Rabu, 17 Oktober 2012

Saat Kusentuhkan Ujung Kakiku di Tanah Timor

Oleh: Munji Hardani, S. Pd
 
Siang itu mentari masih terasa terik, lebih tepatnya sangat panas, untuk ukuran orang yang pertama kali menyentuhkan kakinya di tanah Timor seperti saya. Tatapan tak pernah lepas dari setiap guratan pemandangan sisi jalan yang belum terlalu biasa di tangkap mata ini. Mulai dari rumah beratap *daun giwang lengkap dengan dinding *bebak-nya, tapak – tapak kaki bocah cilik tanpa alas, hingga tegasnya ragawi nona Timor yang tak berpeluh dengan ember – ember pengangkut air. Di penghujung tahun 2011 itulah, sebuah keberkahan yang sangat luar biasa telah Tuhan singgahkan kepada guru muda seperti saya, untuk ikut melihat secara real wacana pendidikan dan kehidupan masyarakat di sana. Di dusun Noehaen desa Pakubaun kecamatan Amarasi Timur itulah, saya mengemban tugas yang bagi saya cukup berat: mendidik. Ya, bukan sekedar mengajari mereka mengenal huruf, melihaikan berhitung atau mengenalkan apa itu teknologi. Tapi lebih dari itu, mendidik bagaimana bertutur, beradab sekaligus memberikan ilmu – ilmu pendidikan.
 
Pagi itu sedikit dingin berkabut, desa tanpa asap bemo itu masih segar. Ternyata masih pagi benar saya bangun, alasannya  adalah itu hari pertama saya mengajar di kota yang dijuluki kota Cendana. Walaupun disisi kanan kiri dari jalan yang saya lalui, belum pernah saya melihat kayu yang keharuman namanya telah mewangi hingga ke manca negara itu. Semalaman saya memang sudah tidak sabar untuk melihat wajah - wajah lugu bocah – bocah berseragam biru – putih berbaris lengkap dengan senyum manisnya, hingga pagi benar saya sudah terjaga dari tidur. Tapi ada satu kegiatan baru yang harus mulai saya biasakan untuk dilakukan sebelum saya berangkat ke sekolah, yaitu mengangkut air. Itulah hal wajib yang harus saya lakukan sebelum mengguyur badan hingga bersih. Mulai saya raih dua ember lengkap dengan kayu pikulnya, hal itu saya tiru dari orang – orang yang dengan ringan membawa berember – ember air. Ternyata menarik air disumur tidak segampang yang saya bayangkan. Apalagi tambang plastik itu tanpa dilengkapi dengan katrol, hingga tangan saya mulai memerah dan terasa perih. Dua ember penuh berisi air telah siap untuk saya pikul. Ini adalah tantangan kedua sebelum mandi, benar saja, ternyata badan saya tidak cukup kuat menopang dua ember itu hingga pundak saya ikut bergoyang kedepan dan belakang untuk menghindari tumpahan air yang semakin banyak. Kejadian yang dilihat oleh warga itu memunculkan senyum ramah dan tawa kecil dari mereka. Dengan logat khas Timornya mereka mulai mengajari saya memikul air tanpa harus bergoyang dan menumpahkan percik – percik air yang telah dengan susah payah ditimba.
 
Tubuh – tubuh mungil penuh semangat sudah berdiri tegap membentuk barisan rapih. Seorang guru muda berdiri memberi pengarahan dan bimbingan. Ya, pagi itu memang saya memiliki tugas piket. Sebelum lonceng dibunyikan, saya memberikan himbauan, motivasi dan petuah bijak untuk anak – anak pemegang tongkat estafet pendidikan di kabupaten Kupang itu. Siswa yang baru terdiri dari dua rombel itu tampak antusias dengan arahan yang saya berikan. Beberapa menit setelah besi tua itu dipukul sebagai tanda masuk kelas, mulailah saya mengecek kehadiran murid saya satu persatu. Dari binaran matanya, saya melihat keantusiasan yang sangat kuat dalam mengikuti pelajaran yang saya berikan. Walaupun *setengah mati saya harus berusaha menyisipkan pemahaman materi demi materi yang harus saya ajarkan. Dengan sedikit membuka kelas dengan *mother tongue mereka - bahasa Dawan, mulailah saya mengajarkan mata pelajaran bahasa Inggris. Tantangan yang sangat luar biasa ketika saya harus mengajarkan bahasa baru lagi bagi mereka; bahasa Inggris. Padahal bahasa Nasionalpun masih terasa kaku mereka ucapkan. Tapi pepatah “sekeras – kerasnya batu bisa berbekas kalau dipahat terus - menerus” memberikan motivasi kuat bahwa tidak akan sia – sia ilmu yang saya tularkan, saya yakin akan ada ilmu – ilmu yang tertanggal pada anak – anak didik saya nanti, walaupun mungkin tidak seluruhnya terserap.
 
Dari sudut jendela, seorang *bai tampak tergesa – gesa menuju “rumah dinas” saya. Ketika saya membuka pintu dan mempersilahkannya untuk duduk, mulailah dia mengungkapkan maksud kedatangannya itu. Ternyata akan ada acara pernikahan di dekat Gereja, mereka menginginkan saya dan teman – teman guru SM3T untuk menghadiri acara tersebut. Maka diundanglah kami dengan undangan spesial, yaitu datang di sore harinya untuk menyembelih ayamnya dan datang kembali di malam harinya untuk menghadiri pestanya. Sungguh penghormatan yang sangat luar biasa untuk kami kaum muslim. Mereka masih sempat memikirkan kaum minoritas seperti kami, karena mereka tahu kami tidak bisa memakan daging ternak jika bukan kami sendiri yang menyembelihnya. Bahkan dalam hal pelayananpun mereka tahu bahwa makanan – makanan kami tidak boleh tersentuh oleh daging babi. Hingga mereka benar – benar memisahkannya sampai saat penyajiannya. Setelah dilakukan acara adat dengan bahasa Dawan dan acara makan minum selesai, tiba saatnya bagi mereka untuk menggenggap - gempitakan rasa suka cita mereka dengan melenggangkan tubuh dengan sangat lentur. Dari mulai anak – anak yang menari disko, hingga remaja dan orang – orang dewasa yang berdansa ria dengan pengantinnya. Memang terlihat seperti budaya barat, mungkin hanya sedikit terpengaruh mengingat tanah itu pernah terjajah oleh Portugis.
 
Berjalan di atas batu – batu kecil, saya mulai melangkah menuju rumah di dekat sudut lapangan sekolah. Setelah memanggil si empunya rumah, kami bersama – sama menuju kebun kecil di seberang rumahnya. Sawi hijau (mereka menyebutnya sayur putih), kangkung dan tomat serta beberapa tanaman cabai (mereka mennyebutnya dengan kurus/ kunus) tumbuh subur walau didaerah yang sangat panas. Memang para petani di sana harus bekerja dua kali lipat lebih keras mengingat tidak setiap rumah mempunyai sumber air. Sehingga petani harus rela mengangkut air untuk menyiram sayur mayur mereka. Hanya mengeluarkan beberapa rupiah saja, mereka sudah memberikan sayur cukup banyak. Memang bertugas di sana terasa lebih beruntung jika dibandingkan dengan daerah lain. Karena selain sayur – sayuran bisa tumbuh, letak geografis yang dekat pantai membuat sesekali ada pelaut yang menjajakan ikan hasil melautnya, meskipun tidak setiap hari.
 
Malam jum’at itu saya membuka pintu depan. Menjulurkan kaki keluar dan mulai menatap langit tanpa berani mencoba menghitung bintang – bintang yang terlalu banyak bertabur memenuhi langit yang gelap itu, hingga hanya sinar – sinar terang yang tak terhalang awan menembus hingga ke bunga – bunga tulip di sisi balkon kiri rumah itu. Saya mulai membuka kalender yang tahunnya sudah berganti ke angka 2012. Tidak terasa sudah lebih dari setengah perjalanan saya mengabdikan diri mengemban tugas mendidik di daerah terpencil itu. Sudah saya lewati pula puluhan hari jum’at dengan pengalaman – pengalaman berbeda. Sempat saat itu terlintas dengan seutas pertanyaan kira – kira seperti apa hari esok, tantangan seru apa lagi yang akan saya hadapi untuk memenuhi panggilan ibadah wajib sekali dalam seminggu itu. Malampun semakin dingin dan mulai mengharuskan saya untuk menutupkan senyum kecil yang sedari tadi tersungging di bibir saya. Kunci pintu saya hentakkan dan mulailah saya menghempaskan rasa lelah dihari itu dan membawanya ke alam mimpi.
 
Seperti biasa, hari jum’at mengharuskan saya untuk membuka mata lebih pagi dari biasanya. Selepas shalat Subuh dan berkemas. Saya dan seorang teman saya sudah siap menunggu *oto untuk menuju masjid. Telalu pagi memang, rasa dinginnyapun masih sangat terasa hingga menembus kulit meski sudah terbalut jaket tebal lengkap dengan kedua telapak tangan yang terbungkus ketat. Memang musim seperti itu harus benar – benar bisa menjaga kesehatan, mengingat pergantian cuaca dari malam dan pagi yang sangat dingin berganti dengan udara yang sangat panas pada siang harinya. Saya melihat arloji yang menggantung di tangan, jarum jam panjang diangka enam menumpuk diatas jarum pendeknya. Kaki mulai saya ayunkan menaiki oto yang didalamnya sudah berjejal dengan berbutir – butir buah kelapa, pisang dan hasil sumber daya lain. Perjalanan terasa sangat lama dengan jalan batu terjal dan udara pengap dengan debu mesipun masih pagi. Dua jam perjalanan telah membawa kami ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat jum’at. Beruntung musim hujan telah mereda hingga tidak perlu menuntut kami menyeberangi kali (sungai) besar sebelum naik oto, karena tidak mungkin mobil pick up itu menyeberangi sungai sebesar itu. Beberapa saat selepas sholat jum’at, kami kembali menunggu oto untuk pulang. Menit berganti jam, tidak tampak oto muncul. Teman saya terlihat sudah sedikit kesal dan meminta untuk menaiki kendaraan apa saja yang lewat, yang penting bisa sampai. Setelah saya menyetujui usulnya, dari kejauhan tampak kendaraan besar berwarna kuning gading. Ternyata sebuah truk pengangkut pasir melewati jalan itu. Saya lambaikan tangan dan berhentilah truk itu. Setelah meminta ijin untuk menumpang, dengan sigap kami menaiki truk itu dan angin kencang menerpa wajah kami. Pengalaman perjuangan yang sangat luar biasa dan sangat berharga demi untuk menunaikan kewajiban shalat jum’at.
 
Tidak terasa, dua belas purnama telah saya lalui dengan sambutan hangat masyarakat Timor, mempelajari semangat mereka berkebun dan bertani serta ikut merasakan sama – sama duduk dengan tawa tanpa sekat. Hari – hari terakhir sebelum saat penarikan tiba, saya rasakan ikatan semakin kuat. Saya hirup udara sangat dalam dan perlahan. Saya membuka mata, tampak gunung menjulang dan hamparan luas padang rumput sekolah warna cokelat yang sudah mengering. Saya tatap satu persatu wajah murid – murid berseragam lengkap itu. Tanpa terucap kata pisah, air mata mulai menetes. Kaki yang telah saya sentuhkan di tanah itu, yang pernah saya ayunkan meyusuri jalan batu berdebu, yang telah kuabdikan dengan melangkahkannya ke gedung sekolah itu, kini harus saya angkat kembali. Tapi saya akan tetap mengabdikan diri untuk mencerdaskan anak – anak penentu nasib bangsa itu, meski bukan di tempat ini. Tanah Timor, bangkitlah!. Karena saya yakin kamu mampu, mampu melahirkan anak – anak bangsa yang intelek dan berjiwa luhur!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar