Oleh: Munji
Hardani, S. Pd
Hari kelulusanku untuk meninggalkan bangku kuliah telah tiba.
Tak banyak yang aku harapkan, kecuali ingin mendapatkan ucapan selamat dari Cherryl,
itu saja. Tapi tampaknya memang hal itu mustahil terjadi. Sekarang bahkan aku
tidak bisa menghubunginya lagi. Hari yang seharusnya aku lalui dengan suka ria
itu, terasa tak ada yang istimewa tanpa dia. Aku merasa apa yang kukejar sia –
sia. Kelulusanku dengan cepat aku raih, untuk dia. Tapi semua seolah percuma. Novi
masih tampak ingin membuatku tersenyum meski aku tahu, sekarang dia sedang
dalam kesedihan yang dalam. Azza pergi meniggalkan dia tanpa alasan yang jelas,
meninggalkannya begitu saja dan bekerja di luar kota. Azza pergi setelah
mendapatkan gelar Sarjananya. Aku berusaha tegar dengan ketidak hadiran Cherryl, dengan kepupusan harapanku
untuk bertemu dengannya. Semua mulai aku larutkan dengan kesibukan kerjaku. Ku
alihkan perhatianku untuk berkarir; tapi sedikit saja, selebihnya aku tetap
memikirkan dia. Sangat memikirkannya untuk bisa menemui dan meyakinkannya bahwa
aku mencintainya jauh sebelum aku
bisa menatap matanya.
Kekalutanku
tentang Cherryl mengantarkanku duduk berkeluh kepada Novi. Entah apa yang ada
dalam benaknya, hingga malam itu dia mengungkapkan bahwa dia menginginkan aku
untuk mendampinginya. Bukan karena kekecewaannya pada Azza, tapi karena dia
mencintaiku. Dalam kekosongan dan kesepian itulah, aku menganggukan kepala.
Walau yang ada dalam kepalaku hanya ada Cherryl seorang. Syarat aku ajukan,
karena memang aku tidak mencintai Novi. Aku sudah jatuh cinta dengan Cherryl
sepenuh hatiku. Novi menerima syarat untuk tidak mengekangku dalam hal apapun termasuk tetap
mencintai Cherryl.
Waktu berjalan
seiring berubahnya status kami dari teman menjadi pacar. Aku rasakan rasa
cintanya kepadaku semakin dalam. Selama itu pula aku masih terobsesi dengan Cherryl.
Akhirnya aku mulai bisa berkomunikasi lagi dengan Cherryl, bahkan aku
meyakinkan dia bahwa aku akan datang menemuinya. Pindah ke kotanya. Meninggalkan karirku di sini,
meninggalkan semuanya dan memulai semuanya di sana. Bersamannya. Untuk dia.
Semangatku kembali muncul, aku tahu Novi kecewa. Pertengakaran terjadi. Aku
kembali menagih janjinya untuk tidak melarangku mencintai Cherryl. Namun Novi
mengelak, sekarang beda. Perasaannya terlalu dalam padaku. Terlalu menyakitkan
untuk dia merelakanku dengan yang lain. Dalam segenap usahaku, aku masih
meyakinkan Cherryl. Begitupun dengan dia masih meyakinkanku untuk tetap tinggal
di sini. Bersama Novi, orang yang lebih tepat menurut dia. Meyakinkanku bahwa
dia tidak lebih baik dari Novi. Apapun itu, tapi yang aku tahu Cherryl enggan
untuk menerimaku.
Aku di ujung
kehampaan. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Semua terlalu rumit bagiku.
Cinta yang aku perjuangkan selama ini sepertinya memang sangat sulit untuk bisa
aku raih. Azza yang selalu meyakinkanku untuk tetap menjaga Novi, orang yang
masih sangat dia cintai, meski Novi yang sudah menutup hatinya untuk orang lain
dan hanya mematrikan
aku di hatinya. Sementara aku, aku mati – matian ingin mendapatkan Cherryl.
Belakangan aku tahu, ternyata Cherryl pernah menjalin asmara dengan Azza dan masih memendam cinta sampai
sekarang. Lalu bagaimana ini akan di ujungkan? Dengan putus asa aku putuskan
untuk mundur dari permainan ini. Aku lebih baik mundur dari pada terus
membebani pikiranku dengan harapan dan keinginan semu. Aku tahu, dalam titik
ini pun tidak ada yang menyerah. Kami saling mempertahankan perasaan masing – masing.
Novi telah lama
mengenalku. Mungkin karena itulah, dia lebih tahu bagaimana memperlakukan aku
di saat aku sedang kacau. Dengan halus perlahan dia membangkitkanku untuk tetap
mempunyai semangat. Aku perlahan bangkit dan berusaha menghilangkan perasaanku
pada Cherryl, meski tak pernah bisa. Aku tahu, Novi menolongku dari kekalutan.
Tapi tetap aku belum bisa mencintai dia sepenuhnya. Aku masih mencintai Cherryl. Kemudian semua kembali tenang,
aku mulai bisa mengendalikan diri. Begitu pula kami berempat, tidak pernah lagi
menunjukan egonya. Bulan
berganti tahun aku terus belajar mencintai Novi namun tak pernah mampu
melupakan Cherryl. Hari ulang tahun Cherryl aku ucapkan dengan penuh kasih.
Senang sekali rasanya, dia menanggapi usahaku. Dengan lebih halus aku dekatkan komunikasiku
unutuk bisa meraih hatinya. Lambat laun dia mengatakan tidak bisa menerimaku
karena Novi adalah temannya sendiri dan Azza
juga pernah menjadi kekasihnya. Itu akan sangat rumit jika Cherryl menerimaku.
Semua akan menjadi lebih kacau. Pernyataannya menggugah semangatku untuk
kembali menyakinkan dia akan cintaku. Keceriaanku mengundang pertanyaan pada
diri Novi, aku tahu pasti dia sudah tahu jawabannya. Tidak seperti sebelumnya,
dengan berurai air mata dia merelakanku untuk Cherryl; orang yang sangat aku
inginkan. “kejarlah dia, sampai kamu dapatkannya. Aku tahu, dari dulu kamu
mencintainya”, kata itu meluncur dari mulutnya. Dengan tangis kebahagiaan, aku
memeluknya. Bangga pada pengorbanannya
untukku.
Aku semakin yakin
pada Cherryl, pada pertemuan nanti dan pada cinta yang akan kuberikan untuknya.
Kebahagiaan yang sangat tak terbayarkan untuk segera meraih orang yang aku
cintai. Tapi semua harapanku pupus. Dengan singkat Cherryl memberi tahuku, dia
tak mau mengambil risiko
dan kembali meyakinkanku bahwa Novi jauh lebih baik segalanya dari dia. tapi
aku tak yakin hanya karena alasan itu dia mengubah keputusannya. Apakah karena Cherryl
masih mengharapkan Azza? Tapi untuk apa, kalau Azza hanya mencintai Novi? Seperti yang selalu Azza katakan
padaku dan dia tak akan menginginkan yang lain walau Novi sudah tidak
mengharapkannya karena sekarang dengan sangat tulus Novi mencintaiku. Aku
kembali melajukan kendaraanku di penat perayaan peralihan tahun dan penatnya pikiran
yang terus membayang di benakku. Menuju hati yang
setia menugguku, Novi. Aku bukan kembali untuk dia, tapi untuk meluapkan rasa
sedihku karena Cherryl. Aku merasa Cherryl telah mengacaukan hatiku; mengagungkanku kemudian membuangnya kembali.
Benar saja, Novi
masih di teras menungguku, dia yakin aku akan datang dan merayakan peralihan
tahun ini dengannya. Aku memeluknya erat, menangis, meluapkan emosi dan
kesakitanku karena Cherryl. “Dia mempermainkan aku”, hanya itu yang sanggup aku
ucapkan di sela sesenggukkan
tangisku. Dia ikut merasakan kesedihanku. “masih ada aku yang mencintaimu
dengan tulus dan masih akan terus mencintaimu”, dia menenangkanku. Berdua kami
menikmati dan mulai tersenyum diiringi riuhnya kembang api. Malam itu aku
tenang, bukan karena aku mencintainya. Tapi karena dia berusaha agar aku tidak
mengingat Cherryl apalagi terluka karenanya.
Kejadian itu mengurungku
untuk memikirkan Cherryl. Ketakutan akan kesakitan; itu yang membuatku untuk
terus diam dalam pelukan Novi. Walau aku tahu, kami masih dalam perasaan kami
masing – masing, tak pernah hilang. Aku terus melajukan karirku, dengan bantuan
Novi aku berhasil mendapatkan kerja di luar kota. Azza kembali menghubungiku
dan masih dengan perasaan yang sama; memintaku menjaga Novi, orang yang masih
sangat dia sayangi. Pikiranku kembali terbersit tentang Cherryl. tapi aku sudah
merasa terlalu dalam tersakiti. Haruskah aku kembali berjuang untuk Cherryl?
Haruskah aku ‘mundur’ seperti hari lalu? Aku tidak tahu, jauh ragaku terpisah
dari mereka, sekarang kami di tempat masing - masing. Tahun depan aku kembali, kadang
terfikir untuk menambatkan hatiku bukan untuk Cherryl atau Novi. Tapi dengan
cinta baru, entah siapapun dia. Hingga aku menutup buku ini dan menyimpannya di
hatiku. Hanya untuk kenangan, bukan untuk kembali. Kemudian aku melesat jauh meninggalkan
permainan ini; rantai cinta yang tak akan pernah berujung.
~Selesai~

