Created on
January 11th 2013
Cerpen
Cerita Fiktif,
terinspirasi dari kisah cinta seorang teman
-Lepas Masa Lalu-
Oleh: Munji Hardani, S. Pd
Aku sekarang di
sini, entah apa yang membawaku hingga aku terduduk di kursi yang banyak orang
idam – idamkan. Tak terasa sudah dua tahun sejak kelulusanku di bangku kuliah,
aku berkutat dengan kesibukan ini. Hanya sesekali aku bisa menikmati hangatnya
sinar pagi, terutama di akhir pekan. Menerawang jauh pada banyak hal yang telah
aku lalui, membuatku bersih kukuh untuk melanjutkan hidupku di sini. Enggan
untuk kembali, mengingatmu, dia dan semua. Kulonggarkan dasi yang melilit di leher kerah bajuku. Menarik nafas
dalam – dalam dan menghembuskannya bersama banyangan – bayangan yang kuharap
segera menghilang tanpa satu titik yang tersisa. Sengaja jam istirahat siang
ini aku habiskan di kursi kerjaku, menyelam dunia maya sejenak hanya untuk
mengobati kerinduanku atas goresan wajahmu, goresan luka yang aku buat untukmu.
Baju itu menjadi saksi betapa aku pernah memujamu saat pertama aku meyakinkanmu
untuk bisa menjalani bersamaku. Kalau sejuta kata maaf bisa membuatmu
memaafkanku, aku akan ucapkan berjuta - juta kali lebih banyak dari yang mampu
bisa aku ucapkan. Sungguh aku tak tenang dengan hatiku yang terus bergelut pada
kesalahan itu. Semakin jauh aku menerawang pada empat tahun lalu. Statusku
sebagai mahasiswa kala itu, membuatku menjadi sosok yang sangat mudah bergaul.
Hingga aku menemukanmu. Keluguanmu terus membuatku memburu hingga aku bisa
mendapatkanmu. Walau saat itu aku telah melewatkan satu hati yang telah
menemaniku lebih dulu. Karena kamu aku menginggalkannya, karena kamu aku
melupakannya; itu karena kamu adalah hati yang aku cari. Setelah aku mampu
membuatmu bertekuk lutut di hadapanku, ternyata itu tak mampu mengubah
kelakuanku yang terus memburu banyak cinta. Dari satu hati ke hati yang lain.
Dengan tanpa alasan juga meninggalkanmu kala itu. Aku pergi meninggalkan kamu
dan dia.
Tahun pertama
aku di tempat baru, sulit rasanya menjalani kehidupan baru. Walaupun aku
mendapatkan pekerjaan yang bagus dan karirku mulai merangkak naik, aku merasa
ada sesuatu yang kurang. Hatiku terasa kosong. Aku tak tahu apa yang aku cari,
kenapa jiwaku bisa merasa sepi dan kenapa gairahku yang selalu berpetualang
cinta sekarang terasa mati? Aku mulai sadar, ternyata kamu adalah sosok yang
aku cari, wajar jika aku meninggalkannya kemudian memilihmu. Walaupun mungkin itu
menyakitkan untuk dia. Kebaikanmu, pengorbanan dan ketulusan yang selalu kamu
berikan; itu yang tidak lagi aku rasakan. Di mana lagi aku bisa mencari hati
sepertimu, hati yang tulus tanpa pamrih, selalu memberi tanpa menuntut,
menemani dalam tangis dan tawa. Kerinduan akan sosokmu itulah yang kemudian
memacu otakku berfikir lebih keras untuk melupakanmu dan memaksa hatiku untuk
mencari tambatan hati yang baru. Ragaku di sini, tapi jiwaku masih di hatimu;
itulah yang aku rasakan saat itu. Hingga walaupun beberapa kali aku berusaha
dekat dengan orang lain, tapi tetap guratan wajah lugu mengalahkan setiap
mahluk yang sengaja aku sodorkan di hadapanku untuk menggantikanmu di hatiku.
Lamunanku
dibuyarkan oleh suara ketukan pintu ruanganku, saat kulirik arloji di tangan
kiriku ternyata sudah selesai jam istirahat. Setumpuk berkas yang harus aku
tanda tangani diantarkan pegawaiku yang sudah kupersilahkan masuk. Dan hari ini
aku berniat pulang lebih awal. Ada banyak hal yang harus aku persiapkan untuk
kepulanganku besok. Sesampai di rumah dinasku, ada lelah yang harus aku
singgahkan di sofa di sudut ruang santaiku. Lepas lelah, aku mulai berkemas dan
mengecek kembali barang – barang yang akan aku bawa esok pagi. “Pesawat terbang
pagi, packing harus selesai sekarang juga”, pikirku. Dan Setelah semua beres,
aku putuskan untuk tidur dengan segala permasalahan yang masih menjejali otakku.
Di ruang lobi menunggu jam penerbangan, kembali menyeruak tentang kamu. Ya,
kamu dan segala kenangan kita. Entah mengapa sikap mengalah dan “nrima” itu
yang justru membuat aku merasa bersalah. Tapi apa iya aku akan menemuimu atas
kepulanganku sekarang? Sementara kepulanganku kali ini justru untuk mengabari
orang tuaku kalau pacarku sekarang memintaku untuk segera dilamar. Aku berniat
membawa serta orang tuaku nanti untuk segera mengurus pertunanganku. Akhirnya
memang bukan dia atau kamu yang aku pilih, tapi justru ‘orang baru’ yang tiba –
tiba datang dan tersenyum dengan tulus di depanku. Yang menggambarkan
perasaanya bahwa dia mencintaiku bukan karena alasan. Tapi karena dia memang
mencintaiku, dengan semua apa yang ada di diriku. Aku hanya bisa berharap, satu saat nanti aku
juga memiliki perasaan yang sama: semoga, sesegera mungkin.
Kepulanganku
disambut senyum ramah keluargaku. Wajah ceria selalu aku guratkan di wajahku,
tapi itu bukan simbol pergolakan batin yang aku rasakan sekarang. Sempat aku berfikir;
apakah ini hanya pelarian? Dan apakah ada orang menikah dengan orang yang baru
diniatkan untuk dicintai? Dan ….. apakah ada orang menikah saat batinnya sedang
kacau?. Sebenarnya aku tidak tahu pasti apa yang aku inginkan hingga aku
seperti melaju tanpa arah. “Mungkin ini karma karena aku dulu selalu
mempermainkan hati, hingga aku sekarang justru dipermainkan oleh perasaanku
sendiri. Akh, tapi aku tidak percaya karma”; demikian pertanyaan dan
pertentangan terus berkecamuk di kepalaku, terasa membuatnya akan pecah berai.
Ini yang terakhir, aku ingin menghubungi dia. Sebelum aku hidup dengan orang
lain. Aku tidak ingin masa laluku
menghambat kebahagiaanku. Karena aku
sangat ingin menjadi yang terbaik untuk orang yang tulus mendampingiku
sekarang, seburuk apapun aku dulu. Perasaan bisa dikorbankan; tersakiti demi
kebahagian orang lain itu lebih indah. Dari pada aku bahagia karena ada orang
lain yang tersakiti.
“Untuk
seseorang yang paling tulus yang pernah hadir untukku.
Aku
sangat menyesal karena meninggalkanmu saat itu. Tapi aku lebih menyesal karena
ternyata jiwaku tidak ikut pergi. Hanya ragaku yang menjauh meninggalkanmu.
Kamu tersakiti karena pernah mencintaiku, tapi perasaanku lebih sulit saat aku
tahu perasaan cintamu itu tak menyisakan ruang sama sekali untuk aku menerima
orang lain. Aku sadar kamu sangat berarti justru saat aku tahu aku tak bisa
kembali.
Aku
minta, kamu bisa melepaskan perasaanmu dengan memberikan sedikit ruang di
hatiku agar orang lain bisa mengisi ruang itu dan berbagi denganmu, agar aku
bisa mencoba mencintainya walau tak bisa sebesar perasaanmu padaku. Berikan aku
kesempatan menebus kesalahanku padamu dengan menjadi yang terbaik untuknya. Aku
ingin tulus sepertimu saat mencintai orang lain.
Terimakasih
mengajariku banyak hal.
Karena
ikhlasmu, semoga kami bahagia”
Aku akhiri
goresan penaku dengan harapan aku lebih lega melenggang tanpa terbebani
perasaan bersalah masa lalu. Kemudian aku tersenyum lega saat aku tahu,
ternyata sepucuk surat itu membuatmu tersenyum. Terbukti dari surat balasanmu
yang menggambarkan ketulusan hatimu yang berjiwa besar. Aku bangga pernah mengenalmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar