Rabu, 20 Maret 2013

-Lepas Masa Lalu-



Created on January 11th 2013
Cerpen
Cerita Fiktif, terinspirasi dari kisah cinta seorang teman

-Lepas Masa Lalu-
Oleh: Munji Hardani, S. Pd
Aku sekarang di sini, entah apa yang membawaku hingga aku terduduk di kursi yang banyak orang idam – idamkan. Tak terasa sudah dua tahun sejak kelulusanku di bangku kuliah, aku berkutat dengan kesibukan ini. Hanya sesekali aku bisa menikmati hangatnya sinar pagi, terutama di akhir pekan. Menerawang jauh pada banyak hal yang telah aku lalui, membuatku bersih kukuh untuk melanjutkan hidupku di sini. Enggan untuk kembali, mengingatmu, dia dan semua. Kulonggarkan dasi yang  melilit di leher kerah bajuku. Menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya bersama banyangan – bayangan yang kuharap segera menghilang tanpa satu titik yang tersisa. Sengaja jam istirahat siang ini aku habiskan di kursi kerjaku, menyelam dunia maya sejenak hanya untuk mengobati kerinduanku atas goresan wajahmu, goresan luka yang aku buat untukmu. Baju itu menjadi saksi betapa aku pernah memujamu saat pertama aku meyakinkanmu untuk bisa menjalani bersamaku. Kalau sejuta kata maaf bisa membuatmu memaafkanku, aku akan ucapkan berjuta - juta kali lebih banyak dari yang mampu bisa aku ucapkan. Sungguh aku tak tenang dengan hatiku yang terus bergelut pada kesalahan itu. Semakin jauh aku menerawang pada empat tahun lalu. Statusku sebagai mahasiswa kala itu, membuatku menjadi sosok yang sangat mudah bergaul. Hingga aku menemukanmu. Keluguanmu terus membuatku memburu hingga aku bisa mendapatkanmu. Walau saat itu aku telah melewatkan satu hati yang telah menemaniku lebih dulu. Karena kamu aku menginggalkannya, karena kamu aku melupakannya; itu karena kamu adalah hati yang aku cari. Setelah aku mampu membuatmu bertekuk lutut di hadapanku, ternyata itu tak mampu mengubah kelakuanku yang terus memburu banyak cinta. Dari satu hati ke hati yang lain. Dengan tanpa alasan juga meninggalkanmu kala itu. Aku pergi meninggalkan kamu dan dia.

Tahun pertama aku di tempat baru, sulit rasanya menjalani kehidupan baru. Walaupun aku mendapatkan pekerjaan yang bagus dan karirku mulai merangkak naik, aku merasa ada sesuatu yang kurang. Hatiku terasa kosong. Aku tak tahu apa yang aku cari, kenapa jiwaku bisa merasa sepi dan kenapa gairahku yang selalu berpetualang cinta sekarang terasa mati? Aku mulai sadar, ternyata kamu adalah sosok yang aku cari, wajar jika aku meninggalkannya kemudian memilihmu. Walaupun mungkin itu menyakitkan untuk dia. Kebaikanmu, pengorbanan dan ketulusan yang selalu kamu berikan; itu yang tidak lagi aku rasakan. Di mana lagi aku bisa mencari hati sepertimu, hati yang tulus tanpa pamrih, selalu memberi tanpa menuntut, menemani dalam tangis dan tawa. Kerinduan akan sosokmu itulah yang kemudian memacu otakku berfikir lebih keras untuk melupakanmu dan memaksa hatiku untuk mencari tambatan hati yang baru. Ragaku di sini, tapi jiwaku masih di hatimu; itulah yang aku rasakan saat itu. Hingga walaupun beberapa kali aku berusaha dekat dengan orang lain, tapi tetap guratan wajah lugu mengalahkan setiap mahluk yang sengaja aku sodorkan di hadapanku untuk menggantikanmu di hatiku.

Lamunanku dibuyarkan oleh suara ketukan pintu ruanganku, saat kulirik arloji di tangan kiriku ternyata sudah selesai jam istirahat. Setumpuk berkas yang harus aku tanda tangani diantarkan pegawaiku yang sudah kupersilahkan masuk. Dan hari ini aku berniat pulang lebih awal. Ada banyak hal yang harus aku persiapkan untuk kepulanganku besok. Sesampai di rumah dinasku, ada lelah yang harus aku singgahkan di sofa di sudut ruang santaiku. Lepas lelah, aku mulai berkemas dan mengecek kembali barang – barang yang akan aku bawa esok pagi. “Pesawat terbang pagi, packing harus selesai sekarang juga”, pikirku. Dan Setelah semua beres, aku putuskan untuk tidur dengan segala permasalahan yang masih menjejali otakku. Di ruang lobi menunggu jam penerbangan, kembali menyeruak tentang kamu. Ya, kamu dan segala kenangan kita. Entah mengapa sikap mengalah dan “nrima” itu yang justru membuat aku merasa bersalah. Tapi apa iya aku akan menemuimu atas kepulanganku sekarang? Sementara kepulanganku kali ini justru untuk mengabari orang tuaku kalau pacarku sekarang memintaku untuk segera dilamar. Aku berniat membawa serta orang tuaku nanti untuk segera mengurus pertunanganku. Akhirnya memang bukan dia atau kamu yang aku pilih, tapi justru ‘orang baru’ yang tiba – tiba datang dan tersenyum dengan tulus di depanku. Yang menggambarkan perasaanya bahwa dia mencintaiku bukan karena alasan. Tapi karena dia memang mencintaiku, dengan semua apa yang ada di diriku.  Aku hanya bisa berharap, satu saat nanti aku juga memiliki perasaan yang sama: semoga, sesegera mungkin.

Kepulanganku disambut senyum ramah keluargaku. Wajah ceria selalu aku guratkan di wajahku, tapi itu bukan simbol pergolakan batin yang aku rasakan sekarang. Sempat aku berfikir; apakah ini hanya pelarian? Dan apakah ada orang menikah dengan orang yang baru diniatkan untuk dicintai? Dan ….. apakah ada orang menikah saat batinnya sedang kacau?. Sebenarnya aku tidak tahu pasti apa yang aku inginkan hingga aku seperti melaju tanpa arah. “Mungkin ini karma karena aku dulu selalu mempermainkan hati, hingga aku sekarang justru dipermainkan oleh perasaanku sendiri. Akh, tapi aku tidak percaya karma”; demikian pertanyaan dan pertentangan terus berkecamuk di kepalaku, terasa membuatnya akan pecah berai. Ini yang terakhir, aku ingin menghubungi dia. Sebelum aku hidup dengan orang lain. Aku tidak ingin masa laluku  menghambat kebahagiaanku. Karena aku sangat ingin menjadi yang terbaik untuk orang yang tulus mendampingiku sekarang, seburuk apapun aku dulu. Perasaan bisa dikorbankan; tersakiti demi kebahagian orang lain itu lebih indah. Dari pada aku bahagia karena ada orang lain yang tersakiti.

“Untuk seseorang yang paling tulus yang pernah hadir untukku.
Aku sangat menyesal karena meninggalkanmu saat itu. Tapi aku lebih menyesal karena ternyata jiwaku tidak ikut pergi. Hanya ragaku yang menjauh meninggalkanmu. Kamu tersakiti karena pernah mencintaiku, tapi perasaanku lebih sulit saat aku tahu perasaan cintamu itu tak menyisakan ruang sama sekali untuk aku menerima orang lain. Aku sadar kamu sangat berarti justru saat aku tahu aku tak bisa kembali.
Aku minta, kamu bisa melepaskan perasaanmu dengan memberikan sedikit ruang di hatiku agar orang lain bisa mengisi ruang itu dan berbagi denganmu, agar aku bisa mencoba mencintainya walau tak bisa sebesar perasaanmu padaku. Berikan aku kesempatan menebus kesalahanku padamu dengan menjadi yang terbaik untuknya. Aku ingin tulus sepertimu saat mencintai orang lain.
Terimakasih mengajariku banyak hal.
Karena ikhlasmu, semoga kami bahagia”

Aku akhiri goresan penaku dengan harapan aku lebih lega melenggang tanpa terbebani perasaan bersalah masa lalu. Kemudian aku tersenyum lega saat aku tahu, ternyata sepucuk surat itu membuatmu tersenyum. Terbukti dari surat balasanmu yang menggambarkan ketulusan hatimu yang berjiwa besar. Aku bangga pernah  mengenalmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar