Jumat, 14 Maret 2014

Kosong


KOSONG (Rantai Cinta 3)

150314

Banyak hal yang terjadi dalam empat tahun. Aku kembali setelah berliku pengalaman dan sejuta cerita lain yang sebenarnya bisa saja mengubur ceritaku tentang rantai cinta. Memang benar, perasaanku kini sudah sangat berubah. Aku tidak lagi mengagumi Cherryl seperti dulu. Aku sama sekali tidak lagi mengaharapkan pertemuanku dengannya, apalagi memimmpikannya berada di sampingku. Sekarang aku benar – benar merasa lega, perasaanku lebih ringan dan fikiranku lebih tenang.

Tadi malam aku membuka akunnya di dunia maya. Akun miliknya bernuansa barat, maklum setelah pindah ke kota kelahirannya dia memilih untuk melanjutkan kuliahnya di Luar Negeri. Aku lihat semua tentang dia, benar sekali banyak hal yang bisa terjadi dalam empat tahun. Dan perasaanku, benar – benar berubah. Aku melihatnya hanya sebagai cerita masa lalu yang sama sekali tidak berpengaruh pada kehidupanku sekarang. Aku merasa, itulah hidupnya dan inilah hidupku yang tidak bisa dibandingkan atau dipaksakan untuk ‘berjodoh’. Mungkin memang kami hanya ditakdirkan hanya sebatas itu, tapi untuk perasaan sakit hati… masih adakah? Untuk pertanyaan itu, aku akan menjawab dengan diplomatis dan jujur; aku pilihkan pepatah lama gelas yang sudah retak tidak akan kembali seperti semula, aku tidak menggambarkan hatiku seretak itu saat ini. Tapi aku merasa ini terasa sangat pulih, walaupun ada sedikit sakit jika mengingatnya. Tapi hanya sedikit.

Biarlah, hatiku yang pernah dipermainkan ini… hanya aku dan Tuhan yang tahu tentang kepedihan itu. Namun ketenanganku sekarang jauh lebih sangat berarti dari pada keadaanku dulu yang sangat sakit saat berfikir semua tentang dia. Biarlah dia menjalani kehidupannya sendiri dan aku dengan ringan melangkah menjalani jalan hidup yang telah Tuhan gariskan, yang aku yakin itu sangat indah.

Pun demikian dengan perasaanku kepada Novi, saat itu aku pulang dari luar kota yang sengaja aku mampir ke tempatnya sebelum pulang ke rumah. Banyak hal yang kami bicarakan. Bukan canggung, tapi pembicaraan kami lebih terlihat seperti teman biasa. Mungkin karena sudah lama aku tidak mengobrol dengan dia. Dalam perbincangan itu, tiba – tiba dia bertanya “sekarang kamu pacarnya siapa?”. Aku Cuma tersenyum setengah tertawa, lalu sekenanya aku jawab “hmmm,aku pacaran dengan karir. Ga penting juga pacar – pacaran. Iya kan?”, aku sedikit tertawa lagi. Kemudian perbincangan kamipun lebih akrab lagi tapi tetap seperti orang yang tidak pernah berada dalam cerita masa lalu yang sama. Mungkin kami sama – sama berusaha melupakan cerita pahit itu. Cerita cinta yang mengorbankan persahabatan dan tidak akan pernah berujung.

Dari dua tahun yang lalu, kami memang tidak ada kata putus. Namun mungkin kami sama – sama tahu bahwa peristiwa itu sangat menguras pikiran kami dan membuat jiwa kami sangat tidak stabil. Dan saat jarak memisahkan kami, hubungan kami lambat laun berubah kembali menjadi seorang sahabat dan semakin jauh hanya seperti sebatas teman saja. Tentang cerita cintanya, aku tahu sekarang dia sedang dekat dengan seseorang. Dan aku sama sekali tidak merasa cemburu, bahkan senang karena dia mulai bisa mencintai orang lain selain aku, tidak mengharapkanku lagi. Layaknya seorang teman yang bahagia saat mendengar temannya mendapat kekasih baru, aku bahagia. Lalu, merasa kehilangankah aku? “Tidak”, itulah jawabanku tegas. Hanya sempat terfikir “kok bisa, orang yang dulu sangat mencintai dan rela melakukan apapun, sekarang menjadi biasa saja bahkan punya tambatan hati lain”, itu semua karena waktu dan keadaan hingga perasaan seseorang bisa benar – benar berubah.

Tentang jawabanku tadi yang tidak terlalu berfikir lagi tentang cinta dan menganggap itu tidak terlalu penting…, seriuskah? Mungkin. Karena aku merasa lebih ringan menjalani hidup tanpa dibebani masalah cinta. Empat tahun ini aku lebih banyak berteman dan sibuk dengan hal – hal positif lainnya. Tapi mungkin saja sebenarnya aku trauma dengan peristiwa itu. Teralu pahit menurutku. Hingga aku seperti mati rasa, tidak bisa lagi mencintai. Atau mungkin aku memang benar – benar sudah lupa bagaimana perasaan cinta itu dan bagaimana cara mencintai. 

Satu – satunya orang yang sudah bisa lepas dari kisah ini adalah Azza. Dia beruntung, membanting cerita pahit ini dengan keputusan besar. Dia menikah satu tahun setelah masalah ini mencuat. Mungkin sekarang dia sudah benar – benar bahagia dengan kehidupan dan keluarga kecilnya. Lalu bagaimana dengan aku? Serpihan ini masih terasa sakit untuk aku pungut dan aku satukan lagi. Biarlah serpihan – serpihan itu berserakan dan tetap seperti itu. Bukan aku tidak mengenal kata move on dalam kamus hidupku. Tapi aku orang yang terlalu sakit dari cerita ini. Dikenalkan, dicintai, mencintai, dipermainkan dan ditinggalkan. Ya, mereka bergerak meninggalkan semua saat aku masih terduduk menangisi kepahitan ini. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Toh perasaanku sekarang sudah lebih baik.

Bagaimana dengan hatiku yang kosong? Apakah aku masih mencintai Cherryl? Aku sudah tegas tidak mengaharapkannya, jadi sungguh tidak ada jawaban tentang kata cinta, karena aku saja tidak tahu lagi bagaimana perasaan mencintai. Aku sekarang menjalani garis hidupku dengan senyum dan benar – benar bahagia. Lalu bagaimana jika Tuhan menggariskan ‘pertemuan’ku dengan Cherryl dalam cerita hidupku selanjutnya? Aku tidak menampik, mungkin perasaanku akan lebih bahagia jika ada seseorang yang mengisi hatiku yang kosong.

3 komentar: