Kamis, 11 April 2013

Rantai Cinta (Part 2 - habis)

Oleh: Munji Hardani, S. Pd
Hari kelulusanku untuk meninggalkan bangku kuliah telah tiba. Tak banyak yang aku harapkan, kecuali ingin mendapatkan ucapan selamat dari Cherryl, itu saja. Tapi tampaknya memang hal itu mustahil terjadi. Sekarang bahkan aku tidak bisa menghubunginya lagi. Hari yang seharusnya aku lalui dengan suka ria itu, terasa tak ada yang istimewa tanpa dia. Aku merasa apa yang kukejar sia – sia. Kelulusanku dengan cepat aku raih, untuk dia. Tapi semua seolah percuma. Novi masih tampak ingin membuatku tersenyum meski aku tahu, sekarang dia sedang dalam kesedihan yang dalam. Azza pergi meniggalkan dia tanpa alasan yang jelas, meninggalkannya begitu saja dan bekerja di luar kota. Azza pergi setelah mendapatkan gelar Sarjananya. Aku berusaha tegar dengan ketidak hadiran Cherryl, dengan kepupusan harapanku untuk bertemu dengannya. Semua mulai aku larutkan dengan kesibukan kerjaku. Ku alihkan perhatianku untuk berkarir; tapi sedikit saja, selebihnya aku tetap memikirkan dia. Sangat memikirkannya untuk bisa menemui dan meyakinkannya bahwa aku mencintainya jauh sebelum aku bisa menatap matanya.

Kekalutanku tentang Cherryl mengantarkanku duduk berkeluh kepada Novi. Entah apa yang ada dalam benaknya, hingga malam itu dia mengungkapkan bahwa dia menginginkan aku untuk mendampinginya. Bukan karena kekecewaannya pada Azza, tapi karena dia mencintaiku. Dalam kekosongan dan kesepian itulah, aku menganggukan kepala. Walau yang ada dalam kepalaku hanya ada Cherryl seorang. Syarat aku ajukan, karena memang aku tidak mencintai Novi. Aku sudah jatuh cinta dengan Cherryl sepenuh hatiku. Novi menerima syarat untuk tidak mengekangku dalam hal apapun termasuk tetap mencintai Cherryl.

Waktu berjalan seiring berubahnya status kami dari teman menjadi pacar. Aku rasakan rasa cintanya kepadaku semakin dalam. Selama itu pula aku masih terobsesi dengan Cherryl. Akhirnya aku mulai bisa berkomunikasi lagi dengan Cherryl, bahkan aku meyakinkan dia bahwa aku akan datang menemuinya. Pindah ke kotanya. Meninggalkan karirku di sini, meninggalkan semuanya dan memulai semuanya di sana. Bersamannya. Untuk dia. Semangatku kembali muncul, aku tahu Novi kecewa. Pertengakaran terjadi. Aku kembali menagih janjinya untuk tidak melarangku mencintai Cherryl. Namun Novi mengelak, sekarang beda. Perasaannya terlalu dalam padaku. Terlalu menyakitkan untuk dia merelakanku dengan yang lain. Dalam segenap usahaku, aku masih meyakinkan Cherryl. Begitupun dengan dia masih meyakinkanku untuk tetap tinggal di sini. Bersama Novi, orang yang lebih tepat menurut dia. Meyakinkanku bahwa dia tidak lebih baik dari Novi. Apapun itu, tapi yang aku tahu Cherryl enggan untuk menerimaku.

Aku di ujung kehampaan. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Semua terlalu rumit bagiku. Cinta yang aku perjuangkan selama ini sepertinya memang sangat sulit untuk bisa aku raih. Azza yang selalu meyakinkanku untuk tetap menjaga Novi, orang yang masih sangat dia cintai, meski Novi yang sudah menutup hatinya untuk orang lain dan hanya mematrikan aku di hatinya. Sementara aku, aku mati – matian ingin mendapatkan Cherryl. Belakangan aku tahu, ternyata Cherryl pernah menjalin asmara dengan Azza dan masih memendam cinta sampai sekarang. Lalu bagaimana ini akan di ujungkan? Dengan putus asa aku putuskan untuk mundur dari permainan ini. Aku lebih baik mundur dari pada terus membebani pikiranku dengan harapan dan keinginan semu. Aku tahu, dalam titik ini pun tidak ada yang menyerah. Kami saling mempertahankan perasaan masing – masing.

Novi telah lama mengenalku. Mungkin karena itulah, dia lebih tahu bagaimana memperlakukan aku di saat aku sedang kacau. Dengan halus perlahan dia membangkitkanku untuk tetap mempunyai semangat. Aku perlahan bangkit dan berusaha menghilangkan perasaanku pada Cherryl, meski tak pernah bisa. Aku tahu, Novi menolongku dari kekalutan. Tapi tetap aku belum bisa mencintai dia sepenuhnya. Aku masih mencintai Cherryl. Kemudian semua kembali tenang, aku mulai bisa mengendalikan diri. Begitu pula kami berempat, tidak pernah lagi menunjukan egonya. Bulan berganti tahun aku terus belajar mencintai Novi namun tak pernah mampu melupakan Cherryl. Hari ulang tahun Cherryl aku ucapkan dengan penuh kasih. Senang sekali rasanya, dia menanggapi usahaku. Dengan lebih halus aku dekatkan komunikasiku unutuk bisa meraih hatinya. Lambat laun dia mengatakan tidak bisa menerimaku karena Novi adalah temannya sendiri dan Azza juga pernah menjadi kekasihnya. Itu akan sangat rumit jika Cherryl menerimaku. Semua akan menjadi lebih kacau. Pernyataannya menggugah semangatku untuk kembali menyakinkan dia akan cintaku. Keceriaanku mengundang pertanyaan pada diri Novi, aku tahu pasti dia sudah tahu jawabannya. Tidak seperti sebelumnya, dengan berurai air mata dia merelakanku untuk Cherryl; orang yang sangat aku inginkan. “kejarlah dia, sampai kamu dapatkannya. Aku tahu, dari dulu kamu mencintainya”, kata itu meluncur dari mulutnya. Dengan tangis kebahagiaan, aku memeluknya. Bangga pada pengorbanannya untukku.

Aku semakin yakin pada Cherryl, pada pertemuan nanti dan pada cinta yang akan kuberikan untuknya. Kebahagiaan yang sangat tak terbayarkan untuk segera meraih orang yang aku cintai. Tapi semua harapanku pupus. Dengan singkat Cherryl memberi tahuku, dia tak mau mengambil risiko dan kembali meyakinkanku bahwa Novi jauh lebih baik segalanya dari dia. tapi aku tak yakin hanya karena alasan itu dia mengubah keputusannya. Apakah karena Cherryl masih mengharapkan Azza? Tapi untuk apa, kalau Azza hanya mencintai Novi? Seperti yang selalu Azza katakan padaku dan dia tak akan menginginkan yang lain walau Novi sudah tidak mengharapkannya karena sekarang dengan sangat tulus Novi mencintaiku. Aku kembali melajukan kendaraanku di penat perayaan peralihan tahun dan penatnya pikiran yang terus membayang di benakku. Menuju hati yang setia menugguku, Novi. Aku bukan kembali untuk dia, tapi untuk meluapkan rasa sedihku karena Cherryl. Aku merasa Cherryl telah mengacaukan hatiku; mengagungkanku kemudian membuangnya kembali.

Benar saja, Novi masih di teras menungguku, dia yakin aku akan datang dan merayakan peralihan tahun ini dengannya. Aku memeluknya erat, menangis, meluapkan emosi dan kesakitanku karena Cherryl. “Dia mempermainkan aku”, hanya itu yang sanggup aku ucapkan di sela sesenggukkan tangisku. Dia ikut merasakan kesedihanku. “masih ada aku yang mencintaimu dengan tulus dan masih akan terus mencintaimu”, dia menenangkanku. Berdua kami menikmati dan mulai tersenyum diiringi riuhnya kembang api. Malam itu aku tenang, bukan karena aku mencintainya. Tapi karena dia berusaha agar aku tidak mengingat Cherryl apalagi terluka karenanya.

Kejadian itu mengurungku untuk memikirkan Cherryl. Ketakutan akan kesakitan; itu yang membuatku untuk terus diam dalam pelukan Novi. Walau aku tahu, kami masih dalam perasaan kami masing – masing, tak pernah hilang. Aku terus melajukan karirku, dengan bantuan Novi aku berhasil mendapatkan kerja di luar kota. Azza kembali menghubungiku dan masih dengan perasaan yang sama; memintaku menjaga Novi, orang yang masih sangat dia sayangi. Pikiranku kembali terbersit tentang Cherryl. tapi aku sudah merasa terlalu dalam tersakiti. Haruskah aku kembali berjuang untuk Cherryl? Haruskah aku ‘mundur’ seperti hari lalu? Aku tidak tahu, jauh ragaku terpisah dari mereka, sekarang kami di tempat masing - masing. Tahun depan aku kembali, kadang terfikir untuk menambatkan hatiku bukan untuk Cherryl atau Novi. Tapi dengan cinta baru, entah siapapun dia. Hingga aku menutup buku ini dan menyimpannya di hatiku. Hanya untuk kenangan, bukan untuk kembali. Kemudian aku melesat jauh meninggalkan permainan ini; rantai cinta yang tak akan pernah berujung. 
~Selesai~ 

2 komentar:

  1. X suka Y.. Y suka Z .. Z suka A,. Dan A suka X.. Jd rumusnya adalah e=mc kuadrat --> bom molotof

    BalasHapus
  2. Knp ga saling suka aja ya,, biar cpet. Mngkin mrk tll perasa.

    BalasHapus