Selasa, 09 April 2013

Rantai Cinta (Part 1)


~Terinspirasi dari kisah seorang teman.
Oleh: Munji Hardani, S. Pd
Saat ini aku masih tidak tahu mengapa kami masih keukeuh dengan perasaan masing – masing. Melingkar penuh dalam lingkaran perasaan cinta. Perasaan cinta yang tak akan pernah berujung dan mungkin tak akan terbalas. Kecuali salah satu mengalah – mundur atau merelakan hidupnya menemani orang yang tidak sepenuhnya dia sayang. Begitu kami berempat berombak dalam cerita cinta yang rumit dan tidak berujung. Sebut saja Azza, dia sangat mencintai Novi. Sedang rasa sayang yang Novi punya sepenuhnya dia berikan untukku, hanya untukku. Dan kalau harus jujur kepada diri sendiri, aku sangat menginginkan Cherryl mendampingiku dan menerima curahan kasih sayangku; karena aku memang mencintai Cherryl, entah dari mana perasan itu muncul. Tapi seperti Azza yang mengharapkan Novi, nasibku tak jauh beda. Cherryl seperti tak melirik cowok lain selain Azza. Begitu selama dua tahun kami mengalami dilema pasang surut, ingin mengalah dan putus asa. Namun tak satupun dari kami mengalah untuk ini, karena memang sebenarnya tak ada manusia satupun di dunia ini yang ingin terluka. Apalagi tersakiti yang amat sangat.

Aku mengenal Novi saat dia menginjakkan kakinya pertama kali di bangku kuliah. Aku banyak membantunya, karena sebagai kakak angkatan tentu aku lebih tahu dari pada dia dalam beberapa hal. Keakraban kami bukan hanya sebagai teman, tapi sahabat. Benar – benar mengerti satu sama lain bahkan untuk masalah pribadi. Dia adalah tempatku untuk berbagi banyak hal. Kedekatan yang tak membuat ada keraguan untuk aku bisa berkeluh. Aku tahu segalanya tentang dia, begitupun dia terhadapku. Keakraban ini juga yang mengantarkanku ikut larut dalam kisah cintanya. Dia mulai menuturkan tentang kekasih barunya, dengan segala kebahagiaan yang dia bawa – dengan itu pula aku menimpali dengan pengalamanku hingga aku terus mengingatkannya untuk bisa lebih berhati – hati karena cinta terkadang bisa mengalahkan segalanya termasuk logika. Saat itu dia sedang di atas keindahan cinta hingga tidak terlalu mengindahkan kata – kataku.

Waktu melaju membawa cerita indah untuk hidup Novi, aku ikut bahagia dengan cerita indahnya. Perasaan bahagianya mungkin sedikit mengurangi perhatiannya padaku sebagai seorang teman. Tapi aku pikir, tidak terlalu berlebihan dengan sikapnya. Seseorang yang sedang di mabuk cinta tentu akan merasa sangat bahagia saat bersama dengan orang yang dia cintai. Hingga kadang sikapnya sedikit berubah di mata orang lain. Tapi dia masih sempat bercerita tentang kesibukan yang dia kerjakan bersama Azza dan juga bercerita tentang kisah cintanya ini padaku, itu mengartikan bahwa dia masih peduli dengan temannya; aku. Lewat waktuku yang sedikit berkurang karena kesibukan dia dengan  “teman” barunya itu, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku terus sibuk dengan kegiatanku. Karena aku memang merasa bahwa dia hanya teman, sahabat. Tidak lebih dari itu.

Tidak terasa semester baru telah menghadang dan kali ini merupakan moment istimewa yang dialami setiap mahasiswa semester akhir. Kegiatan yang sangat seru dan mengasyikan karena di sinilah kami mulai dikenalkan bagaimana bersosialisasi dan terjun langsung ke dalam masyarakat. Istilah KKN – Kuliah Kerja Nyata ini memang menuntut mahasiswa untuk bisa beradaptasi dengan kehidupan masyarakat dan mengasah nilai – nilai sosial termasuk dalam hal dalam memanage kelompok kami. Di sela – sela kesibukanku ini, masih sempat aku menemui Novi dan meluangkan diri untuk menikmati waktu dengan dia untuk sekedar melepas penat.

Saat aku kongkow dengan teman – teman termasuk ada Novi juga di sana, tidak seperti biasa dia terlihat asyik mengobrol dengan seorang cowok. Belakangan aku tahu kalau dia itu Azza, kekasih yang membuat hatinya selalu berbunga – bunga. Aku sekedar mengganggukan kepala tanda keramahanku untuk kedua-nya. Kemudian aku bergegas menemui teman – teman lain untuk saling bertukar cerita kami masing – masing. Aku larut dengan obrolan itu dan tidak peduli dengan asyiknya Novi dan Azza; sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara. Lepas pertemuan malam itu dengan pacar Novi, tak mengubah kedekatanku sebagai teman. Bahkan lebih sering kami bersama untuk sekedar saling menemani membeli kebutuhan – kebutuhan kecil. Seperti sore itu, setelah aku mengantarnya ke kos, dia sedikit menyinggung status jombloku yang sudah kusandang lebih dari dua bulan. Dengan sebuah inti yang aku tangkap bahwa dia hendak menjodohkanku dengan teman pacarnya sekaligus temannya juga. Sebut saja namanya Cherryl. Kesibukan KKN aku jadikan sebagai alasan jitu untuk tidak menaggapi penawarannya. Lagi pula status baru ini, sedang aku nikmati – hidup tanpa beban dan keterikatan dengan seorang pacar. Beberapa hari setelah itu, ternyata dia tidak menyerah dan masih menyorongkan Cherryl untuk mengisi kekosongan hatiku. Bahkan alamat jejaring sosialnyapun sengaja dia kasih, namun lagi – lagi aku mengaggapinya dengan datar.

Tidak terasa, waktu KKN tinggal di ujung waktu dan aku mulai siap dengan planning baru; meyelesaikan skripsiku secepat mungkin. Persiapan mengerjakan tugas akhir ini sudah mulai aku garap. Dari mulai mencari hard file literature sampai melalui media internetpun aku telusuri. Di sela – sela mengumpulkan bahan – bahan ini, sesekali aku  membuka situs jejaring social. Iseng, aku membuka alamat Cherryl. Pertama aku ketik namanya dan mulai muncul profilnya, aku terkejut. Ternyata Cherryl terlalu indah untuk diacuhkan. Aku mulai intens mengamati dia. Pelan – pelan perasaan mulai muncul. Dengan segera aku melaju ke kos Novi, aku mulai menyakan semuanya tentang dia. Aku benar – benar penasaran dan ingin bertemu dengan dia. Namun ketika aku utarakan keingginanku untuk bisa lebih dekat dengan Cherryl, saat itu pula aku sangat menyesali sikap acuhku selama ini. Ternyata dia sudah kembali ke kotanya, pindah kuliah di sana. Dia patah hati memilih pulang ke kotanya dari pada melihat mantan kekasihnya bersanding dengan yang lain. Novi mengatakan mungkin hal ini tidak akan terjadi jika dulu aku tidak acuh, datang untuknya dan mengobati kekecewaannya. Benar, saat itu memang Cherryl baru putus. Karena kekecewaan itulah, dia merasa terasing dan memilih meninggalkan kota ini dan pindah ke kota kelahirannya.

Berhari – hari aku merasakan penyesalan yang dalam, aku lampiaskan dengan mengejar skripsiku secepat mungkin. Agar aku bisa punya banyak waktu untuk segera mencarinya, menemui orang yang aku sayang. Iya, “sayang”; entah dari mana perasaan itu muncul, padahal belum pernah sekalipun aku bertatap mata dengan dia. Tapi yang ada dalam pikiranku sekarang hanya Cherryl seorang. Semangatku tumbuh dengan sebuah harapan. Harapan untuk bertemu dengan Cherryl. Semangat yang besar itulah, mendorongku untuk mengejar gelar Sarjanaku sembari mulai meniti karir. Aku melesat dengan karir dan studiku dan dalam kegalauan; penyesalan sikap acuhku yang tidak menanggapi kehadiran Cherryl. Dalam kegalauanku ini, ternyata Novi jauh lebih menderita. Kekasih pujaannya, ternyata sudah mulai jauh berubah. Keindahan yang dulu selalu dia ceritakan, sekarang beralih menjadi curhatan sedih meminta pacuan semangat. Akupun dengan semampuku selalu menghibur dia. Begitu pula dengan dia, berusaha mayakinkanku kalau aku masih punya harapan untuk Cherryl.

Aku terus mencari semua tentang dia. Hingga pada suatu malam, aku mendapatkan nomor teleponnya. Dengan hati bergetar, mulai aku tekan beberapa tombol di selulerku. Tak berani bersuara, kuawalali dengan mengenalkan diri melalui pesan singkat. Ternyata dia membalasku. Bahagianya. Begitu berhari – hari pelan – pelan aku mulai sering menghubunginya. Semangatku terpacu dan lepas kendali hingga semua tidak tepat. Dalam rasaku, aku teralu lama menunggunya. Bahkan sudah kehilangan dengan kepindahannya. Berbagai usaha aku lakukan untuk bisa lebih dekat dengan dia. Pegorbanan waktu dan perasaan, selalu aku lakukan. Tapi baginya, aku hanyalah sosok baru yang belum dia kenal. Aku hanya teman dari teman dia, Novi. Lagi pula aku tak pernah menjumpainya secara langsung. Namun perasaan menggebu mengacaukan semuanya. Aku mengungkapkan perasaanku sebelum aku bertemu dengan dia. Mungkin itu salah, bahkan sangat salah. Tapi aku ingin jujur dengan diriku sendiri dan untuk orang yang aku sayang.

~ bersambung ~

3 komentar:

  1. Saya tidak sabar menunggu kisah selanjutnya...:)

    BalasHapus
  2. kejujuran itu lebih di utamakan dalam cerita yang ada di cerita ini..sebagaimana penulis mengajak pembaca agar mau memahami isi cerita yang ditulis oleh penulis...GP

    BalasHapus
  3. :)
    baca cerita yang lain juga ya....

    BalasHapus