Menelusuri jalan
yang pernah kita lewati berdua semua masih tampak sama, basah dan menenangkan hati.
Kulihat pohon – pohon dihutan itu masih hijau, embun jatuh hingga ke sungai
yang dingin dan jernih. Sejuk. Kau pernah di sini, membasuh wajahmu
mencerahkanku. Tanpa sadar aku tersenyum mengenang semuanya. Kau di mana
sekarang? Sudahlah. Seharusnya aku fokus pada diri dan masa depanku saja, tanpa
harus memikirkan ini. Aku kembali melangkah pelan, kembali melihat sawah –
sawah hijau lengkap dengan senyum para petani yang giat merawatnya. Pagi yang
sangat sejuk, sesejuk hatiku saat bersamamu dulu. Kulanjutkan ayunan kakiku,
kembali terngiang gurauanmu saat berjalan di antara sawah – sawah ini. Kenapa
semua masih tentangmu? Padahal kau telah pergi, tak di sini lagi. Kuurungkan
melanjutkan jalan pagi kali ini, dari pada aku terus mengingatmu sepanjang
jalan. Kurebahkan semua kepenatan tentangmu di pagi yang dingin ini. Berharap
bayangmu menghilang setelah ku membuka mata. Dinginnya dataran tinggi desaku,
membuatku kembali membenamkan sejuta masalah ini dalam mimpi.
Kembali kubuka
tulisan dan gambar foto kenangan kita, tempat di mana kita pernah menikmatinya
berdua. Telalu banyak hal yang harus kulupakan, terlalu banyak memori yang
harus kuhapus. Semakin aku mencoba menghilangkan semua dari ingatanku, semakin
semuanya kembali tergambar jelas. Kau pernah di sini, entah sebagai apa. Tapi
yang aku rasa, kau adalah kekasihku. Aku tak tahu apa di hatimu masih mengingat
tempat ini, rumah ini; tempat di mana
kau sering mengunjungiku, gunung – gunung yang tinggi, air yang dingin, angin
yang sejuk... dan apakah kau masih mengingatku? Beribu pertanyaan kembali
membuatku gelisah. Terlalu sulit untuk melupakan tiga tahun kebersamaanku
denganmu. Harusnya aku sadar dari awal dengan risiko hubungan ini. Menjadi yang
kedua itu, pahit!
Dalam setengah
kekecewaanku, harusnya aku bersyukur pernah bersamamu dan memilikimu. Melewati
semuanya berdua, tertawa bersama dan menemanimu saat tangis. Sebenarnya mungkin
aku yang bersalah, memintamu: sebuah
hati yang sudah dimiliki oleh orang lain. Walaupun saat itu dia sedang jauh
darimu. Kau menyanggupinya dengan syarat; meninggalkanku saat dia kembali. Saat
itu aku tidak berfikir akan sesakit ini saat kau benar – benar pergi. Yang aku
rasa saat itu hanya kebahagiaan karena bisa memilikimu. Kini semua sudah
berkahir, tiga tahun terasa berjalan sangat cepat. Lebih cepat dari detak
jantungku tiap kali mengingatmu.
Ba’da
Magrib petang ini terasa lebih sepi dari biasanya walapun
tak terhitung suara belalang yang asyik bernyanyi di belakang rumahku. Aku
melihat garis wajah ibuku yang semakin menua sedang menyiapkan makan malam. Di
seberang sana, bapakku masih sibuk dengan sebatang rokok di bibirnya. Sementara
aku mati – matian mengumpulkan konsentrasiku yang terpecah agar aku bisa
menyelesaikan tugas akhirku. Memang sekarang aku lebih banyak di rumah dari
pada stay di kos-kosan agar lebih
bisa berkonsentrasi dengan tugasku. Aku bertekad memakai toga di kepalaku tahun
ini. Menyelesaikan semuanya dan ingin bekerja di tempat yang jauh: jauh meninggalkanmu,
jauh dari semua kenangan kita meskipun sebenarnya enggan untuk meninggalkan
rumah dan kampung halamanku.
Aku akui, semua
sangat berat bagiku! Keharusan melupakanmu karena batas waktu, lebih seperti
halnya kontrak cinta yang telah habis masa kebersamaannya dan mau tidak mau
harus meninggalkannya. Payah benar aku ini, harusnya sudah aku antisipasi
semuanya. Salahku, aku seperti tak ingat bahwa aku hanya meminjam ragamu dari
sebuah hati yang sangat setia. Haruskah aku membenci dan menyalahkan semuanya? Aku
terus bergelut dengan pikiranku sendiri. Ya Tuhan, pecah sudah konsentrasiku. Kenapa
cinta itu harus membuat sesak dan pikiran kacau seperti ini. Aku tak akan bisa
melupakan saat kita tertawa di meja sudut rumah makan itu, aku juga belum mampu
melupakan tangismu saat kau dalam masalah. Kenapa aku begitu mencintaimu.
Aku termenung di
sudut ruangan perpustakaan. Di kampus ini, aku pernah bersamamu. Aku beranjak
berdiri berharap membuyarkan ingatanku tentangmu, menuju buku – buku tebal
berhimpitan. Satu – satu buku di rak besar ini kusisir untuk kusesuaikan dengan
judul Skripsiku. Rasanya berjuta bukupun tidak ada yang sesuai, bukan karena
bukunya tapi karena fikiranku yang terlalu bodoh tidak bisa membagi space dengan benar. Hingga di otakku
hanya penuh terisi tentangmu. Dua jam aku berenang dalam jurnal karya penulis –
penulis handal. Akhirnya, sedikit ada peningkatan, nanti akan kusalin dan besok
menghadap dosen. Mudah – mudahan dosen bermurah hati dan melancarkan Skripsiku
ini.
Hitungan bulan
sedah kulewati berjuang mengerjakan tugas akhirku dan berjuang menghapus satu
persatu guratan wajahmu di hatiku. Setengahnya terbayar; aku bisa menyelesaikan
Skripsiku tapi sayangnya aku gagal melupakanmu. Bulan depan aku meniggalkan kampus
ini, meninggalkan kenangan kita, meninggalkan kesakitan ini – aku harap. Besok
akhir pekan, aku akan pulang merefresh
kepenatan otakku setelah dua pekan stay
di kos demi menyelesaikan tulisan tebal ini. Barang – barang mulai aku
rapihkan, agar saat wisuda nanti aku tidak kerepotan membawanya. Ku buka ponselku, membaca kembali pesan dari kakak
iparku di Jakarta. Sudah kuputuskan, aku akan bekerja di sana. Itu akan sangat
lebih baik karena aku bisa memulai semuanya dengan semangat baru.
Kembali aku
menatap gunung tinggi yang sejuk lengkap dengan hamparan padi hijau dibawahnya.
Kusandarkan tubuhku di batu, sesekali terasa aliran sungai dingin ini melewati
dua kakiku yang kujuntaikan di sana. Menatap lebih dalam dan kupejamkan kedua
bola mataku. Saat kubuka, tidak terasa air mata mengalir di kedua pipiku. Beban
hati yang aku pendam sendiri seolah tertumpah sudah sekarang. Aku lihat diriku
di air sungai yang bening, tampak kurus dengan guratan masalah berat tergambar
jelas di wajahku. Senyumku yang dulu, sekarang telah pudar. Besok aku akan ke
Jakarta, kakak iparku sudah menyiapkan tiketnya. Aku akan meninggalkan
kampungku tercinta dan meninggalkanmu yang pernah tinggal di hatiku!
*Sebelum insan
yang terluka hatinya itu duduk menepi di batu sungai, dia menulis puisi di
secarik kertas untuk orang yang paling dia cintai – yang telah pergi
meninggalkannya. Diremas dan dilemparkan kertas itu, berharap sampai kepada
orang yang dia sayangi melalui aliran sungai dan terbaca olehnya.
Jika aku tahu
dingin akan membuatku sakit, aku tak akan ikut masuk
Jika aku tahu malam
akan membuatku sepi, aku tak kan berani keluar
Jika aku tahu
melihatmu akan membuatku sakit, aku tak kan menangkap bayang ragamu
Jika aku tahu itu
semuanya, tak akan pernah aku mencoba menyentuh hidupmu
Karena kamu. Aku
mencintaimu.
Lalu,
Apa salahku jika
aku mencintaimu?
Di hilir sungai,
sampailah kertas itu pada seseorang yang mempunyai senyuman, mata dan hati yang
sangat indah, dan tersenyum saat membacanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar