam hati.

Kemudian mataku menengok ke arah kiri, di sana terlihat keakraban seorang bapak dengan anak perempuannya yang mulai beranjak remaja. Dengan sabar dan telaten, bapak itu mengajari anak gadisnya mengendarai sepeda motor. Aku berkata dalam hati sambil tersenyum, “Mungkin beberapa tahun lagi aku juga akan seperti itu, mempunyai anak dan mengajarinya banyak hal”. Disaat aku mengemati mereka itulah, tiba – tiba bapak yang sedang berolah raga tadi bertanya, “Maaf, sekarang sudah jam berapa ya Pak?”. Aku menengok kanan – kiri, setelah yakin dia bertanya padaku, aku menjawab, “Jam sebelas kurang sepuluh menit Pak..”. Kemudian dengan sedikit gugup dia berkata “Wah, sudah kelewat nih. Mari Pak…., saya pualng duluan”. Kemudian aku menjawab lirih seraya mengangguk.

Dari kejadian tadi, aku merasa aku mulai tidak mengenali diriku sendiri. Aku merasa ada perubahan yang belum atau bahkan tidak aku sadari. Panggilan “Pak” tadi, membuatku melihat diriku lagi; badan, tangan, kakiku… kemudian aku berkaca melihat wajahku dari layar ponselku. Kemudian aku melirik lagi ke tempat dimana ayah - anak itu bersenda gurau tertawa sambil serius belajar berkendara. “Akh, rasanya baru kemarin aku dipanggil ade, mas, om … dan ternyata sekarang … orang sudah tidak segan lagi memanggilku dengan sebutan – Pak- “.

Aku mulai menerawang ke langit dimana warna putih itu memetakan panasnya langit di siang ini. Aku masih ingat saat aku masih berseragam putih biru. Pulang sekolah bersama teman, aku masih ingat panasnya sinar matahari kala itu. Panasnya masih sama di kulit. Bahkan saat aku belum kenal bangku sekolah ketika aku bermain dengan teman sebaya di siang yang panas…, panasnya masih sama. “Huft…., ternyata aku sudah melewati banyak hal”, gumamku. Pikiranku mulai mengingat banyak hal yang sudah terjadi dalam hidupku. Mengingat kembali masa berseragam putih – abu-abu, “Dimana ya mereka sekarang?”, tanyaku dalam hati. Kemudian aku teringat dengan teman – teman kuliahku yang sekarang sudah menyebar, aku terasa merindukan mereka saat ini.

…………………………..
Mengingat masa – masa kuliah itu, mengingatkanku pada seseorang yang hampir tidak pernah aku lupakan dari setiap hal yang aku pikirkan. Dua tahun sudah aku mendapatkan gelar sarjana, dua tahun pula aku seperti tidak mengenal seseorangpun di hatiku selain kamu. Aku sangat menyesal kenapa aku tidak menyatakan isi hatiku padamu saat itu. Sekarang kamu sudah jauh, belajar di negeri seberang sana. “Apa kamu baik – baik saja?”, tanyaku dalam hati. Aku mengecek phonebook di ponselku. Ada namamu… “Akh, inikan nomor HPmu saat kamu masih di Indonesia…”, kataku menyadarkan diri sendiri. Kejadian siang tadi benar - benar mengingatkanku padamu, membuatku berpikir tentangmu lagi. Kurasa sekarang tidak ada lagi hal yang bisa aku lakukan. Aku pun tak bisa lagi mengetahui keadaanmu sekarang. Aku buka akun dunia mayamupun sudah tidak aktif.

Kenapa sekarang aku sangat menyesal? Aku tidak menyia – nyiakanmu kala itu. Aku hanya belum punya keberanian menyatakan rasa sayangku padamu. Yang aku tahu hanya… -aku mencintaimu- tanpa aku tahu bagaimana cara mengungkapkannya. “Akh, bodohnya aku..”, kataku dalam  hati. Tapi waktu tidak bisa kembali. Aku hanya bisa berharap, saat kau kembali dari belajarmu di USA nanti, aku masih punya kesempatan mengungkapkan isi hatiku padamu. Hingga kau mampu merasakan hangatnya sinar ketulusan hatiku, yang lebih hangat dari sinar matahari pagi yang selalu kita rasakan. Semoga.

Selasa, 21 Mei 2013

“PINJAMI AKU CINTAMU SEKALI LAGI”


Menelusuri jalan yang pernah kita lewati berdua semua masih tampak sama, basah dan menenangkan hati. Kulihat pohon – pohon dihutan itu masih hijau, embun jatuh hingga ke sungai yang dingin dan jernih. Sejuk. Kau pernah di sini, membasuh wajahmu mencerahkanku. Tanpa sadar aku tersenyum mengenang semuanya. Kau di mana sekarang? Sudahlah. Seharusnya aku fokus pada diri dan masa depanku saja, tanpa harus memikirkan ini. Aku kembali melangkah pelan, kembali melihat sawah – sawah hijau lengkap dengan senyum para petani yang giat merawatnya. Pagi yang sangat sejuk, sesejuk hatiku saat bersamamu dulu. Kulanjutkan ayunan kakiku, kembali terngiang gurauanmu saat berjalan di antara sawah – sawah ini. Kenapa semua masih tentangmu? Padahal kau telah pergi, tak di sini lagi. Kuurungkan melanjutkan jalan pagi kali ini, dari pada aku terus mengingatmu sepanjang jalan. Kurebahkan semua kepenatan tentangmu di pagi yang dingin ini. Berharap bayangmu menghilang setelah ku membuka mata. Dinginnya dataran tinggi desaku, membuatku kembali membenamkan sejuta masalah ini dalam mimpi.

Kembali kubuka tulisan dan gambar foto kenangan kita, tempat di mana kita pernah menikmatinya berdua. Telalu banyak hal yang harus kulupakan, terlalu banyak memori yang harus kuhapus. Semakin aku mencoba menghilangkan semua dari ingatanku, semakin semuanya kembali tergambar jelas. Kau pernah di sini, entah sebagai apa. Tapi yang aku rasa, kau adalah kekasihku. Aku tak tahu apa di hatimu masih mengingat tempat ini, rumah ini;  tempat di mana kau sering mengunjungiku, gunung – gunung yang tinggi, air yang dingin, angin yang sejuk... dan apakah kau masih mengingatku? Beribu pertanyaan kembali membuatku gelisah. Terlalu sulit untuk melupakan tiga tahun kebersamaanku denganmu. Harusnya aku sadar dari awal dengan risiko hubungan ini. Menjadi yang kedua itu, pahit!

Dalam setengah kekecewaanku, harusnya aku bersyukur pernah bersamamu dan memilikimu. Melewati semuanya berdua, tertawa bersama dan menemanimu saat tangis. Sebenarnya mungkin aku yang bersalah, memintamu: sebuah hati yang sudah dimiliki oleh orang lain. Walaupun saat itu dia sedang jauh darimu. Kau menyanggupinya dengan syarat; meninggalkanku saat dia kembali. Saat itu aku tidak berfikir akan sesakit ini saat kau benar – benar pergi. Yang aku rasa saat itu hanya kebahagiaan karena bisa memilikimu. Kini semua sudah berkahir, tiga tahun terasa berjalan sangat cepat. Lebih cepat dari detak jantungku tiap kali mengingatmu.

Ba’da Magrib petang ini terasa lebih sepi dari biasanya walapun tak terhitung suara belalang yang asyik bernyanyi di belakang rumahku. Aku melihat garis wajah ibuku yang semakin menua sedang menyiapkan makan malam. Di seberang sana, bapakku masih sibuk dengan sebatang rokok di bibirnya. Sementara aku mati – matian mengumpulkan konsentrasiku yang terpecah agar aku bisa menyelesaikan tugas akhirku. Memang sekarang aku lebih banyak di rumah dari pada stay di kos-kosan agar lebih bisa berkonsentrasi dengan tugasku. Aku bertekad memakai toga di kepalaku tahun ini. Menyelesaikan semuanya dan ingin bekerja di tempat yang jauh: jauh meninggalkanmu, jauh dari semua kenangan kita meskipun sebenarnya enggan untuk meninggalkan rumah dan kampung halamanku.

Aku akui, semua sangat berat bagiku! Keharusan melupakanmu karena batas waktu, lebih seperti halnya kontrak cinta yang telah habis masa kebersamaannya dan mau tidak mau harus meninggalkannya. Payah benar aku ini, harusnya sudah aku antisipasi semuanya. Salahku, aku seperti tak ingat bahwa aku hanya meminjam ragamu dari sebuah hati yang sangat setia. Haruskah aku membenci dan menyalahkan semuanya? Aku terus bergelut dengan pikiranku sendiri. Ya Tuhan, pecah sudah konsentrasiku. Kenapa cinta itu harus membuat sesak dan pikiran kacau seperti ini. Aku tak akan bisa melupakan saat kita tertawa di meja sudut rumah makan itu, aku juga belum mampu melupakan tangismu saat kau dalam masalah. Kenapa aku begitu mencintaimu.

Aku termenung di sudut ruangan perpustakaan. Di kampus ini, aku pernah bersamamu. Aku beranjak berdiri berharap membuyarkan ingatanku tentangmu, menuju buku – buku tebal berhimpitan. Satu – satu buku di rak besar ini kusisir untuk kusesuaikan dengan judul Skripsiku. Rasanya berjuta bukupun tidak ada yang sesuai, bukan karena bukunya tapi karena fikiranku yang terlalu bodoh tidak bisa membagi space dengan benar. Hingga di otakku hanya penuh terisi tentangmu. Dua jam aku berenang dalam jurnal karya penulis – penulis handal. Akhirnya, sedikit ada peningkatan, nanti akan kusalin dan besok menghadap dosen. Mudah – mudahan dosen bermurah hati dan melancarkan Skripsiku ini.

Hitungan bulan sedah kulewati berjuang mengerjakan tugas akhirku dan berjuang menghapus satu persatu guratan wajahmu di hatiku. Setengahnya terbayar; aku bisa menyelesaikan Skripsiku tapi sayangnya aku gagal melupakanmu. Bulan depan aku meniggalkan kampus ini, meninggalkan kenangan kita, meninggalkan kesakitan ini – aku harap. Besok akhir pekan, aku akan pulang merefresh kepenatan otakku setelah dua pekan stay di kos demi menyelesaikan tulisan tebal ini. Barang – barang mulai aku rapihkan, agar saat wisuda nanti aku tidak kerepotan membawanya. Ku buka ponselku, membaca kembali pesan dari kakak iparku di Jakarta. Sudah kuputuskan, aku akan bekerja di sana. Itu akan sangat lebih baik karena aku bisa memulai semuanya dengan semangat baru.

Kembali aku menatap gunung tinggi yang sejuk lengkap dengan hamparan padi hijau dibawahnya. Kusandarkan tubuhku di batu, sesekali terasa aliran sungai dingin ini melewati dua kakiku yang kujuntaikan di sana. Menatap lebih dalam dan kupejamkan kedua bola mataku. Saat kubuka, tidak terasa air mata mengalir di kedua pipiku. Beban hati yang aku pendam sendiri seolah tertumpah sudah sekarang. Aku lihat diriku di air sungai yang bening, tampak kurus dengan guratan masalah berat tergambar jelas di wajahku. Senyumku yang dulu, sekarang telah pudar. Besok aku akan ke Jakarta, kakak iparku sudah menyiapkan tiketnya. Aku akan meninggalkan kampungku tercinta dan meninggalkanmu yang pernah tinggal di hatiku!

*Sebelum insan yang terluka hatinya itu duduk menepi di batu sungai, dia menulis puisi di secarik kertas untuk orang yang paling dia cintai – yang telah pergi meninggalkannya. Diremas dan dilemparkan kertas itu, berharap sampai kepada orang yang dia sayangi melalui aliran sungai dan terbaca olehnya.
Jika aku tahu dingin akan membuatku sakit, aku tak akan ikut masuk
Jika aku tahu malam akan membuatku sepi, aku tak kan berani keluar
Jika aku tahu melihatmu akan membuatku sakit, aku tak kan menangkap bayang ragamu
Jika aku tahu itu semuanya, tak akan pernah aku mencoba menyentuh hidupmu

Karena kamu. Aku mencintaimu.
Lalu,
Apa salahku jika aku mencintaimu?
Di hilir sungai, sampailah kertas itu pada seseorang yang mempunyai senyuman, mata dan hati yang sangat indah, dan tersenyum saat membacanya.

Kamis, 11 April 2013

Rantai Cinta (Part 2 - habis)

Oleh: Munji Hardani, S. Pd
Hari kelulusanku untuk meninggalkan bangku kuliah telah tiba. Tak banyak yang aku harapkan, kecuali ingin mendapatkan ucapan selamat dari Cherryl, itu saja. Tapi tampaknya memang hal itu mustahil terjadi. Sekarang bahkan aku tidak bisa menghubunginya lagi. Hari yang seharusnya aku lalui dengan suka ria itu, terasa tak ada yang istimewa tanpa dia. Aku merasa apa yang kukejar sia – sia. Kelulusanku dengan cepat aku raih, untuk dia. Tapi semua seolah percuma. Novi masih tampak ingin membuatku tersenyum meski aku tahu, sekarang dia sedang dalam kesedihan yang dalam. Azza pergi meniggalkan dia tanpa alasan yang jelas, meninggalkannya begitu saja dan bekerja di luar kota. Azza pergi setelah mendapatkan gelar Sarjananya. Aku berusaha tegar dengan ketidak hadiran Cherryl, dengan kepupusan harapanku untuk bertemu dengannya. Semua mulai aku larutkan dengan kesibukan kerjaku. Ku alihkan perhatianku untuk berkarir; tapi sedikit saja, selebihnya aku tetap memikirkan dia. Sangat memikirkannya untuk bisa menemui dan meyakinkannya bahwa aku mencintainya jauh sebelum aku bisa menatap matanya.

Kekalutanku tentang Cherryl mengantarkanku duduk berkeluh kepada Novi. Entah apa yang ada dalam benaknya, hingga malam itu dia mengungkapkan bahwa dia menginginkan aku untuk mendampinginya. Bukan karena kekecewaannya pada Azza, tapi karena dia mencintaiku. Dalam kekosongan dan kesepian itulah, aku menganggukan kepala. Walau yang ada dalam kepalaku hanya ada Cherryl seorang. Syarat aku ajukan, karena memang aku tidak mencintai Novi. Aku sudah jatuh cinta dengan Cherryl sepenuh hatiku. Novi menerima syarat untuk tidak mengekangku dalam hal apapun termasuk tetap mencintai Cherryl.

Waktu berjalan seiring berubahnya status kami dari teman menjadi pacar. Aku rasakan rasa cintanya kepadaku semakin dalam. Selama itu pula aku masih terobsesi dengan Cherryl. Akhirnya aku mulai bisa berkomunikasi lagi dengan Cherryl, bahkan aku meyakinkan dia bahwa aku akan datang menemuinya. Pindah ke kotanya. Meninggalkan karirku di sini, meninggalkan semuanya dan memulai semuanya di sana. Bersamannya. Untuk dia. Semangatku kembali muncul, aku tahu Novi kecewa. Pertengakaran terjadi. Aku kembali menagih janjinya untuk tidak melarangku mencintai Cherryl. Namun Novi mengelak, sekarang beda. Perasaannya terlalu dalam padaku. Terlalu menyakitkan untuk dia merelakanku dengan yang lain. Dalam segenap usahaku, aku masih meyakinkan Cherryl. Begitupun dengan dia masih meyakinkanku untuk tetap tinggal di sini. Bersama Novi, orang yang lebih tepat menurut dia. Meyakinkanku bahwa dia tidak lebih baik dari Novi. Apapun itu, tapi yang aku tahu Cherryl enggan untuk menerimaku.

Aku di ujung kehampaan. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Semua terlalu rumit bagiku. Cinta yang aku perjuangkan selama ini sepertinya memang sangat sulit untuk bisa aku raih. Azza yang selalu meyakinkanku untuk tetap menjaga Novi, orang yang masih sangat dia cintai, meski Novi yang sudah menutup hatinya untuk orang lain dan hanya mematrikan aku di hatinya. Sementara aku, aku mati – matian ingin mendapatkan Cherryl. Belakangan aku tahu, ternyata Cherryl pernah menjalin asmara dengan Azza dan masih memendam cinta sampai sekarang. Lalu bagaimana ini akan di ujungkan? Dengan putus asa aku putuskan untuk mundur dari permainan ini. Aku lebih baik mundur dari pada terus membebani pikiranku dengan harapan dan keinginan semu. Aku tahu, dalam titik ini pun tidak ada yang menyerah. Kami saling mempertahankan perasaan masing – masing.

Novi telah lama mengenalku. Mungkin karena itulah, dia lebih tahu bagaimana memperlakukan aku di saat aku sedang kacau. Dengan halus perlahan dia membangkitkanku untuk tetap mempunyai semangat. Aku perlahan bangkit dan berusaha menghilangkan perasaanku pada Cherryl, meski tak pernah bisa. Aku tahu, Novi menolongku dari kekalutan. Tapi tetap aku belum bisa mencintai dia sepenuhnya. Aku masih mencintai Cherryl. Kemudian semua kembali tenang, aku mulai bisa mengendalikan diri. Begitu pula kami berempat, tidak pernah lagi menunjukan egonya. Bulan berganti tahun aku terus belajar mencintai Novi namun tak pernah mampu melupakan Cherryl. Hari ulang tahun Cherryl aku ucapkan dengan penuh kasih. Senang sekali rasanya, dia menanggapi usahaku. Dengan lebih halus aku dekatkan komunikasiku unutuk bisa meraih hatinya. Lambat laun dia mengatakan tidak bisa menerimaku karena Novi adalah temannya sendiri dan Azza juga pernah menjadi kekasihnya. Itu akan sangat rumit jika Cherryl menerimaku. Semua akan menjadi lebih kacau. Pernyataannya menggugah semangatku untuk kembali menyakinkan dia akan cintaku. Keceriaanku mengundang pertanyaan pada diri Novi, aku tahu pasti dia sudah tahu jawabannya. Tidak seperti sebelumnya, dengan berurai air mata dia merelakanku untuk Cherryl; orang yang sangat aku inginkan. “kejarlah dia, sampai kamu dapatkannya. Aku tahu, dari dulu kamu mencintainya”, kata itu meluncur dari mulutnya. Dengan tangis kebahagiaan, aku memeluknya. Bangga pada pengorbanannya untukku.

Aku semakin yakin pada Cherryl, pada pertemuan nanti dan pada cinta yang akan kuberikan untuknya. Kebahagiaan yang sangat tak terbayarkan untuk segera meraih orang yang aku cintai. Tapi semua harapanku pupus. Dengan singkat Cherryl memberi tahuku, dia tak mau mengambil risiko dan kembali meyakinkanku bahwa Novi jauh lebih baik segalanya dari dia. tapi aku tak yakin hanya karena alasan itu dia mengubah keputusannya. Apakah karena Cherryl masih mengharapkan Azza? Tapi untuk apa, kalau Azza hanya mencintai Novi? Seperti yang selalu Azza katakan padaku dan dia tak akan menginginkan yang lain walau Novi sudah tidak mengharapkannya karena sekarang dengan sangat tulus Novi mencintaiku. Aku kembali melajukan kendaraanku di penat perayaan peralihan tahun dan penatnya pikiran yang terus membayang di benakku. Menuju hati yang setia menugguku, Novi. Aku bukan kembali untuk dia, tapi untuk meluapkan rasa sedihku karena Cherryl. Aku merasa Cherryl telah mengacaukan hatiku; mengagungkanku kemudian membuangnya kembali.

Benar saja, Novi masih di teras menungguku, dia yakin aku akan datang dan merayakan peralihan tahun ini dengannya. Aku memeluknya erat, menangis, meluapkan emosi dan kesakitanku karena Cherryl. “Dia mempermainkan aku”, hanya itu yang sanggup aku ucapkan di sela sesenggukkan tangisku. Dia ikut merasakan kesedihanku. “masih ada aku yang mencintaimu dengan tulus dan masih akan terus mencintaimu”, dia menenangkanku. Berdua kami menikmati dan mulai tersenyum diiringi riuhnya kembang api. Malam itu aku tenang, bukan karena aku mencintainya. Tapi karena dia berusaha agar aku tidak mengingat Cherryl apalagi terluka karenanya.

Kejadian itu mengurungku untuk memikirkan Cherryl. Ketakutan akan kesakitan; itu yang membuatku untuk terus diam dalam pelukan Novi. Walau aku tahu, kami masih dalam perasaan kami masing – masing, tak pernah hilang. Aku terus melajukan karirku, dengan bantuan Novi aku berhasil mendapatkan kerja di luar kota. Azza kembali menghubungiku dan masih dengan perasaan yang sama; memintaku menjaga Novi, orang yang masih sangat dia sayangi. Pikiranku kembali terbersit tentang Cherryl. tapi aku sudah merasa terlalu dalam tersakiti. Haruskah aku kembali berjuang untuk Cherryl? Haruskah aku ‘mundur’ seperti hari lalu? Aku tidak tahu, jauh ragaku terpisah dari mereka, sekarang kami di tempat masing - masing. Tahun depan aku kembali, kadang terfikir untuk menambatkan hatiku bukan untuk Cherryl atau Novi. Tapi dengan cinta baru, entah siapapun dia. Hingga aku menutup buku ini dan menyimpannya di hatiku. Hanya untuk kenangan, bukan untuk kembali. Kemudian aku melesat jauh meninggalkan permainan ini; rantai cinta yang tak akan pernah berujung. 
~Selesai~ 

Selasa, 09 April 2013

Rantai Cinta (Part 1)


~Terinspirasi dari kisah seorang teman.
Oleh: Munji Hardani, S. Pd
Saat ini aku masih tidak tahu mengapa kami masih keukeuh dengan perasaan masing – masing. Melingkar penuh dalam lingkaran perasaan cinta. Perasaan cinta yang tak akan pernah berujung dan mungkin tak akan terbalas. Kecuali salah satu mengalah – mundur atau merelakan hidupnya menemani orang yang tidak sepenuhnya dia sayang. Begitu kami berempat berombak dalam cerita cinta yang rumit dan tidak berujung. Sebut saja Azza, dia sangat mencintai Novi. Sedang rasa sayang yang Novi punya sepenuhnya dia berikan untukku, hanya untukku. Dan kalau harus jujur kepada diri sendiri, aku sangat menginginkan Cherryl mendampingiku dan menerima curahan kasih sayangku; karena aku memang mencintai Cherryl, entah dari mana perasan itu muncul. Tapi seperti Azza yang mengharapkan Novi, nasibku tak jauh beda. Cherryl seperti tak melirik cowok lain selain Azza. Begitu selama dua tahun kami mengalami dilema pasang surut, ingin mengalah dan putus asa. Namun tak satupun dari kami mengalah untuk ini, karena memang sebenarnya tak ada manusia satupun di dunia ini yang ingin terluka. Apalagi tersakiti yang amat sangat.

Aku mengenal Novi saat dia menginjakkan kakinya pertama kali di bangku kuliah. Aku banyak membantunya, karena sebagai kakak angkatan tentu aku lebih tahu dari pada dia dalam beberapa hal. Keakraban kami bukan hanya sebagai teman, tapi sahabat. Benar – benar mengerti satu sama lain bahkan untuk masalah pribadi. Dia adalah tempatku untuk berbagi banyak hal. Kedekatan yang tak membuat ada keraguan untuk aku bisa berkeluh. Aku tahu segalanya tentang dia, begitupun dia terhadapku. Keakraban ini juga yang mengantarkanku ikut larut dalam kisah cintanya. Dia mulai menuturkan tentang kekasih barunya, dengan segala kebahagiaan yang dia bawa – dengan itu pula aku menimpali dengan pengalamanku hingga aku terus mengingatkannya untuk bisa lebih berhati – hati karena cinta terkadang bisa mengalahkan segalanya termasuk logika. Saat itu dia sedang di atas keindahan cinta hingga tidak terlalu mengindahkan kata – kataku.

Waktu melaju membawa cerita indah untuk hidup Novi, aku ikut bahagia dengan cerita indahnya. Perasaan bahagianya mungkin sedikit mengurangi perhatiannya padaku sebagai seorang teman. Tapi aku pikir, tidak terlalu berlebihan dengan sikapnya. Seseorang yang sedang di mabuk cinta tentu akan merasa sangat bahagia saat bersama dengan orang yang dia cintai. Hingga kadang sikapnya sedikit berubah di mata orang lain. Tapi dia masih sempat bercerita tentang kesibukan yang dia kerjakan bersama Azza dan juga bercerita tentang kisah cintanya ini padaku, itu mengartikan bahwa dia masih peduli dengan temannya; aku. Lewat waktuku yang sedikit berkurang karena kesibukan dia dengan  “teman” barunya itu, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku terus sibuk dengan kegiatanku. Karena aku memang merasa bahwa dia hanya teman, sahabat. Tidak lebih dari itu.

Tidak terasa semester baru telah menghadang dan kali ini merupakan moment istimewa yang dialami setiap mahasiswa semester akhir. Kegiatan yang sangat seru dan mengasyikan karena di sinilah kami mulai dikenalkan bagaimana bersosialisasi dan terjun langsung ke dalam masyarakat. Istilah KKN – Kuliah Kerja Nyata ini memang menuntut mahasiswa untuk bisa beradaptasi dengan kehidupan masyarakat dan mengasah nilai – nilai sosial termasuk dalam hal dalam memanage kelompok kami. Di sela – sela kesibukanku ini, masih sempat aku menemui Novi dan meluangkan diri untuk menikmati waktu dengan dia untuk sekedar melepas penat.

Saat aku kongkow dengan teman – teman termasuk ada Novi juga di sana, tidak seperti biasa dia terlihat asyik mengobrol dengan seorang cowok. Belakangan aku tahu kalau dia itu Azza, kekasih yang membuat hatinya selalu berbunga – bunga. Aku sekedar mengganggukan kepala tanda keramahanku untuk kedua-nya. Kemudian aku bergegas menemui teman – teman lain untuk saling bertukar cerita kami masing – masing. Aku larut dengan obrolan itu dan tidak peduli dengan asyiknya Novi dan Azza; sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara. Lepas pertemuan malam itu dengan pacar Novi, tak mengubah kedekatanku sebagai teman. Bahkan lebih sering kami bersama untuk sekedar saling menemani membeli kebutuhan – kebutuhan kecil. Seperti sore itu, setelah aku mengantarnya ke kos, dia sedikit menyinggung status jombloku yang sudah kusandang lebih dari dua bulan. Dengan sebuah inti yang aku tangkap bahwa dia hendak menjodohkanku dengan teman pacarnya sekaligus temannya juga. Sebut saja namanya Cherryl. Kesibukan KKN aku jadikan sebagai alasan jitu untuk tidak menaggapi penawarannya. Lagi pula status baru ini, sedang aku nikmati – hidup tanpa beban dan keterikatan dengan seorang pacar. Beberapa hari setelah itu, ternyata dia tidak menyerah dan masih menyorongkan Cherryl untuk mengisi kekosongan hatiku. Bahkan alamat jejaring sosialnyapun sengaja dia kasih, namun lagi – lagi aku mengaggapinya dengan datar.

Tidak terasa, waktu KKN tinggal di ujung waktu dan aku mulai siap dengan planning baru; meyelesaikan skripsiku secepat mungkin. Persiapan mengerjakan tugas akhir ini sudah mulai aku garap. Dari mulai mencari hard file literature sampai melalui media internetpun aku telusuri. Di sela – sela mengumpulkan bahan – bahan ini, sesekali aku  membuka situs jejaring social. Iseng, aku membuka alamat Cherryl. Pertama aku ketik namanya dan mulai muncul profilnya, aku terkejut. Ternyata Cherryl terlalu indah untuk diacuhkan. Aku mulai intens mengamati dia. Pelan – pelan perasaan mulai muncul. Dengan segera aku melaju ke kos Novi, aku mulai menyakan semuanya tentang dia. Aku benar – benar penasaran dan ingin bertemu dengan dia. Namun ketika aku utarakan keingginanku untuk bisa lebih dekat dengan Cherryl, saat itu pula aku sangat menyesali sikap acuhku selama ini. Ternyata dia sudah kembali ke kotanya, pindah kuliah di sana. Dia patah hati memilih pulang ke kotanya dari pada melihat mantan kekasihnya bersanding dengan yang lain. Novi mengatakan mungkin hal ini tidak akan terjadi jika dulu aku tidak acuh, datang untuknya dan mengobati kekecewaannya. Benar, saat itu memang Cherryl baru putus. Karena kekecewaan itulah, dia merasa terasing dan memilih meninggalkan kota ini dan pindah ke kota kelahirannya.

Berhari – hari aku merasakan penyesalan yang dalam, aku lampiaskan dengan mengejar skripsiku secepat mungkin. Agar aku bisa punya banyak waktu untuk segera mencarinya, menemui orang yang aku sayang. Iya, “sayang”; entah dari mana perasaan itu muncul, padahal belum pernah sekalipun aku bertatap mata dengan dia. Tapi yang ada dalam pikiranku sekarang hanya Cherryl seorang. Semangatku tumbuh dengan sebuah harapan. Harapan untuk bertemu dengan Cherryl. Semangat yang besar itulah, mendorongku untuk mengejar gelar Sarjanaku sembari mulai meniti karir. Aku melesat dengan karir dan studiku dan dalam kegalauan; penyesalan sikap acuhku yang tidak menanggapi kehadiran Cherryl. Dalam kegalauanku ini, ternyata Novi jauh lebih menderita. Kekasih pujaannya, ternyata sudah mulai jauh berubah. Keindahan yang dulu selalu dia ceritakan, sekarang beralih menjadi curhatan sedih meminta pacuan semangat. Akupun dengan semampuku selalu menghibur dia. Begitu pula dengan dia, berusaha mayakinkanku kalau aku masih punya harapan untuk Cherryl.

Aku terus mencari semua tentang dia. Hingga pada suatu malam, aku mendapatkan nomor teleponnya. Dengan hati bergetar, mulai aku tekan beberapa tombol di selulerku. Tak berani bersuara, kuawalali dengan mengenalkan diri melalui pesan singkat. Ternyata dia membalasku. Bahagianya. Begitu berhari – hari pelan – pelan aku mulai sering menghubunginya. Semangatku terpacu dan lepas kendali hingga semua tidak tepat. Dalam rasaku, aku teralu lama menunggunya. Bahkan sudah kehilangan dengan kepindahannya. Berbagai usaha aku lakukan untuk bisa lebih dekat dengan dia. Pegorbanan waktu dan perasaan, selalu aku lakukan. Tapi baginya, aku hanyalah sosok baru yang belum dia kenal. Aku hanya teman dari teman dia, Novi. Lagi pula aku tak pernah menjumpainya secara langsung. Namun perasaan menggebu mengacaukan semuanya. Aku mengungkapkan perasaanku sebelum aku bertemu dengan dia. Mungkin itu salah, bahkan sangat salah. Tapi aku ingin jujur dengan diriku sendiri dan untuk orang yang aku sayang.

~ bersambung ~